Our Love Is Not A Fanfiction

Annyeong chingu :D

Author comeback~! XDD

Ada yang kangen sama author? *reader geleng-geleng

Ah, biarlah. Sekarang author bakal nge- post FF comeback. FF comeback author kali ini adalah… YulSic! Genre yuri yang romance dan tanpa yadong, mungkin masih nggak cukup untuk mengobati rasa kangen para readers sama update-an author nista yang geje ini ==” Mianhaee *bungkuk

Yang nggak suka sama cople yuri, YulSic, SNSD, atau authornya *duesssh~!* tolong jangan dibaca + di bash ya, arraseyo? ;D

Oke deh, happy reading chingudeul~! :D

\(^.^)/

 “Sica, ayo ikut aku ^^” ucap Yuri senang.

“Ya! Kemana kau akan membawaku, hah?” bentak Jessica pada Yuri. Mereka lalu berhenti di depan sebuah bianglala, lalu menaikinya.

“Nah, ini dia! Aku tahu kau sangat lelah setelah pekerjaan yang banyak, dan kau pasti butuh refreshing. Jadi aku mengantarmu ke taman hiburan ini untuk berkencan. Kau kan’ suka dengan bianglala… Maafkan aku karena aku telah mengedepankan pekerjaan daripada dirimu… Saat itu aku bersaha untuk profesional agar pekerjaanku cepat selesai dan bisa cepat- cepat berkencan denganmu…” tanya Yuri malu- malu.

“Lalu, yang Minho ucapkan padamu itu?” tanya Jessica lagi.

“Dia hanya curhat kalau dia menyukai Taemin… Sekali lagi maafkan aku, Jessica…” ucap Yuri pelan.

Jessica terdiam melihat Yuri. Lalu ia tersenyum sambil menangis. Yuri pun merasa sangat bingung. Ia takut Jessica tidak menyukainya.

“Waeyo, Jessica? Kau tak suka ini?” tanya Yuri sambil menyeka air mata Jessica.

“Ani, aku senang sekali. Rupanya kau masih memerhatikanku. Saranghaeyo, Yul,” ucap Jessica senang sambil memeluk Yuri. Yuri pun balas memeluk Jessica.

“Ne, nado saranghaeyo, Sica ^^” ucap Yuri lembut.

Hari itu juga, kesalahpahaman diantara mereka pun berakhir dengan kecupan manis di dalam bianglala.

THE END

“Yaaah… Ceritanya habis..” keluh Jessica yang sedang berkutat di depan laptopnya. Hari ini SNSD mendapat hari libur selama beberapa hari karena mereka sudah sangat bekrja keras untuk promosi album terbaru mereka, The Boys. Saat libur ini, para member SNSD tenggelam dalam kesibukannya masing- masing, seperti Taeyeon dan Tiffany yang dengan frontalnya pergi kencan ke Paris, kota cinta yang sontak mengundang tanya serta kesenangan bagi para SONE yang sekaligus Royal Family Shipper. Couple duo maknae, Yoona dan Seohyun merayakan annniversary 4 tahun mereka berpacaran, tapi mereka saat ini sedang pergi ke restoran. Hyoyeon yang berpacaran dengan Nicole KARA, sedang mengadakan kunjungan ke studio latihan KARA. Lain halnya dengan Sooyoung dan Sunny. Couple yang tiba- tiba mendapat julukan Selgom dan JB dari Korea karena evolusi potongan rambut Sunny ini sekarang sedang pergi memancing. Mereka memang sering berpetualang keluar dorm. Sedangkan couple YulSic? Apa yang terjadi dengan mereka? YulSic Shipper saat ini patut sedih, karena Yuri sedang mempunyai jadwal pekerjaan yang sangat padat, sedangkan Jessica sekarang ini sedang asyik membaca FF YulSic sendirian di dorm SNSD.

“Aah… FF karangan author Banana Mikan keren- keren yaa… Romance romance gituu..” ucap Jessica sambil cengengesan sendiri *author nge- fly*

“Tapi nggak ada update YulSic baru yaa… Eh, FF ini baru ya? As Twins, They Always Want The Same… Oh, itu FF Jo Twins… Liat WP laen ahh…” ucap Jessica sambil mengetikkan alamat WordPress yang ditujunya di adress bar.

soshisonefanfic.wordpress.com… Ah! Ada! Tapi postingan lama ya… Ah, baca aja deh…”

Jessica pun membaca salah satu FF yang ada di WordPress itu, yang berjudul Slow But Sure, lalu Slow But Sure 2. Tiba- tiba saja chapternya mentok (?) dan belum ada lanjutannya.

“Yaaaa… WP lain deh… soshiyoonhyunshipper.wordpress.com… Eh, ada drabble… Liat ah :D” ucap Jessica girang. FF itu berisi tentang FF Royal Drabble *3*. Jessica hanya membaca sekilas untuk TaeNy dan YoonHyun, tapi begitu YulSic, ia langsung membaca dengan serius. Lalu dia tersenyum- senyum sendiri. Ia lalu tertegun sebentar.

“Tunggu… Couple apa ini? HyoThor? ==” ucap Jessica sambil membacanya. Tiba- tiba dia tertawa tergelak- gelak.

“KYAAAAHAHAHAHAHAAA~ Ini author Winny HI yaa? Hahaha… Lucu banget FF nya~ Bookmark… Bookmark…” ucap Jessica sambil membookmark alamat wordpress itu di laptopnya, kemudian ia mencari FF YulSic lainnya.

Tiba- tiba terdengar suara pintu kamarnya dibuka. Jessica cepat- cepat meminimize layar Mozilla Firefox nya. Rupanya pintu itu dibuka oleh Hyoyeon.

“Ya, kau masih suka baca FF YulSic yadong ya?” ledek Hyoyeon pada Jessica.

“Ani, hari ini aku nggak baca FF yadong kok! Aku hanya baca FF karangan author Banana Mikan, Winny HI, sama author Kkabnyss! Nggak baca yadong :P” bantah Jessica.

“Jjinjja? Tapi aku lihat history- mu, kemaren malam kamu banyak baca FF yadong YulSic :P” ledek Hyoyeon lagi. Kali ini Jessica hanya menjulurkan lidahnya tanda ia kalah.

“Oh ya, bilang sama author Kkabnyss dong, suruh lanjut JYTWA nya =3= Aku nunggu lama banget ga lanjut- lanjut. Sama author Banana Mikan tuh, nggak ada update terus, author Winny HI juga…” ucap Hyoyeon lagi sambil duduk di sebelah Jessica.

“Oke deh… Nanti aku komen di WP mereka… Tapi kan’ katanya mereka bertiga hiatus gara- gara ulangan… Maklumlah masih kecil…” ucap Jessica. Kali ini ia melanjutkan browsing FF lagi.

“Oh iya ya… Udah deh… Kalo mau baca FF yadong lagi, aku nggak akan ganggu kok ;) Asal kau jaga dorm aja ya?” ucap Hyoyeong lagi, “Aku mau dating sama Nicole :D”

“Huu =3= Aku juga mau dating…” rengek Jessica.

“Besok kayaknya kau udah bisa dating deh… Yul besok pulang jam 15.00. Kalau mau, kau jemput dia aja di Incheon. Dia lagi ada job di England kan?” tanya Hyoyeon.

“Ne… Semoga aja besok manager eonnie bolehin aku bawa mobil… Udah lama nih aku nggak bawa mobil :)” ucap Jessica.

“Kalau bawa mobil, kau jangan tidur ya. Aku berangkat dulu ya, Sica. Annyeong higaseyo~” ucap Hyoyeon sambil menutup pintu kamar Jessica.

“Neee~! Jangan lupa tutup pintu!” teriak Jessica. Lalu ia melanjutkan membaca FF lagi hingga SooSun, YoonHyun, dan Hyoyeon kembali datang pada jam 22.00.

“Oy Sica, besok Yul pulang kan? Kau tidurlah. Manager eonnie sudah memberi izin buatmu untuk menjemputnya,” teriak Sooyoung dari luar kamar.

“Yaaa~!” teriak Jessica dari dalam kamar. Saat ini ia sedang asyik membaca FF lainnya.

“Sica baby, aku ada membelikan oleh- oleh untukmu. Ini,” ucap Yuri sambil memberikan sebuah gelang manis yang bertuliskan inisial YR <3 JS.

“Waah… Yuri- yaa… Kau manis sekali… Gomapta ^^” ucap Jessica malu- malu. Tiba- tiba Yuri meraih tangan Jessica dan mencium cepat pipi Jessica. Lalu ia memasangkan gelang itu di tangan kanan Jessica.

“Y… Yul…” ucap Jessica gugup.

“Kau manis sekali, Sica… Padahal kita sudah lama berpacaran, tapi kau masih suka gugup begitu :P” goda Yuri.

“Aaaah~! Kau ini, Yuri- yaa…”

Yuri meraih tangan kanan Jessica dan mencium punggung tangannya.

“Sica… Aku janji akan selalu menjagamu :)” ucap Yuri.

Jessica lalu mengangguk senang.

“Gomapta, Yul… Saranghaeyo…”

“Nado…”

“WOOOY~! SUDAH KUBILANG TIDUUUUR!” teriak Sooyooung yang saat ini sudah berdiri di belakang Jessica yang masih berkutat dengan laptopnya. Jessica pun buru- buru mengemasi laptopnya dan tidur. Sooyoung sangat heran, baru kali ini Jessica sulit disuruh tidur. Padahal dia biasanya tidur dimanapun dia suka.

‘Apa karena tak ada Yul di sisinya, jadi dia tak merasa aman untuk tidur sembarangan?’ gumam Sooyoung dalam hatinya.

“Aah… Sudahlah… Whatever~ Aku mau ke kamar My Lovely Sunsun dulu~” ucap Sooyoung sambil ngeloyor pergi dari kamar tidur Jessica, yang mana pemilik kamarnya kini sudah tertidur dengan pulas.

The next day…

“SICAAAAAAAAAA~! Ini udah jam 14.00! mau tidur sampai kapan! Kau kan’ mau jemput Yul!” teriak Sooyoung di telinga Jessica yang akhirnya terlonjak kaget, langsung mandi, makan roti, dan menyambar kunci mobilnya. Ia lalu pergi menjemput Yuri tanpa pamit. Semua penghuni dorm hanya geleng- geleng kepala.

“Oh ya Soo, kau sudah bilang pada Sica belum kalau pesawat Yuri di pending sampai jam 16.00?” tanya Sunny pada Sooyoung.

“Ah! Belum, chagi! Aku lupa!” ucap Sooyoung sambil menepuk jidatnya sendiri.

“Aish, Soo! Jangan panggil aku chagi! Aku tak suka! >.<” bentak Sunny sambil meninju bahu Sooyoung. Sooyoung pun mengaduh kesakitan. YoonHyun Couple tak menggubris tingkah eonniedeulnya itu, mereka masih sibuk bersiap- siap pergi ke bioskop untuk menonton film Keroro 3D The Movie.

“Ya, kalian semua! Aku mau ke studio latihan Nicole baby dulu ya? Annyeong higaseyo~” ucap Hyoyeon.

“Chagi, gimana kalau kita jalan- jalan lagi?” tanya Sooyoung pada Sunny, “Biar saja Sica berduaan sama Yul, mereka kan’ udah lama kepisah. Gimana?”

“Hmmm… Oke juga, Soo… Ayo, duo maknae, kalian juga sekalian keluar. Kunci cadangan dorm ada sama masing- masing member, kan?” tanya Sunny pada Yoona dan Seohyun.

“Ne, eonnie,” ucap mereka berdua degan kompak. Lalu, bertebaran keluarlah semua member SNSD, kembali dengan kesibukan mereka masing- masing.

Incheon International Airport

“Haah… Akhirnya sampai juga,” ucap Jessica dengan nafas terengah- engah. Sekarang ini dia sedang berlari melintasi lapangan parkir mobil untuk menuju ke bandara. Ia pun lalu menunggu di ruang tunggu di airport. Sambil menunggu, dia membaca lanjutan FF yang dibacanya kemarin, tapi diganggu oleh Sooyoung.

1 jam sudah berlalu. Jessica mulai cemas. Yuri yang dicarinya tak kunjung datang.

‘Mana Yul? Apa pesawatnya pending? Tapi kenapa ia tak memberikan informasi padaku?’ gumam Jessica dalam hati. Sekarang ia tak bisa berkonsentrasi membaca FF. Di dalam pikirannya hanya ada Yuri. Tiba- tiba ia melihat Yuri dari kejauhan. Jessica pun langsung menghampiri Yuri dan memeluknya.

“Yuri- yaa… Aku merindukanmu~” ucap Jessica senang. Tapi Yuri malah melepaskan pelukan Jessica. Jessica pun menjadi bingung.

“Yuri- yaa?” tanya Jessica bingung, “Kau sakit?”

“Ayo pulang…” ucap Yuri sambil menarik tangan Jessica, “Dimana manager eonnie?”

Jessica hanya terdiam.

“Tak ada, aku yang membawa mobil kesini,” ucap Jessica. Lalu mereka berdua terdiam. Begitu terus sampai di parkiran, di dalam mobil, dan di dorm.

At SNSD dorm

“Yul, kau ada bawain sesuatu buat aku nggak?” tanya Jessica malu- malu.

“Mian, Sica. Aku nggak ada bawa apa- apa. Soalnya aku sibuk banget disana, maaf ya,” ucap Yuri singkat sambil mengeluarkan barang- barangnya dari koper. Jessica hanya menggembungkan pipinya tanda kecewa. Ia pikir Yuri akan memberinya kejutan seperti dalam FF yang dia baca. Rupanya dugaannya salah.

‘Sica, bisa jadi ia memberimu kejutan. Seperti di FF author Banana Mikan!’ gumam Jessica dalam hati.

“Yul, malam ini ada acara?” tanya Jessica pelan.

“Ani, wae?” tanya Yuri balik.

“Emmm… Begini… Mau nggak kamu nemenin aku ke taman bermain? Aku mau main bianglala~” rengek Jessica pada Yuri.

“Main, aku capek Sica. Besok saja ya?”

Tiba- tiba Jessica cemberut. Tampak sekali ekspresi tidak senang dari wajah manisnya. Yuri pun menjadi bingung.

“Mwo, Sica? Nuguya?” tanya Yuri pada Jessica. Jessica lalu berlari ke kamar dan menutup pintunya dengan keras. Yuri mencoba menahannya, tapi terlambat. Jessica telah mengunci pintu kamarnya.

“Sica! Sica! Buka pintunya~!” teriak Yuri.

“Tak ada orang!” teriak Jessica dari dalam kamar. Yuri pun semakin bingung.

“Sica! Waeyo? Kenapa kau tiba- tiba marah?” tanya Yuri lagi. Tapi kali ini Jessica tidak menjawab. Pintu itu terus terkunci hingga YoonHyun, SooSun, dan Hyoyeon pulang ke dorm SNSD.

“Yuri eonnie, waeyo?” tanya Seohyun pada Yuri yang masih mengetuk- ngetuk pintu kamar Jessica.

“Ini, Seo… Sica eonnie nggak mau bukain pintu buat Yul eonnie… Aduuuh… Padahal eonnie gak tau loh, eonnie salah apa sama dia…” keluh Yuri pada Seohyun.

“Ooh… Kira- kira Sica eonnie kenapa yah…” pikir Seohyun, “Ah! Mungkin dia kangen banget sama Yul eonnie, jadi mungkin Sica eonnie mau manja- manjaan sama Yul eonnie…”

“Hmm… Bener juga ya?” pikir Yuri.

“Hiyaaaa Yuri… Sica ngambek!” ledek Sooyoung pada Yuri.

“Aih, kau ini! Jangan memperburuk suasana, Soo!” bentak Yuri.

“Uups… Maaf deh… Oh ya, jangan- jangan dia ngambek gara- gara baca FF itu :D” ucap Sooyoung.

“Mwoya? FF apa?” tanya Yuri.

“Waktu kau pergi, kami semua kan’ pergi kencan… Dia suka baca FF YulSic sendirian di rumah, FF romance lah, apa lah… Malahan FF yadong pun dia baca saking kangennya sama kamu,” ucap Sooyoung sambil menempeleng pelan kepala Yuri.

“Mwoya… Dia… Segitu kangennya sama aku?” tanya Yuri.

“Ya iyalah, Yul baboo… Aku aja nggak ketemu Nicole sehari aja serasa neraka =3=” sambung Hyoyeon dari kejauhan.

“Iya, kita pasti bakal kangen setengah mati kalau nggak bisa ketemu sama pasangan kita :)” ucap Sunny yang kemudian dirangkul oleh Sooyoung.

“Ne, sebaiknya kau bujuk Sica eonnie baik- baik ^^” ucap Yoona.

“Gomapta, teman- teman :’)” ucap Yuri senang. Tekadnya pun semakin kuat uuntuk meluluhkan hati Jessica. Ia lalu mengetuk pintu itu lagi. Tapi kali ini ketukannya lebih lembut.

“Sica baby, buka pintunya…” ucap Yuri dengan suara husky nya. *author nosebleed

Perlahan pintu itu dibuka. Tampaklah Jessica yang mengintip dari balik pintu.

“Sica baby, mianhae… Hari ini aku capek sekali… Mungkin… Pertemuan kembali kita nggak seromantis cerita- cerita di FF, atau aku pun nggak bisa memberikankamu barang yang indah seperti yang kau baca di FF itu… Tapi… Kau harus tahu, biarpun kisah cinta kita tak selalu mulus, aku tetap akan selalu mencintaimu. Kau tahu? Kalau tidak ingat ada kau yang menungguku di Seoul, mungkin aku akan bunuh diri di England karena rindu padamu. Kota indah pun serasa neraka kalau nggak ada kamu ;)” gombal Yuri pada Jessica.

“Woi, itu kata- kataku!” teriak Hyoyeon dari kejauhan. Melihat itu, Jessica tertawa kecil sambil meninju bahu Yuri.

“Awww… Neomu apphayeo~ >.<” ucap Yuri sambil mengelus- elus bahunya.

Tiba- tiba Jessica memeluk Yuri dengan lembut. Semua member SNSD yang ada disana sangat kaget melihat tingkah frontal Jessica.

“Si… Sica…” ucap Yuri gugup.

“Yuri- yaa… Mianhae, aku terlalu egois… Aku selalu mengharapkan kisah cinta yang indah akan terjadi pada kita berdua suatu saat nanti, tanpa memikirkan kondisimu yang saat ini sedang lelah… Maafkan aku ya, Yuri- yaa…” ucap Jessica lembut, “Tapi…”

Jessica melepaskan pelukannya dengan cepat, lalu menunjuk tepat di wajah Yuri.

“Darimana kau tahu kalau aku suka membaca FF YulSic, Kwon Seobang?” bentak Jessica dengan gaya ahjummanya yang galak, tapi menurut Yuri, sebenarnya gaya seperti itu sangat cute dan pas untuk Jessica. Yuri pun bergidik ngeri melihat perubahan mood Jessica yang cepat.

“Eh?! I… Itu… Sooyoung yang memberitahuku tentang hal itu, hehehe… :D” ucap Yuri. Tatapan tajam Jessica pun beralih ke arah Sooyoung.

“CHOI SOOYOUNG! I’LL GOT YOUUUU~!” teriak Jessica.

Tiba- tiba saja ada yang mengetuk pintu dorm SNSD. Otomatis Sooyoung yang sedang berlari dari kejaran Jessica itu membukakan pintu. Rupanya itu adalah TaeNy Couple.

“YA! KALIAN! KENAPA KALIAN DITELEPON NGGAK JAWAB- JAWAB? AKU DAN TAENGOO BABY JADI NAIK TAKSI KAN? KITA DATANGNYA SAMAAN SAMA YUL TADI!” teriak Tiffany menggelegar.

“MANA SI KWON YUL! MENINGGALKAN KITA SEENAKNYA! KUBUNUH DIA!” teriak Taeyeon tak mau kalah. Yuri tersentak kaget.

“Sica baby! Ayo kita sembunyi di kamarmu!” bisik Yuri pada Jessica yang hanya mengangguk, lalu mereka berdua berlari ke kamar Jessica dan mengunci pintunya. Sekarang giliran TaeNy Couple yang merusuh di dorm. Member SNSD yang lainnya hanya bisa geleng- geleng kepala melihat ulanh mereka.

Jessica’s room

“Sica, ngomong- ngomong kau baca FF apa aja sih?” tanya Yuri pada Jessica.

“Ah?! Aku baca FF karangan author Banana Mikan, Winny HI, sama Kkabnyss…” ucap Jessica. Yuri pun mengangguk- angguk tanda mengerti.

“Eh, Sica baby, sini dulu…” ucap Yuri sambil menyuruh Jessica duduk di sebelahnya. Jessica pun duduk di sebelah Yuri.

“Biarpun mereka dan semua orang membuat FF yang manis- manis speerti itu… Cerita cinta asli kita jauuuuh lebih manis daripada yang mereka bayangkan :*” ucap Yuri senang sambil mencium pipi Jessica.

“Ah… Benar juga sih, Yuri- yaa… Saranghaeyo~” ucap Jessica sambil memeluk Yuri.

“Nado ^^” ucap Yuri senang.

Jessica, i’ll always love you…

Whenever… Wherever you are… Our love is everlasting…

Because our love is not a fanfiction… Always everlasting…

Forever :)

Diluar kamar

“Ah, sudahlah, Fany- aa… Biarkan saja mereka ^^” ucp Taeyeon menenangkan Tiffany yang masih menggedor- gendor pintu kamar Jessica.

“Iya juga ya…” ucap Tiffany, “Mereka juga kan’ sudah lama nggak ketemu…”

“Oh ya, tadi ada cerita YulSic moment yang seru lo,” ucap Hyoyeon pada mereka berdua.

“Mwoya? Bagaimana ceritanya?” tanya TaeNy serempak.

“Ayo ke meja makan. Kita makan sambil cerita :)”

THE END

Ending nya geje banget ya? Mianhae readers… Soalnya kepala author mumet- mumet banget… Habis ulangan… ==”

Mianhae kalau banyak kesalahan, baik itu miss typo, ending nggak jelas, atau apalah… Soalnya saya masih newbie gitu u,u

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

Telepathy

Annyeong chingu! :D

Wah, akhir- akhir ini author jadi suka banget nih bikin FF Twincest a.k.a Couple Anak Kembar, alias Jo Twins dari BB Boyfriend (Youngmin dan Kwangmin)

Kali ini genre nya Yaoi lagi, dan ini bisa dibilang FF sambungan dari FF Twincest kemaren, yaitu Devilish Cinderella —> klik langsung kalau mau baca ^^

Bagi yang nggak suka yaoi, pairing Twincest, atau nggak suka sama autornya *aigoo~* diharapkan nggak membaca dan jebal, jangan BASH, ok?

Jangan lupa RCL yaa *maksa*

Oke deh chingudeul, happy reading aja yakk~! ^^/ *bow

\(^.^)/

“Eh eh! Barusan aku baca buku bagus loh :D” ucap Minwoo pada Youngmin, Kwangmin dan Jeongmin yang sedang makan siang.

“Hm? Buku apa?” tanya Jeongmin.

“Hihihi… Buku ini!” ucap Minwoo sambil menyodorkan sebuah ensiklopedia yang sangat tebal. Jeongmin, Youngmin dan Kwangmin hanya menatap buku itu dengan tatapan kosong.

“Itu… Buku yang kau bilang menarik?” tanya Jeongmin sambil menunjuk buku itu dengan bingung.

“Ne ^^”

“Tebalnya… Seperti kamus…” ucap Kwangmin dengan bingung.

“Kalau aku yang baca, mungkin satu tahun baru selesai ._.” ucap Youngmin sambil menirukan wajah Rilakkuma. Minwoo yang merasa buku yang dipegangnya itu sangat menarik, malah sangat bingung melihat reaksi mereka bertiga yang kini hanya memasang tampang datar.

“Iih… Kalian ini! Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya tauuu~” omel Minwoo pada mereka bertiga.

“Jangan menilai buku dari sampulnya yang koyak, kumal dan berdebu,” sambung Youngmin yang sukses membuat ceramah Minwoo makin panjang.

“Ya! Youngmin hyung! Jangan mentang- mentang aku maknae disini, lalu seenaknya menyambung kata- kataku yah!” omel Minwoo lagi sementara Youngmin menirukan ekspresi wajah Minwoo yang aneh. Kwangmin dan Jeongmin hanya tertawa kecil melihat tingkah aneh mereka berdua.

“Yasudah, buku itu memang sepertinya menarik. Bisa kau ceritakan apa yang kau baca di buku itu sambil makan siang?” tanya Jeongmin pada Minwoo dengan ramah.

“Nah, begitu dong! Jo Twins, kalian harus mencontoh sikap baik Jeongmin hyung!” nasehat Minwoo sekali lagi. Youngmin kembali menirukan gaya bicara Minwoo sementara Kwangmin hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Jeongmin hyung, buku ini menarik banget loh! Ada pembahasan tentang Black Hole! Ada juga tentang indera keenam loh :D” ucap Minwoo antusias.

“Jjinjja? Trus ada apa lagi?” tanya Jeongmin sambil mencampur bumbu spaghettinya.

“Hmmm… Oh ya! Ada pembahasan tentang kemampuan telepati anak kembar loh!” ucap Minwoo antusias. Spontan Youngmin dan Kwangmin menoleh ke Minwoo dengan ekspresi setengah tak percaya.

“Mwo? Benarkah? Apa aku bisa… Telepati dengan Youngmin hyung?” tanya Kwangmin ragu- ragu dengan wajah memerah, pasti karena malu. Minwoo hanya mengangguk.

“Ne. Tapi kau sudah pernah mencobanya dengan Youngmin hyungmu belum?” Minwoo bertanya balik.

“Mwoo? Youngmin hyung… ku…” ucap Kwangmin terbata- bata dan wajahnya tampak memerah.

Ne. Waeyo? Apa ada yang salah dengan kalimatku?” tanya Minwoo lagi, dan kali ini dibalas dengan gelengan pelan oleh Kwangmin. Youngmin hanya memperhatikan mereka dengan wajah serius.

“Kau sedang memikirkan apa, Youngmin?” tanya Jeongmin.

“Youngmin hyung sedang mencoba untuk mengirim telepati pada Kwangmin?” tanya Minwoo antusias. Youngmin menggeleng, masih dengan wajah yang serius.

“Bukan… Aku bukan sedang melakukan itu… Aku memikirkan hal lain…” ucap Youngmin serius. Kali ini atmosfernya benar- benar tegang sehingga Jeongmin, Minwoo, dan Kwangmin benar- benar merasa sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan Youngmin.

“Jadi, apa yang kau pikirkan?” tanya Jeongmin yang intonasinya telah berubah menjadi cukup serius.

“Aku hanya memikirkan… Telepati itu apa sih?” tanya Youngmin pada 3 orang yang hanya mematung begitu pertanyaan Youngmin melayang ke telinga mereka masing- masing. Seketika itu juga Youngmin membuat 3 orang kecewa dalam sekejap.

“Jadi sejak tadi kau tak tahu apa yang kami bicarakan?” tanya Jeongmin dengan ekspresi bingung.

“Eung~” ucap Youngmin sambil mengangguk.

“Dasar payah… Youngmin hyung… Yang namanya telepati itu berasal dari kata tele (τηλε) yang berarti jauh dan kata pathos (πάθεια) yang berarti perasaan. Jadi, telepati merupakan suatu kemampuan untuk merasakan segala sesuatu dari jauh. Kemampuan tersebut dapat melakukan proses pemindahan dan pembacaan pikiran dengan pengertian yang sama. Hanya dengan menggunakan pikiran, orang yang bertelepati dapat saling berhubungan dan menyampaikan informasi di antara satu sama lain tanpa terikat jarak dan waktu, gitu…” ucap Minwoo panjang lebar, “Sudah ngerti sekarang?”

“Ya, aku udah ngerti. Ooh… Jadi anak kembar itu bisa telepati yah?” tanya Youngmin lagi.

“Sebenarnya nggak semua anak kembar bisa telepati, tapi biasanya sih begitu,” ucap Minwoo.

“Ooh… Gitu yah… Kira- kira kita bisa nggak ya, Kwangminnie?” tanya Youngmin sambil menoleh ke arah Kwangmin. Kwangmin yang merasa kaget tiba- tiba saja wajahnya memerah dan berpaling dari Youngmin.

“Mwo? Kwangminnie? Kau kenapa?” tanya Youngmin bingung sambil memegang bahu Kwangmin. Lalu Kwangmin menoleh lagi.

“Hmm… Aniyo, hyung… Nggak ada apa- apa ^^” ucap Kwangmin gugup.

“Serius?” tanya Youngmin lagi untuk memastikan.

“Ne, beneran. Nggak ada apa- apa, Youngmin hyung~” ucap Kwangmin lagi.

“Kita bisa nggak ya… Telepati…” ucap Youngmin.

“Mwo? Mo… Mollayo, hyung…” ucap Kwangmin.

“Oh ya, kalau mau, kalian aku bacakan deh gimana proses telepati itu. Mau nggak?” tanya Minwoo. Youngmin dan Kwangmin langsung menyetujuinya.

“Oke. Aku baca yaa. Di dalam dunia metafisik, kemampuan tersebut digolongkan ke dalam ESP atau Extra Sensory Perception. Konsepnya adalah adanya proses penghantaran gelombang elektromagnet berfrekuensi rendah antara satu pikiran dengan pikiran yang lain. Ketika gelombang elektromagnet tersebut berhasil mengirimkan sinyal dari otak yang telah terfokus, maka orang yang telah menerima sinyal tersebut berarti memiliki frekuensi yang sama dengan orang yang mengirimkan sinyal atau orang yang melakukan telepati,” ucap Minwoo, lalu menutup buku tebal itu dan kembali makan.

“Oh… Jadi kayak Bluetooth ya…” ucap Youngmin pada dirinya sendiri. Kwangmin hanya melanjutkan makan siangnya. Sepertinya ia tak tertarik dengan pembahasan mereka, berbeda dengan Youngmin, hyungnya yang sepertinya tertarik dengan apa yang dibahas Minwoo.

“Ya, dari tadi kalian bicara terus. Kapan mau makan, hah? Bentar lagi masuk loh,” ucap Jeongmin yang rupanya sudah menyelesaikan makannya beberapa waktu lalu. Minwoo dan Jo Twins pun menyelesaikan makan siang mereka dengan terburu- buru, kemudian masuk ke kelas mereka.

Jam demi jam pelajaran akhirnya selesai. Jeongmin, Minwoo, Youngmin dan Kwangmin pun bersiap untuk pulang.

“Minwoo, hari ini kau pulang bareng denganku kan?” tanya Jeongmin pada Minwoo yang masih berkemas.

“Ne, tak apa kan? Aku main di rumahmu dulu sebentar ya, hyung? Orangtuaku pulang malam hari ini,” ucap Minwoo sambil ber- aegyo.

“Ne, arraseyo. Aku ke tempat parkir duluan ya? Nanti kau tunggu saja di depan gerbang sekolah, ne?” tanya Jeongmin pada Minwoo yang hanya mengangguk.

“Aduuh~ Aku mau pipis~” ucap Youngmin kalap, “Kwangminnie, temani hyung ke WC doong~ Yuk ahh~”

“Aaaah~ Ani, hyung >.<;;” ucap Kwangmin yang wajahnya memerah.

“Hmmm… Arraseyo… Kau tunggu disini dulu ya, Kwangminnie?” ucap Youngmin yang kemudian ngeloyor pergi. Kwangmin hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tiba- tiba ia bicara pada Minwoo.

“Minwoo, boleh nggak aku pinjem buku yang ada telepati- telepatinya itu sebentaaar aja! Boleh nggak? Pleaseee…” ucap Kwangmin sambil memohon dengan penuh penghayatan. Minwoo hanya tersenyum.

“Aaaa… Kwangmin mau menyatakan perasaan sama Youngmin hyung lewat telepati yaa~” goda Minwoo yang berhasil membuat wajah Kwangmin memerah tak karuan.

“Aaaah~ Mana adaaa~! Aku Cuma mau tau lebih banyak tentang telepati aja… Boleh yaaa?” mohon Kwangmin yang wajahnya masih memerah.

“Hmmm… Arraseyo, arraseyo… Ini dia, silakan dipelajari yah ^^” ucap Minwoo senang sambil menyodorkan buku itu ke arah Kwangmin, lalu Kwangmin memasukkan buku itu ke ramselnya dengan segera. Tak lama kemudian Youngmin datang dan langsung merangkul Kwangmin dari belakang.

“Kwangminnie~ Ayo kita pulang :D” ucap Youngmin ceria, “Pipisnya udah keluar semua nih, ehehehee :3”

“Idih hyung… >,<” ucap Kwangmin dengan wajah memerah.

“Aih… Kalian menjijikan… ==; Aku mau ke parkiran dulu deh, Jeongmin hyung sudah menungguku, oke? Annyeonghi gaseyo,” ucap Minwoo sambil berlari keluar kelas. Youngmin dan Kwangmin hanya melambai ke arah Minwoo.

“Ayo, kita juga pulang, Kwangminnie ^^” ucap Youngmin yang masih merangkul Kwangmin yang hanya mengangguk dengan malu.

At Jo Twins’ house…

“Annyeong haseyo~” ucap Youngmin dan Kwangmin bersamaan sambil memasuki rumah mereka. Sepi.

“Mm… Nggak ada orang ya? Annyeongg~ Annyeongg~” teriak Youngmin.

“Ne, sepertinya memang nggak ada appa dan umma, Hyunmin juga nggak ada ._.” ucap Kwangmin pelan. Sekarang dia malah jadi gugup sendiri karena hanya dia dan Youngmin saja yang ada di rumah.

“Hmmm… Arraseyo… Hyung mau mandi dulu, ne? Habis itu hyung mau nonton TV. Ada film hebat yang harus hyung tonton,” ucap Youngmin sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa di depan TV.

“Acara apa, hyung?” tanya Kwangmin.

“Winnie The Pooh ^^”

“Hmmm… Kalau begitu, Kwangmin mau nonton DVD Pokemon di kamar ah! Bye, hyung~” ucap Kwangmin sambil berlalu. Tiba- tiba Youngmin menarik tangan Kwangmin.

“Tunggu!” ucap Youngmin. Kwangmin pun berbalik ke belakang dan kini wajah mereka berdekatan. Kwangmin menjadi semakin berdebar- debar.

“A… Ada apa, hyung?” tanya Kwangmin dengan gugup.

“Ini… Hyung punya DVD Pokemon yang terbaru, nih,” ucap Youngmin sambil menyodorkan DVD itu pada Kwangmin, tapi satu tangannya masih menggenggam tangan Kwangmin, dan wajah mereka masih berdekatan. Tiba- tiba saja Youngmin mengecup dahi Kwangmin lembut. Kwangmin hanya diam mematung karena ulah hyung nya itu. Wajahnya kembali memerah tak karuan.

“Ah… Uh… Mm… Hyung… A.. Aku… Ke… Kamar… Du… Lu…” ucap Kwangmin gugup. Sekarang bukan hanya gugup, dia bahkan menjadi gagap. Youngmin tersenyum melihat tingkah dongsaengnya yang amat manis itu.

“Hahaha… Dasar Kwangminnie… Neomu kyeopta >.< Sudah sana ^^” ucap Youngmin sambil menepuk bahu Kwangmin yang kemudian berlari menuju lantai atas dan mengunci pintu kamarnya. Segera direbahkannya tubuh mungilnya itu ke atas kasurnya. Ia memejamkan matanya dan kemudian teringat akan buku yang dipinjamnya dengan Minwoo. Kwangmin pun membuka tasnya dan mengambil buku tebal itu, lalu membacanya perlahan- lahan.

  • Keyakinan dan kepercayaan diri merupakan hal utama yang perlu disiapkan. Hal ini disebabkan karena telepati menggunakan bagian tingkat sadar pikiran yang melibatkan emosi secara rileks baik sebagai pengirim atau penerima.
  • Berkonsentrasi selama beberapa saat pada bayangan pikiran yang hendak dikirimkan kepada penerima. Kemudian fokuskan pikiran bahwa pengirim sangat ingin memproyeksikan pesan dan informasi tersebut ke tempat penerima.
  • Kemudian konsentrasikan bahwa si penerima pesan di beberapa tempat yang jauh, dapat menerima pesan tersebut. Jangan lupa untuk memberikan segenap perasaan emosi pada saat berkonsentrasi dan mengirimkan pesan secara telepati. Kekurangan dari nilai emosional atau jika tanpa ada perasaan emosi yang menyelubungi pesan akan menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam proses telepati.
  • Beberapa hal yang menjadi catatan penting ialah semua bagian tubuh dan pikiran haruslah rileks meskipun tetap berkonsentrasi dengan tingkat keheningan yang semakin dalam. Pada saat mencapai kondisi atau keadaan rileks dan santai secara fisik dan pikiran, maka pengirim telepati akan mendapatkan gambaran mental yang jelas, beserta balutan emosi yang tercipta di sana. Gambaran mental tersebut dapat terus dilatih seiring dengan kemauan dan kemampuan kekuatan imajinasi pengirim. Hal ini menyebabkan pengirim mampu membentuk dan menggambarkan pesan kepada penerima dengan sejelas mungkin, yang selanjutnya akan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar dan bisa digunakan berulang-ulang.

“Hmmm… Rupanya memang agak susah yah ==” ucap Kwangmin setelah membaca sebuah bahasan tentang teknik telepati, “Kira- kira aku dengan Youngmin hyung…”

Wajah Kwangmin seketika memerah. Ia lalu menggeleng- gelengkan kepalanya sendiri sekuat tenaga.

“Aniii~! Aku dan Youngmin hyung memang mungkin bisa telepati… Tapi… Masa’ aku harus menyatakan perasaan sukaku pada hyung melalui telepati… Kok aku jadi kepikiran kata- kata si Minwoo aneh itu siih u,u” ucap Kwangmin pelan. Ia lalu bayangan dirinya sendiri yang terpantul di sebuah cermin besar.

“Jo Kwangmin, bagaimana kalau nanti hyungmu diambil oleh orang lain?” tanya Kwangmin pada dirinya sendiri. Kemudian wajah Kwangmin kembali memerah dan menggeleng- gelengkan kepalanya lagi.

“Repot juga ya kalau aku terlahir sebagai kembarannya Youngmin hyung…” ucap Kwangmin.

“Mwo? Kenapa?” tanya Youngmin yang ternyata telah membuka pintu kamar Kwangmin. Tubuh dan rambutnya masih basah dan hanya berbalut handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Kwangmin kaget bukan main, dan bisa ditebak, wajahnya kembali memerah seperti kepiting rebus.

“Mwo? A… Apanya?” tanya Kwangmin gugup.

“Kau bilang tadi, kau repot terlahir sebagai kembaranku. Kenapa Kwangminnie? Apa aku sebegitu merepotkanmu?” tanya Youngmin lembut sambil duduk di sebelah Kwangmin dan menyandarkan kepalanya di bahu Kwangmin. Kwangmin tak bisa bergerak.

“Ani, hyung… Aku… Hanya menyayangimu, itu saja…” ucap Kwangmin pelan. tiba- tiba Youngmin menyingkirkan kepalanya dari bahu Kwangmin dan ia duduk dengan tegak. Wajahnya makin mendekat ke wajah Kwangmin. Tangan Youngmin yang masih basah itu dikalungkannya di bahu Kwangmin. Bibir basah Youngmin semakin mendekat ke pipi Kwangmin.

“Hyung! Hentikan! Berpakaianlah dulu, dasar babo~!” ucap Kwangmin sambil menyentuh bahu Youngmin lalu menolaknya pelan. Seketika wajah Youngmin memerah.

“Wae, hyung?” ucap Kwangmin khawatir.

“Ani,” ucap Youngmin sambil berlalu, “Kau masih mau disini? Hyung ingin berpakaian…”

“Arraseyo, aku keluar!” bentak Kwangmin sambil meninggalkan kamar dan menghempaskan pintu sekencang- kencangnya. Youngmin hanya menatapnya bingung. Ia tahu, ini semua pasti salahnya.

“Mianhae, Kwangminnie…” ucap Youngmin singkat. Tiba- tiba ia menemukan sebuah buku tebal diatas kasur yang sejak tadi diduduki Kwangmin. Ia pun mengambil dan membolak balik halaman buku itu.

“Ooh… Jadi begitu yah :)”

Kwangmin POV

Ah, kenapa ini! Tadi aku merasa senang saat hyung hampir melakukannya padaku, tapi saat dia telah melupakannya dan tak berusaha menyerangku balik, kenapa aku jadi kesal setengah mati padanya? Aih! Dasar Kwangmin babo! Gimana mau telepati sama hyung nanti… Ah iya! Bukunya kan kutinggal di kamar! Aigoo… Gimana kalo hyung keburu baca duluan? Habislah aku!

Kwangmin POV End

Kwangmin yang tadinya berada di lantai bawah pun berlari menaiki tangga, dan saat akan membuka pintu kamar, ia sudah berhadapan dengan Youngmin yang baru saja keluar kamar.

“Hyung… Ada lihat…” ucap Kwangmin terbata- bata.

“Lihat apa? Aku tak lihat apa- apa di kasurmu ^^” ucap Youngmin ramah.

“Jjinjja?”

“Eung ^^”

“Arraseyo, aku ingin sendirian di kamar ya, hyung,” ucap Kwangmin sambil menutup pintu kamarnya.

“Hmmm… Excited sekali dia tentang buku itu… Aku tahu kok disitu ada pembahasan Pikachu :D” ucap Youngmin senang sambil menuruni tangga.

Sementara itu, Kwangmin mulai membaca dengan baik dan akan mengatur eksperimen pertamanya besok. Ia harus membuat hyung nya merasakan perasaan yang nyaman terhadapnya, jadi ia bisa bertelepati dengan lancar.

The next day…

Jam 05.30

“Huaaamm~” suara besar dan serak Youngmin membahana ke seluruh ruangan di kamar itu. Ia masih tak enak hati soal kejadian Kwangmin kemarin. Ia melihat ke sebelahya. Ngomong- ngomong, kemana Kwangmin?

“Morning hyung~!” ucap suara manis itu dari balik pintu kamar. Ya, itu adalah Kwangmin. Dia sudah rapi, mengenakan seragamnya dan terlihat jelas kalau ia baru saja mandi. Youngmin tersenyum, tapi masih dengan tak enak hati.

“Saatnya untuk morning kiss, Youngmin hyung :*” ucap Kwangmin sambil memonyongkan bibirnya di depan wajah kusut Youngmin, tapi tiba- tiba Kwangmin berhenti.

“Hem… Sepertinya aku belum bisa memberimu morning kiss, hyung~ Kau masih bau… Ayolah, hyung mandi yah?” bujuk Kwangmin senang. Rupanya wajah datar Youngmin sejak tadi itu bukan tanpa alasan. Dari tadi ia sedang berpikir.

‘Kenapa hari ini Kwangminnie begitu berbeda? Apa hari ini aku ulang tahun? Ah, ani… Ulangtahunku kan ulangtahunnya juga… Lalu sejak kapan dia meminta morning kiss? Kadang saja aku memaksanya mati- matian untuk mendapatkan morning kiss itu..’ gumam Youngmin dalam hatinya.

“Ya, hyung? Ayolah, kalau kau ingin morning kiss…” kata- kata Kwangmin belum selesai saat tiba- tiba Youngmin melesat ke WC dengan kecepatan cahaya. Kwangmin hanya tersenyum senang. Sejauh ini rencananya berhasil.

“Kutunggu di ruang makan ya, hyung… Saranghaeyo, chuu~” ucap Kwangmin sambil memberikan hyung nya sebuah kiss bye, lalu keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke ruang makan.

Tak lama kemudian, Youngmin sudah berpakaian dan turun ke lantai bawah untuk sarapan, dan alangkah senangnya dia ketika dia tahu kalau makanan yang akan dimakannya untuk sarapan pagi ini adalah pasta, makanan favoritnya. Youngmin pun tiba- tiba menjadi heboh sendiri.

“KYAAAAAA~ PASTA1 ADA POTONGAN KEJUNYA! KYAAAAA! WAJAH WINNIE THE POOH ADA DI PASTAKU!” teriak Youngmin. Kwangmin hanya tersenyum senang. Tiba- tiba Youngmin berlari ke arah Kwangmin dan mencium pipinya singkat.

“Gomapta, Kwangminnie ^^ Maaf soal kemarin ya?” ucap Youngmin.

“Ne, aku juga minta maaf, hyung… Ayo kita makan bareng :)” ucap Kwangmin senang. Youngmin pun mengiyakannya. Mereka berjalan bersama dan duduk di depan meja makan, kemudian mereka makan sarapan pagi mereka yang indah bersama. Setelah selesai, mereka pun berjalan kaki pergi ke sekolah. Di perjalanan, ia bertemu dengan Minwoo yang berjalan kaki sendirian.

“Annyeong Jo Twins!” sapa Minwoo ramah.

“Annyeong!” ucap Youngmin dan Kwangmin bersamaan.

“Kwangmin! Gimana? Apa kau sudah berhasil?” tanya Minwoo sambil memukul bahu Kwangmin. Kwangmin kaget bukan main.

“Berhasil apanya? Kalian merencanakan sesuatu?” celetuk Youngmin. Minwoo pun baru sadar kalau ada Youngmin disana.

“Menggambar Pikachu dan Bulbasaur itu… Kau berhasil nggak, Kwangmin?” tanya Minwoo sambil memberikan isyarat untuk Kwangmin.

“Aku belum sempat menggambarnya… Aku lelah sekali~” ucap Kwangmin sambil ber- aegyo. Youngmin pun tersenyum, lalu ia membelai kepala Kwangmin pelan.

“Kalau kau capek, jangan pernah paksakan, oke?” ucap Youngmin pelan. kwangmin yang wajahnya memerah hanya mengangguk sambil tertunduk malu.

“Nah kan… Mulai manja- manjaan lagi… Aich =3=” cibir Minwoo pada keduanya.

“Suka- suka kami dong… Kau juga kalau mau, sana manja- manjaan sama Jeongmin :P” goda Youngmin dan sukses membuat si namja kecil yang digelari maknae itu naik pitam dan melempar Youngmin dengan boneka beruang kecilnya.

“Auuwww… Kok nggak sakit yaa :P” ledek Youngmin yang membuat Minwoo semakin marah. Tiba- tiba Jeongmin lewat dengan menggunakan motor.

“Hoi semuanya, pagi- pagi begini udah kelahi. Dasar! Yuk Minwoo! Kamu bareng aku aja. Sini naik motor,” ucap Jeongmin. Minwoo hanya menurut.

“Kejar kami kalau bisa :P” ledek Minwoo pada Youngmin.

“Hehehe, oke :P” ledek Youngmin balik. Tiba- tiba Youngmin berlutut membelakangi Kwangmin.

“Ayo naik ke tubuhku, Kwangminnie! Kita kejar dia :D” ucap Youngmin.

“Ah.. Ta… Tapi hyung…” ucap Kwangmin malu- malu.

“Ayolah~ Tadi kan’ kekuatan hyung udah 100% fully charged oleh pasta Winnie The Pooh yang lezat buatanmu itu :9” ucap Youngmin, “Kajja, Kwangminnie?”

Kwangmin pun naik ke atas tubuh Youngmin dan Youngmin mulai berlari ke sekolah menggendong Kwangmin. Akhirnya mereka mampu mendahului Jeongmin dan Minwoo.

“Hahaha… Kalian lucu sekali,” tawa Jeongmin saat mereka berempat berjalan menuju ke kelas.

“Hehehe… Begitulah… Ya kan, Kwangminnie? Hyung tau kalau kau sudah membuatkan hyung pasta yang enak itu, pasti hyung bisa menggendongmu :D” ucap Youngmin senang sambil merangkul Kwangmin yang hanya mengangguk.

“Akhir- akhir ini kalian so sweet banget deh. Ada apa nih?” selidik Jeongmin dengan wajah licik.

“Ah, ani, nggak ada apa- apa, hyung…” ucap Kwangmin pelan.

“Ne, kami memang so sweet tiap hari kok O.O” ucap Youngmin dengan wajah anehnya.

“Jangan- jangan kalian…” ucap Minwoo.

“Apa? Kau ini, bilang saja kalian iri dengan kemesraan kami kan? :P” ledek Youngmin pada Jeongmin dan Minwoo.

“Sialnya, ya. Kau benar,” ucap Jeongmin sambil terkekeh geli. Minwoo hanya diam.

“Kau kenapa, Minwoo?” tanya Jeongmin.

“Ani, hyung. Gak ada apa- apa,” ucap Minwoo singkat.

Tak lama kemudian mereka masuk ke kelas dan belajar. Pelajaran demi pelajaran mereka lewati. Tak terasa waktu pulang sudah tiba. Semua murid pun berkemas- kemas dan pulang. Di kelas tinggal Kwangmin, Minwoo, Youngmin dan Jeongmin saja yang masih berkemas- kemas. Tiba- tiba Minwoo yang adalah teman sebangkunya Kwangmin bertanya pada Kwangmin.

“Kwangmin, kau sudah coba telepati sama hyungmu belum?” tanya Minwoo.

“Ani, sepertinya sulit sekali ==” ucap Kwangmin lemah.

“Kau jangan menyerah dulu, aku yakin kau pasti bisa ^^d”

“Jjinjja?”

“Ne, kajja! Ayo kau coba ^^”

Kwangmin pun mulai melihat ke arah Youngmin, hyung nya yang masih asyik mengobrol dengan Jeongmin. Kwangmin pun  mulai memusatkan pikirannya pada Youngmin, hanya Youngmin seorang. Dia meningkatkan konsentrasinya dan dia menghirup nafas dalam- dalam.

Youngmin hyung… Aku… Sangat menyukaimu…

Tiba- tiba Youngmin yang sejak tadi berlari mengejar Jeongmin menghentikan langkah kakinya. Lalu ia menoleh ke arah Kwangmin. Kwangmin pun jadi gugup sendiri.

“Kwangminnie…” panggil Youngmin.

“Ne, waeyo, hyung?” tanya Kwangmin gugup.

“Kau sudah selesai berkemas? Ayo pulang ^^” ucap Youngmin. Entah kenapa Kwangmin merasa kecewa. Ia tahu ia gagal melakukan telepati ke hyung yang sangat ia cintai. Kwangmin pun berkemas lagi dan memutuskan untuk tak mengingat apa itu telepati yang bodoh. Ia lalu mengembalikan buku itu pada Minwoo.

“Sabarlah, Kwangmin… Aku tahu kau terpukul… Tapi telepati memang tak semudah yang kita bayangkan… Kau harus punya keterikatan emosi yang sangat mendalam antar sesama…” ucap Minwoo iba.

“Ne, mungkin hyung tak mencintaiku seperti aku mencintainya,” ucap Kwangmin pelan. Diam- diam Youngmin memperhatikan mereka dari luar kelas.

\(^.^)/

“Kwangminnie, kenapa dari tadi kau murung? Apa ada yang salah hari ini?” tanya Youngmin pada Kwangmin yang amat sangat murung dalam perjalanan mereka pulang ke rumah. Tapi Kwangmin tetap tak menjawab pertanyaan Youngmin, hingga sekarang.

“Ya, Kwangminnie… Hyung mau cerita… Tadi waktu hyung main kejar- kejaran sama Jeongmin, hyung seperti mendengar suaramu,” ucap Youngmin. Kwangmin mendadak terkejut.

“Mwo? Jjinjjaeyo?” tanya Kwangmin untuk memastikan.

“Ne, hyung dengar suaranya begini… Youngmin hyung… Aku… Sangat menyukaimu… Begitu…”

Kwangmin seketika terperanjat. Rupanya dia tak gagal. Dia berhasil. Rupanya masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Youngmin, walaupun sebenarnya ia tak tahu apakah memang bisa atau tidak. Tiba- tiba Kwangmin memeluk Youngmin dengan sigap. Youngmin hanya bingung. Mereka berpelukan untuk beberapa saat, lalu Kwangmin meleaskan pelukannya.

“Wae, Kwangminnie? Apa itu memang suaramu?” tanya Youngmin penasaran.

“Mmm… Menurut hyung bagaimana?” Kwangminbertanya balik dengan mimik wajah ceria, “Ayo hyung, kita pulang! Kita nonton DVD Pikachunya sama- sama~”

Kwangmin pun melesat dengan cepat. Youngmin hanya tersenyum melihat Kwangmin yang sudah berwajah bahagia.

Semakin hari, aku semakin mencintaimu, Jo Kwangmin…

THE END

Oke deh… Ini kayaknya penutup dari masa keeksisan author untuk sementara, karena tanggal 5 Desember author bakan ulangan umum. Semoga nilainya bisa tinggi yah, amiiin XD

Mianhae kalau banyak kesalahan, baik itu miss typo, ending nggak jelas, atau apalah… Soalnya saya masih newbie gitu u,u

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

As Twins, They Always Want The Same

Annyeong chingu! Sebelum saya hiatus, saya mau nge share beberapa FF lagi nih :D

Ini adalah kali pertama saya bikin FF drabble, dan ini juga pertama kalalinya saya bikin FF GENRE STRAIGHT. Mengejutkan? Ya, tentu saja ^^

WARNING: GA SUKA JANGAN BACA+BASH! :)

Daripada penasaran, langsung dibaca aja yah chingu ^^

Happy reading

\(^.^)/

“Yun Hee, ayo tidur!” teriak seorang ahjumma dengan lantangnya.

“Ne, ne, aku tidur sekarang,” jawab seorang yeojya yang ternyata bernama Cho Yun Hee, anak pertama dari keluarga Cho. Dia adalah seorang yeojya yang ternyata adalah seorang maniak game, tetapi dia juga seorang author FF. Saat ini saja dia sedang berkutat dengan WordPressnya.

“Hmm… Kayakya WP ini banyak dikunjungi sama orang- orang yadong deh ==” keluh Yun Hee sambil melihat daftar keyword yang tertera untuk hari ini. 8 dari 10 keyword itu adalah kata- kata yang berbau ‘yadong’, dan rata- rata mencari hal- hal yang yadong tentang Jo Twins, yaitu Jo Youngmin dan Jo Kwangmin yang merupakan member Boyfriend, biasnya Yun Hee.

“Kasian Jo Twins oppadeul, disuruh yadongan sama para readers WP aku =3=” ucap Yun Hee sekali lagi sebelum log out dan akhirnya ia tidur pada jam 12 tepat tengah malam. Tapi kemudian ia terlonjak bangun dari tidurnya.

“Ah! Mana Youngie The Pooh dan Pikwangchu?” ucap Yun Hee panik sambil mencari 2 bonekanya yang bernama Youngie The Pooh (boneka Winnie The Pooh yang digabung dengan nama Youngmin) dan Pikwangchu (Pikachu yang digabung dengan nama Kwangmin) yang biasanya dibawanya tidur. Ia pun menemukan Youngie The Pooh di depan TV di ruang keluarga, tapi ia sudah malas mencari si Pikwangchu karena ngantuk berat. Akhirnya ia memutuskan untuk melupakan Pikwangchu dan pergi tidur.

\(^.^)/

“Eumm… Sudah jam berapa ini?” tanya Yun Hee pada dirinya sendiri, “Mwo? Masih jam 12 malam? Kok…”

Tiba- tiba ia melihat seorang namja yang memakai piyama dan topi Pikachu sedang duduk di depan laptopnya.

‘Si… Siapa namja itu…’ gumam Yun Hee dalam hati. Seakan bisa membaca pikiran Yun Hee, namja itu pun menolehke belakang dan alangkah terkejutnya Yun Hee yang telah mengetahui bahwa itu adalah Kwangmin.

“Kau sudah bangun, Cho Yun Hee?” ucap Kwangmin sambil menyunggingkan senyum evil di bibirnya.

“M… Mwo…” ucap Yun Hee terbata- bata. Kwangmin lalu berdiri dan berjalan mendekati Yun Hee yang masih terduduk di atas ranjang.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Kwangmin lagi, “Kau hanya memeluk Youngmin?”

“Hah?” kaget Yun Hee.

“Ne, kemarin kau hanya memeluk Youngmin kan? Sekarang dia sudah pergi kerja karena senang sekali. Aku tak bisa tidur kemarin malam, kau tak memelukku.”

Seketika Yun Hee langsung teringat kejadian kemarin malam, saat dia meninggalkan Pikwangchu karena rasa kantuk yang berat.

“Mmm… Oppa, mianhae… Kemarin aku mengantuk sekali…”

Tiba- tiba saja Kwangmin membanting Yun Hee ke ranjang dengan kasar, lalu menahan tubuh Yun Hee dengan tubuhnya agar ia tak bisa bangkit, dan tangan kanannya memegang dahi Yun Hee.

‘Mwoo? Wajah Kwangminnie oppa, sedekat ini dengan wajahku… Ah, lupakan? Sekarang kenapa aku mimpi seperti ini?’ gumaman gumaman aneh pun berperang dalam pikiran Yun Hee. Tiba- tiba Kwangmin tertawa. Yun Hee pun kaget setengah mati.

“Oppa?! Kenapa?” tanya Yun Hee.

“Hehehe… Ani, kau lucu,” ucap Kwangmin sambil mencium pipi Yun Hee singkat, lalu membelai rambutnya lembut. Kemudian Kwangmin beralih dari posisinya yang tadi berada di atas Yun Hee ke posisi berdiri tegak, tentunya sudah pergi dari kasur.

“Lain kali jangan tidur tanpa aku ya, Yun Hee ;P” ucap Kwangmin nakal. Yun Hee hanya bingung. Otaknya masih sibuk mencerna saat ia mendengar suara jam weker yang lambat laun mulai memudar seperti memudarnya Kwangmin dan pemandangan kamar di sekitarnya.

\(^.^)/

“HUWAAAAAAAAAH~!” teriak Yun Hee. Hal pertama yang ia lakukan adalah, toleh kiri kanan. Lalu ia menghela nafas.

“Huah… Cuma mimpi yah…” ucap Yun Hee lega. Ia pun menoleh ke sebelah kirinya untuk memberi salam pada Youngie The Pooh. Tiba- tiba Yun Hee kaget karena disana juga ada Pikwangchu.

“Eonnie, aku yang letakkan Pikwangchu disitu…” ucap adik Yun Hee, Soo Jung dari ambang pintu. Yun Hee hanya tersenyum pada Soo Jung yang kemudian berlalu. Yun Hee mengambil boneka Pikwangchu itu dan mencium boneka itu tepat di pipinya.

“Annyeong, Pikwangchu~” ucap Yun Hee sambil tersenyum dan memeluk Pikwangchu, lalu meninggalkan Youngie The Pooh di dalam kamar. Sendirian.

\(^.^)/

“KYAAAAAAAAAA~!” teriak Yun Hee pada keesokan harinya. Sekarang apa yang dimimpikannya adalah seorang namja bertopi Winnie The Pooh yang tak lain adalah Youngmin. Yun Hee pun segera mencari kedua bonekanya dan menciuminya satu- satu. You know what? As they twins, they always want the same ;)

THE END

Sumpe, ini drabble geje banget yakk~ ==”

Oh ya, Yun Hee disini itu author lo, dan author bener- bener mimpi kayak begini, makanya jadi punya inspirasi buat dibikin drabble pasca hiatus :D

Oke deh, Mianhae kalau banyak kesalahan, baik itu miss typo, ending nggak jelas, atau apalah… Soalnya saya masih newbie gitu u,u

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

Coming Soon: Bananamikan in English Language!

Annyeong chingu!

Sekalian curcol nih, jadi cerita temen- temen author dari grup SONE internasional itu pengen baca FF author. Trus author kasi link bananamikan.wordpress.com kan… Trus tiba- tiba mereka complain gara- gara nggak ngerti apa yang author tulis, dan author baru nyadar kalo author nulis FF pake bahasa indo, trus dikasiin ke bule- bule SONE. Author serasa sinting banget deh ==”

Nah, maka dari itu, author mau bikin ‘english version’ dari bananamikan.wordpress.com ^^

Jadi bagi para bule- bule SONE, silakan menunggu english versionnya yah :D

Sebenarnya bahasa inggris author ancur banget loh. Tapi demi para reader bule, author akan berusaha OwOd

Sebetulnya, di versi inggrisnya bananamikan.wordpress.com memuat semua FF yang ada di WP ini, bedanya cuma bahasa doang, dan inyaallah kedua WP di update secara bersamaan. Jadi tiap ada FF baru di WP indo version, di WP english versionnya juga harus ada. Jadi nggak ada yang ketinggalan cerita, gitu… Tapi kayaknya author harus kerja keras deh untuk buat WP yg satu ini @.@

Tapi ini semua kita kembalikan pada para reader bule yang ngebet mau baca FF saya *bo’ong banget. mana ada yg mau baca FF geje*

Bagi orang indonesia, kalo mau lebih pandai bahasa inggris silakan mampir ke WP saya yg coming soon itu ._.v

Oke deh, sekalian mau kasi tau, mungkin nggak lama lagi author bakal hiatus soalnya tanggal 5 Desember, author mau ulangan semesteran, secara author sibuk banget, anak kelas 3 SMP gitu :P

Arraseyo, sekian pemberitahuannya deh :D

Jangan lupa baca update terbaru di WP ini ya, judulnya ‘You’re My Beloved Forever‘ <– Klik langsung kalo mau baca ^^

Annyeonghi gaseyo *bow \(^.^)/

You’re My Beloved Forever

Annyeong chingu! Kembali lagi bersama saya, Author Banana Mikan~ *jreng jreng jreeeng*

Setelah nge- post FF geje yang berjudul Photograph of Love kemaren, sekarang author nge- post lagi FF yang nggak kalah gila superb bin gejenya sama FF kemaren. Untuk genrenya, masih berkutat pada yuri… Pairing tetap SNSD (secara author SONE gituloh)

Tapi siapa sama siapa couple nya… Nanti deh baca sendiri… Ntar jadi gak seru lagi. Maklum, alur cerita gampang ditebak -> pasaran ._.v

Oh ya, yang nggak suka sama pairing yuri/ SNSD/ WP ini, asal jangan author WP ini, tolong jangan dibaca dan mohon untuk nggak NGE- BASH (author cinta damai)

Jangan lupa RCL! (Read.Comment.Like) – nggak maksa loh :)

Oke deh, selamat membaca chingudeul~

Happy reading :D

\(^.^)/

“Yoong~!” ucap seorang yeojya bermabut blonde yang bernama Jessica yang saat ini sedang berlari menyusul seseorang yang mana pesawat tumpangannya baru saja mendarat di Incheon International Airport, Seoul, “Kau tidak banyak berubah ya :D”

Yeojya yang dijemputnya itu hanya tersenyum, tampak seperti sebuah senyum yang dipaksakan.

“Ne, kau juga begitu, Si… Sica…”

“Hei, kau menginap di rumahku ya? Oh ya, barang kamu ada yang disimpan di bagasi nggak? Kalau ada, kita ambil yuk, Yoona!” ucap Jessica lagi sambil memegang tangan yeojya yang dipanggilnya dengan nama Yoona itu.

“Ehm… Ne…” ucap gadis yang dipanggil Yoona itu dengan gugup.

Jessica kembali menarik tangan Yoona dengan riang, tapi Yoona terlihat sangat gusar.

Flashback POV

“Sica… Maafkan aku… Aku harus pergi, mianhaeyo,” ucap Yoona pelan sambil memegang tangan Jessica.

“Ne, aku tahu. Kau harus berusaha, Yoona… Aku tau penyakitmu ini bukan penyakit yang biasa,” ucap Jessica yang sekarang matanya telah berkaca- kaca.

Yoona adalah pacar Jessica yang mederita penyakit leukemia tingkat awal. Memang belum sebegitu parah, tapi yang namanya penyakit leukemia bukan merupakan penyakit yang sepele. Yoona yang notabene adalah anak dari keluarga yang berkecukupan membuat orangtuanya langsung akan membawanya untuk menjalani pengobatan di luar negeri. Saat ini Jessica dan Yoona sedang berada di Incheon International Airport, menunggu jadwal penerbangan Yoona dan keluarganya. Dari jauh tampak kedua orangtua Yoona dan seorang kembaran Yoona yang bernama Yuri. Ia terus melihat Yoona dan Jessica dengan tatapan sedih. Selang beberapa waktu kemudian, pesawat Yoona pun tiba. Sebelum menaiki pesawat, Yoona sempat berkata sesuatu kepada Jessica.

“Sica, berjanjilah kau akan selalu menungguku hingga pengobatanku selesai. Saat aku kembali lagi ke Seoul, aku berjanji akan selalu menjagamu selamanya, oke?” ucap Yoona dengan ramah. Jessica yang sejak tadi menangis terisak- isak hanya mengangguk, kemudian memeluk Yoona lembut, dan Yoona pun balas memeluk Jessica. Kemudian Yoona pun menaiki pesawat itu dan saat itu juga langsung mengudara.

Flashback POV End

Kini Jessica dan Yoona yang masih tampak bingung sudah menaiki taksi. Jessica yang cemas melihat ekspresi Yoona pun bertanya.

“Yoong…” ucap Jessica pelan sambil menepuk bahu Yoona. Yoona yang sedang bengong sendiri langsung tersentak kaget.

“Ah! Hem? Ada aa, Sica? ^^” tanya Yoona sambil tersenyum ramah.

“Kenapa dari tadi kau diam saja? Padahal dulu kan’ kamu sangat heboh kalau betemu denganku?” tanya Jessica dengan nada khawatir.

“Ehh… Ini… Aku agak bingung dengan keadaan Kota Seoul sekarang… Banyak berubah ya ^^” ucap Yoona kalap. Jessica pun tersenyum lega.

“Hehehe… Begitu yah? Kota ini memang banyak berubah. Bagaimana pengobatanmu?” tanya Jessica lagi, “Apa sudah selesai? Bagaimana penyakitmu?”

Yoona kembali tersentak kaget, lalu menjawabnya dengan gugup.

“Emm… Emm… Pengobatan ya? Ah! Pengobatan! Iya, pengobatannya berjalan lancar, walaupun agak sedikit menyiksa, tapi lihatlah, Sica! Sekarang aku jadi si kuat Yoong!” ucap Yoona semangat hingga kepalanya membentur langit- langit mobil. Yoona pun mengaduh dengan hebohnya. Jessica pun tertawa.

“Hahaha… Kukira ada apa, tadi kau tak bicara sepatah kata pun… Kupikir kau orang yang berbeda sekarang, rupanya kau tak berubah :)” ucap Jessica dengan wajah yang memerah. Wajah Yoona pun seketika memerah dan kembali gugup.

Jessica’s House

“Nah, kita sudah sampai! Selamat datang, Yoong!” ucap Jessica riang saat turun dari taksi yang ditumpangi oleh mereka. Yoona hanya terdiam. Jessica pun kembali menjadi bingung.

“Yoong! Kenapa sih sekarang kau jadi suka sekali bengong?” tanya Jessica sambil menepuk bahu Yoona.

“Eum! Ani… Aku hanya melihat sekitar rumahmu. Aku suka bunga- bunga yang menghiasi rumahmu ini. Warna warni :D” ucap Yoona penuh semangat. Jessica pun menjadi lega kembali.

“Ne, semenjak kau menjalani pengobatan, aku sering mendoakanmu seraya menanam bunga- bunga kesukaanmu ini di rumahku. Kan’ kau sendiri yang bilang kalau aku harus menunggumu untuk kembali bersamaku :D” ucap Jessica dengan wajah bahagia. Kebahagiaan ini memang bukan kebahagiaan bisa yang bahkan dibuat- buat. Tiba- tiba Yoona meneteskan air mata.

“Yoong? Kau kenapa?” tanya Jessica khawatir, “Kenapa kau menangis, Yoong?”

Yoona pun membersihkan air mata di wajahnya, lalu bicara.

“Kau… Sungguh setia, Sica…”

Wajah Jessica pun seketika memerah. Ia lalu mengelus kepala Yoona dengan penuh cinta, kemudian merangkulnya ke dalam rumah.

“Yoong, aku sudah lama menantikan saat ini ^^ Kita akan melakukan apa yang menjadi impian kita :D”

“Mwo? Apa itu?”tanya Yoona bingung.

“Aigoo… Kau lupa? Jangan- jangan pengobatanmu itu membuatmu memiliki memori jangka pendek! Kita sudah tuliskan apa yang akan kita lakukan di buku masa depan YoonSic kan? Ini dia bukunya!” ucap Jessica sambil menyodorkan sebuah buku tua yang cukup tebal yang bertuliskan ‘Buku Masa Depan YoonSic’ dan bergambar dua orang stickwomen saling berpegangan tangan dengan simbol hati ditengah- tengah mereka. Yoona pun semakin kaget melihatnya. Yoona membuka buku itu. Ia baca dengan teliti buku itu selembar demi selembar. Lalu ia menutup buku itu setelah selesai membacanya, lalu bicara pada Jessica.

“Jadi, kita mulai dari mana?” tanya Yoona.

“Kamu nggak capek? Gimana kalau kamu kutunjukkan kamar dulu, lalu tidur sebentar. Setelah itu baru kita mulai kegiatan kita, oke?” ucap Jessica sambil ber- wink.

“Hmm… Oke :)” Yoona pun setuju. Lalu mereka berdua menuju ke sebuah kamar yang rapi dan bersih.

“Ini dia, silakan beristirahat disini. Ini kamar Krystal, adikku. Silakan istirahat disini saja. Soalnya dia sedang kuliah di luar negeri ^^” ucap Jessica lagi, “Kalau ada yang mau dibantu, bilang saja ya My Deer Yoong :D”

“Ne, gomapta Sica :)” ucap Yoona sambil meletakkan backpack dan kopernya di dalam kamar. Jessica pun keluar dari kamar yang sekarang ditempati oleh Yoona itu dan menutup pintunya. Sesaat setelah itu, Yoona pun menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia mendesah penuh kelelahan, dan agaknya ada sedikit penyesalan. Ia lalu berjalan ke depan sebuah cermin besar yang ada disitu, lalu ia melihat bayangannya sendiri yang terpantul di permukaan cermin. Dia adalah Yoona. Lebih tepatnya lagi, sekarang ia adalah seorang Yoona. Ia kembali meghela nafas, pertanda lelah sudah menggerogoti tubuhnya, lalu ia kembali menghempaskan tubuhnya di kasur yang lembut itu dan menutup matanya.

Several hours later…

“Yoong? Kau masih tidur?” tanya Jessica sambil mengetuk pintu kamar Yoona yang masih tertutup. Tiba- tiba ada suara dari dalam kamar yang menjawabnya.

“Ne, aku akan keluar,” lalu pintu pun terbuka dan nampaklah Yoona yang rambutnya masih acak- acakan.

“Hahaha… Kau lucu sekali. Aku saja sekarang ini nggak terlalu suka tidur seperti dulu :D” ucap Jessica sambil tertawa kecil. Yoona hanya mengeluarkan senyum paksa.

“Hei, aku sudah siapkan makanan kesukaanmu, Yoong. Ayo kita ke ruang makan :D” ucap Jessica sambil menarik tangan Yoona yang hanya mengikuti Jessica dari belakang. Mereka pun duduk di depan meja makan dan mulai menyantap makan malam mereka. Tiba- tiba Jessica memulai pembicaraan.

“Yoong, gimana dengan orangtuamu disana? Apa kabar?” tanya Jessica dengan penasaran. Yoona tiba- tiba tersedak saking kagetnya.

“Mwo? Yoong? Gwenchana?” tanya Jessica sambil menyodorkan segelas air mineral pada Yoona.

“Mm… Gwenchana… Kabar orangtuaku baik- baik saja :)” ucap Yoona setelah meneguk air mineral yang diberikan oleh Jessica.

“Ooh… Baguslah. Bagaimana dengan kembaranmu? Si Yuri?” tanya Jessica lagi. Tiba- tiba Yoona diam mematung. Jessica mengernyitkan dahinya.

“Kau kenapa, Yoong? Kau sedang bertengkar dengan Yuri ya?” tanya Jessica untuk yang kesekian kalinya. Tapi Yoona hanya menggelengkan kepalanya.

“Ani, aku tak sedang bertengkar dengannya. Dia baik- baik saja. Sekarang dai sedang sibuk kuliah,” ucap Yoona singkat. Jessica pun tambah bingung.

“Kau… Benar- benar berkelahi denga dia ya, Yoong?”

“Ani, aku tak berkelahi dengannya,” ucap Yoona singkat, “Sudahlah, ayo kita teruskan makannya.”

Jessica yang bingung pun lebih memilih untuk meneruskan acara makan malam mereka yang sempat berantakan.

Several days later…

Sudah sekitar 2 minggu lebih Yoona menetap di rumah Jessica yang hanya berpenghunikan mereka berdua. Orangtua Jessica bekerja di luar negeri dan Krystal juga di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya di bidang sastra musik. Pagi ini Jessica berencana untuk mengajak Yoona berjalan- jalan pagi.

“Yoong, ayo kita… Yoong?” ucap Jessica bingung karena tak mendapati Yoona di dalam kamarnya. Jessica pun terus mencari dan mencari, hingga dia menemukan sesuatu. Sebuah dompet dengan isinya yang tercecer.

“Hmmm… Foto? Aku baru tahu kalau Yoong itu narsis. Aku lihat foto- fotonya ah~” ucap Jessica yang bukannya merapikan foto- foto yang tercecer, ia malah menghamburkan semua foto yang ada di dalam dompet itu. Tapi foto yang ia lihat… Kenapa semuanya foto Yuri? Hanya ada 1 foto Yoona yang bersama Yuri, itu pun foto disaat mereka masih tinggal di Seoul dulu. Tiba- tiba Jessica dikejutkan dengan keberadaan Yoona dibelakangnya.

“Ya, apa yang kau lakukan, Sica?” teriak Yoona panik.

“Yoong, dimana fotomu? Kenapa semuanya foto Yuri?” tanya Jessica bingung. Yoona pun menjadi gugup.

“Itu… Aku menyimpan banyak foto Yuri, karena aku tahu kalau aku pasti akan merindukannya… Jadi aku membawanya…” ucap Yoona. Jessica pun tersenyum.

“Hehehe… Aku juga begitu. Menyimpan banyak foto Krystal di dompetku ^^ Perasaan para kakak memang sama yah :D” ucap Jessica senang. Yoona tersenyum.

“Arraseyo, aku mau ganti baju dulu. Kau mau jalan- jalan pagi kan?”

“Ne ^^ Kutunggu di luar ya?”

“Ok”

Jessica pun keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar Yoona, sedangkan Yoona merapikan isi dompetnya. Setelah berganti baju, ia kembali menatap dirinya sendiri di cermin. Tak lama kemudian ia tersadar akan sesuatu.

Who is that girl i see staring straight back at me
Why is my reflection someone i don’t know
Must i pretend that im someone else for all time
When will my reflection show who i am inside

Yoona kembali menghela nafas, lalu berkata sesuatu.

“Mianhae…”

Yoona pun keluar dari kamarnya dan segera beraktivitas dengan Jessica.

Jalan- jalan – SEKIP–

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah. Setelah makan dan mandi, mereka melakukan beragam aktivitas hingga saatnya mereka melihat sunset berdua di halaman belakang rumah Jessica. Tiba- tiba Jessica mengambil ponselnya.

“Wae, Sica?” tanya Yoona.

“Yuri itu ada di Universitas mana?” tanya Jessica.

“Di Universitas X, kenapa?” Yoona bertanya balik.

“Aku mau menelepon Krystal, lalu bertanya padanya apa ada anak yang bernama Yuri disana,” ucap Jessica sambil menekan nomor ponsel Krystal. Tiba- tiba Yoona merampas HP Jessica.

“Ya! Yoong! Ada apa? Kembalikan HP ku!” teriak Jessica.

“Ani! Pokoknya jangan tanyakan apapun tentang Yuri!” teriak Yoona.

“Wae? Kau sedang berkelahi dengannya ya? Tapi jangan terlalu kejam seperti itu dong!” bentak Jessica sambil merampas HP itu dari tangan Yoona. Yoona hanya bisa pasrah dan menatap Jessica dengan gelisah. Tak lama kemudian, telepon pun tersambung.

“Annyeong Krystal! Apa kabar?” ucap Jessica dengan suara riang.

“Oh, Sica eonnie! Mianhae Krystal baru memberitahukan ini pada eonnie… Aku, appa dan umma sedang ada di rumah Yoona eonnie…” ucap Krystal di seberang telepon dengan suara lemah.

“Mwo? Rumah Yoong? Ada apa disana? Apa ada Yuri?”

“Ani, hanya ada appa dan umma mereka.”

“Lalu kenapa kau kesana?”

“Yoona eonnie… Meninggal dunia…”

Jessica pun sangat kaget.

“M… Mwo? Kau sedang membohongi eonnie ya? Dasar Krystal nakal :P”

“Ani, eonnie. Aku serius. Sebenarnya Yuri eonnie pergi ke Seoul untuk mengabarkan berita ini pada eonnie…”

“…”

“Eonnie? Jessi eonnie? Eonnie masih ada di seberang sana?”

Tuut… Telepon itu ditutup dengan kasar oleh Jessica. Yoona yang ada di hadapan Jessica, yang sebenarnya adalah Yuri, akhirnya angkat bicara.

“Aku tahu lambat laun ini akan terjadi. Maafkan aku. Sebenarnya aku adalah…”

“DIAM! AKU TAHU KAU ADALAH PEMBOHONG! BERANINYA KAU MELAKUKAN HAL SEPERTI INI, MENJADI YOONA HANYA UNTUK MEMBUATKU BUTA AKAN SEGALANYA!” bentak Jessica sambil melemparkan HP nya ke lantai porselen rumahnya.

“Tapi Sica…”

“CUKUP! AKU TAK INGIN MENDENGARMU! KAU TAK TAHU KALAU HATIKU TERLUKA SAAT AKU MENDENGAR KABAR ITU, HAH? SEDANGKAN KAU, SAUDARA YOONA SENDIRI MALAH BERTINGKAH BODOH SEPERTI INI! JANGAN ADA TAPI- TAPIAN LAGI! PERGI KAU DARI RUMAH INI!” bentak Jessica seraya berlari ke lantai atas, lalu masuk ke kamarnya dan menguncinya. Yuri hanya memukul kepalanya sendiri sambil menangis.

“Mianhae, Yoona eonnie… Aku gagal…” ucap Yuri sambil terisak.

Jessica POV

Gila! Apa sih yang dipikirkan gadis itu hingga berani memakai nama Yoona! Yah, walaupun aku memang mencintainya, beda dengan Yoona yang kuterima cintanya hanya karena rasa seganku padanya. Huh… Aku tak bisa percaya hal ini. Entah kenapa, aku tak ingin menangis untuk perkara kali ini…

Jessica POV End

The next day…

“Huaaammm…”

Jessica terbangun dari tidurnya. Sudah jam 06.00 pagi. Jessica mulai bisa tenang dan menerima kematian Yoona, dan rasa marahnya pada Yuri sudah cukup berkurang. Saat ia membuka pintu kamarnya, terlihat Yuri di depannya yang kelihatannya baru ingin mengetuk pintu kamarnya. Jessica dan Yuri hanya mematung untuk beberapa saat.

“Sica, aku ingin bicara sesuatu…” ucap Yuri pelan.

“Ya, mulailah,” ucap Jessica singkat. Tiba- tiba Yuri memberikan secarik kertas untuk Jessica.

“Ini surat dari Yoona eonnie untukku.”

Jessica pun membacanya dengan seksama.

My dearest Yul,

Yuri adikku, kamu sudah tahu kan kalau penyakit eonnie sudah sangat parah? Eonnie hanya berbohong saat eonnie bilang pada Jessica kalau penyakit eonnie ini adalah leukemia tahap awal. Ini sudah benar- benar parah. Pada hari di saat eonnie meninggal nanti, tolong kau terbanglah ke Korea, kabarkan Jessica kalau kau akan datang, tapi dengan nama Yoona, bukan Yuri. Aku tak mau dia terluka. Tolong, hiduplah dengan namaku di sampingnya. Tutupilah ini hingga saat yang tepat agar dia tak terlalu merasa terpukul, ok? Tapi kalau kau cukup berani, kau harus menjadi pacarnya dengan menyandang namamu sendiri. Eonnie juga ada mengirimi surat untuk Jessica di sebuah amplop pink. Tolong sampaikan ke dia, ne? Eonnie mencintaimu ^^

Dari Yoong Eonnie :)

Air mata Jessica tak dapat ditahan lagi. Ia menangis terisak- isak.

“Jadi, Sica sudah tahu kan kalau ini semua kulakukan bukan hanya karena kesenanganku semata?” tanya Yuri meyakinkan Jessica. Jessica hanya mengangguk. Yuri kembali bicara.

“Dan… Ini… Yoona eonnie juga mengirimi surat untukmu,” uca Yuri sambil memberikan sebuah amplop berwarna pink pada Jessica yang kemudian membuka amplop itu dan membacanya.

Dear Sica,

Sica, maafkan aku… Aku tak bisa menjagamu dengan baik. Mungkin saat kau baca surat ini, aku sedang menerawangmu dari atas langit. Maafkan aku karena aku keburu meninggalkanmu. Aku tak sanggup menebus janjiku padamu. Penyakitku sudah sangat kronis, bahkan para dokter tak mampu memberiku kesempatan hidup normal untuk yang kedua kalinya. Akhirnya ‘Yoona’ hanya tinggal sebuah nama. Aku memang bodoh ya, aku tak bisa menjagamu. Tapi aku telah mengirimksn seorang bidadari yang bisa menjagamu kapan saja. Dia adalah Yuri. Dia akan menggantikan tugasku kalau kau menginginkannya. Tapi saat kita bertemu di surga nanti, aku akan kembali mengambilmu. Bagaimana? Atau kau mau bersama Yuri saja? Tak apa ^^

Well, sampai jumpa di surga suatu saat nanti :)

Dari Yoong~

“Hiks hiks… Yoong…” isak Jessica.

“Sica, maafkan aku. Sebenarnya telah lama aku menyukaimu. Tapi karena aku sudah mengecewakanmu, aku akan kembali…” ucap Yuri sambil berlalu. Tiba- tiba Jessica memeluk Yuri dari belakang.

“Kau sudah membuatku menangis seperti ini, sekarang kau belum menuruti perintah Yoona!” teriak Jessica, “Aku… Sebenarnya juga menyukaimu…”

Yuri tersentak kaget. Ia lalu melepaskan pelukan Jessica dan berkata dengan lembut.

“Jadi… Apakah aku harus tetap tinggal disini dan menjadi pengganti Yoona eonnie untukmu?” tanya Yuri.

“Ani! Kau bukan pengganti Yoona! Kau hanya seorang Yuri, bukan orang lain. Kau Yuri, orang yang sangat kucintai, dan akan selalu seperti ini selamanya,” ucap Jessica. Yuri pun memeluk Jessica dengan hangat dan hari itu juga mereka tenggelam dalam kebahagiaan cinta yang mendalam.

THE END

Arraseyo, cerita gaje bin aneh ini sekaligus menandai masa HIATUS saya akan segera dimulai, dikarenakan tanggal 5 Desember, author mau ulangan semesteran. Maklum sibuk, anak kelas 3 SMP gituloh. Mungkin kalau waktu memungkinkan, author bakal nge-post 1 FF lagi. Tapi kalau sempat ya…

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

Photograph of Love

Annyeong chingu! Sekarang saya mau post FF lagi! Kali ini cast nya dari SNSD, YulSic+JeTi *wow!

Genre nya ya… Seperti biasanya, yuri :D

Yang nggak suka genre yuri atau pairing YulSic JeTi, mohon jangan dibaca dan di bash ya :)

Let’s check it out~

\(^.^)/

“Ah, itu Sica! Neomu yeppeo~” ucap seorang yeojya bernama Tiffany sambil memotret diam- diam sahabat yang ditaksirnya , Jessica Jung.

“Tampak samping pun dia tampak cantik XD” ujar Tiffany lagi.

TEEEEEENG TEEEEEEEEEENG~!

Bel yang menandakan istirahat selesai pun berbunyi. Sekejap Tiffany serasa ambruk dibuatnya.

“Yaah… Padahal hari ini belum sampai 100 foto =3=” keluh Tiffany sambil menenteng kameranya. Tiffany adalah seorang murid yang mengikuti klub fotografi. Hampir semua anggota klub fotografi mengetahui kalau Tiffany sering membawa kamera ke sekolah. Tapi tujuannya bukan untuk mencari bahan untuk buletin sekolah, ia malah menggunakan kameranya itu untuk mengambil foto- foto Jessica Jung, teman masa kecilnya yang disukainya sejak TK. Saat ini, Tiffany sudah sampai di kelasnya dan melihat Jessica sudah menunggunya di kelas.

“Annyeong Fany- aa~ :D” ucap Jessica senang. Tiffany pun segera duduk di sebelah Jessica, karena ia memang teman sebangku Jessica.

“Annyeong Sica XD” ucap Tiffany senang.

“Fany- aa, kamu rajin cari bahan buat buletin sekolah yah… Kamu nggak capek tiap hari keliling sekolah?” tanya Jessica pada Tiffany yang tersentak kaget. Dia lupa kalau saat ini kameranya digantungkan di lehernya.

“Emmm… Ne, tentu saja aku nggak capek (^^)7” jawab Tiffany malu- malu.

“Boleh liat hasil jepretanmu nggak?” tanya Jessica senang. Tapi Tiffany malah menyembunyikan kameranya. Tentu saja ia melakukan hal itu, karena semua foto yang dijepretnya sedari tadi adalah foto- foto Jessica yang diambilnya secara diam- diam.

“Ah, nanti saja ya Sica… Tunggu buletin bulan ini diterbitkan, arraseyo?” bujuk Tiffany sambil menyembunyikan kamera itu dibalik badannya. Jessica hanya mengangguk.

“Eung! Nanti waktu istirahat makan siang, kita ke kelas B dulu, ne?” tanya Jessica pada Tiffany.

“Hmmm… Boleh… Ada siapa disana?” tanya Tiffany.

“Ada temanku, Kwon Yuri. Dia anak dari klub komik yang sama denganku. Orangnya baik banget deh. Nanti aku mau memperkenalkan dia padamu, soalnya dia suka dengan hasil jepretan kameramu. Katanya hasilnya sangat natural dan bagus untuk referensi komiknya loh. Katanya dia mau menawarkanmu pekerjaan untuk berkolaborasi,” celoteh Jessica panjang lebar.

“Dia komikus?” tanya Tiffany penasaran.

“Ne, masa’ kamu nggak tahu. Dia kan’ komikus yang menggambar komik Mamegoma!” ucap Jessica bingung.

“Mianhaeyo, Sica… Aku kan’ nggak suka baca komik…” ucap Tiffany bingung.

“Hehehe… Gwenchana… Tapi nanti kalau aku sudah jadi komikus, tolong beli komikku yah?” ucap Jessica antusias.

“Tentu saja, aku akan menjadi penggemar setiamu, Sica ^^”

“WAAAAAAAA~ Gomawo, Fany- aa,” teriak Sica senang sambil memeluk Tiffany erat. Apa kalian bisa membayangkan betapa senangnya Tiffany? Ya, dia merasa senang, amat sangat senang, hingga tatapannya kosong dan membuat Jessica bingung dan melepaskan pelukannya.

“Fany-aa, aweyo?” tanya Jessica bingung.

“Mwo? Aniyo… Nggak ada apa- apa… Guru belum datang yah?” tanya Tiffany mengalihkan perhatian.

“Kayaknya belum deh… Aku mau nerusin sketsa kasar komikku ah!” tukas Jessica. Tiba- tiba beberapa namja dari kelas mereka, 3A, berlari masuk kedalam kelas seperti domba- domba yang dikejar serigala.

“Miss Raina OTW!” teriak salah seorang namja sambil duduk di kursinya dengan tergopoh- gopoh.

“Mwo? Dia udah OTW? Aigoo… Aku nggak jadi buat sketsa deh ==” dengus Jessica kesal sambil memasukkan berlembar- lembar kertas HVS nya kedalam sebuah map bergambar Mamegoma. Tiffany hanya tersenyum melihatnya. Miss Raina, guru bahasa inggris mereka pun masuk ke dalam kelas dan menerangkan pelajaran. Jessica dan Tiffany pun belajar bahasa inggris dengan baik.

Beberapa lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Semua murid pun keluar dari kelas mereka masing- masing. Begitu pula dengan Jessica dan Tiffany. Mereka pun pergi ke kelas 3B, kelas Kwon Yuri, seorang komikus yang sangat tenar. Begitu mereka berdua sampai, Yuri sedang menggambar komik.

“Annyeong, Yuri- aa :D” sapa Jessica ramah sambil masuk ke kelas yang hanya ada Yuri seorang. Tiffany masih menunggu di ambang pintu.

“Annyeong, Sica :D Eh, itu Tiffany Hwang, temanmu yang kamu ceritakan itu?” ucap Yuri sambil menunjuk ke arah Tiffany.

“Ehm… Ne, Kwon Yuri. Tiffany Hwang imnida…” ucap Tiffany malu- malu.

“Ayo kita masuk, Fany- aa… Tak apa- apa kok…” ucap Jessica sambil menarik Tiffany masuk ke dalam kelas. Yuri hanya tersenyum.

“Hehehe… Kalian berdua lucu sekali. Silakan duduk :D” ucap Yuri sambil mempersilakan Jessica dan Tiffany duduk. Mereka pun duduk di bangku dekat meja Yuri.

“Oh ya, Tiffany, akhir- akhir ini kamu sibuk nggak?” tanya Yuri pada Tiffany.

“Ah! Emm… Nggak sih… Kenapa?” tanya Tiffany dengan gugup.

“Kamu mau nggak bantuin aku buat foto- foto referensi untuk komikku yang terbaru?” tanya Yuri, “Kalau kamu sibuk sih nggak usah.”

“Ayo, Fany-aa… Kau pasti bisa :D” ucap Jessica menyemangati Tiffany.

“Em… Baiklah… Aku mau. Kapan kita akan memulai pekerjaan kita?” tanya Tiffany.

“Hmmm… Gimana kalau besok? Besok kan hari Minggu. Kita ketemuan di Vanilla Latte Cafe yah?” ucap Yuri.

“Baiklah. Jam berapa?”

“Jam 10.00. Bagaimana?”

“Boleh, Yuri.”

“Arraseyo, besok kutunggu yah ^^” ucap Yuri senang.

Tiba- tiba Jessica angkat bicara.

“Emmm… Kalian akan kerja berdua saja? Tidak mengajak aku?” tanya Jessica dengan wajah aegyo. Kalau boleh, Tiffany ingin memotret Jessica sekarang juga.

“Kalau Sica mau ikut, boleh kok :D” ucap Yuri ramah.

“Jjinjjaeyo? Gomawo Yuri-aa… Gomawo Fany- aa…” ucap Jessica senang.

“Cheonma, Sica :D” ucap Yuri.

“Ne, Sica ^^” ucap Tiffany gugup.

“Ayo kita ambil makan siang!” ucap Jessica semangat. Yuri dan Tiffany sama- sama tersenyum. Tapi saat melihat Yuri bersama Jessica, kenapa Tiffany merasakan ada yang berbeda?

Keesokan harinya, Tiffany pun bersiap- siap pergi ke Vanilla Latte Cafe yang cukup dekat dari rumahnya. Ia pun menaiki sepedanya setelah beberapa menit memandangi foto Jessica.

“Sica- aa… Neomu yeppeo…” ucap Tiffany senang sambil mencium foto itu.

Begitu ia sampai di cafe itu, dia memarkirkan sepedanya. Disana dilihatnya Yuri yang sudah membolak- balik beberapa lembar kertas HVS.

“Annyeong, Yuri. Maaf lama menunggu…” ucap Tiffany.

“Ne, gwenchana. Aku baru aja datang kok. Bisa kita mulai sekarang?” tanya Yuri ramah. Tiffany hanya mengangguk dan duduk di kursi di depan Yuri. Mereka pun mulai membahas plot cerita komik yang akan dibuat Yuri.

“Pokoknya, cerita intinya adalah… Seorang komikus yang jatuh cinta pada teman klubnya…” ucap Yuri sambil membalik kertas- kertas HVS yang ternyata adalah plot cerita.

“Eh… Cerita itu… Seperti ceritamu dengan Sica…” gumam Tiffany. Tiba- tiba wajah Yuri memerah.

“Yuri… Kenapa?” tanya Tiffany cemas, “Mianhae, aku nggak bermaksud begitu…”

“Jangan bilang sama Sica yah…” ucap Yuri gugup.

“Oh, jadi itu cerita tentang kamu dan Sic… ngghh…” ucapan Tiffany terpotong karena Yuri membekap mulutnya.

“Sssst! Jangan bilang keras- keras. Sebenarnya aku suka sama Sica. Rencananya, komik ini bakal aku serahkan ke Sica. Lalu aku bakal nyatain perasaanku pada dia juga. Gimana? Dramatis banget kan, mirip cerita komik :D” ucap Yuri antusias. Tiffany tertegun. Jadi… Yuri menyukai Jessica, yang selama ini disukai oleh Tiffany? Pantas saja dia merasakan aura yang berbeda saat melihat Yuri menatap Jessica.

“Rahasiakan ini dari orang lain yah, please…” ucap Yuri sambil memohon dengan sangat pada Tiffany. Tiffany pun tersenyum.

“Arraseyo. Aku akan rahasiakan ini semua :)” ucap Tiffany.

“Waaahh… Kamu baik sekali, Tiffany. Gomapta ^^”

“Ne, cheonma :D”

“Oh ya, kamu bisa tolong fotoin Sica diem- diem nggak? Aku butuh banyak referensi nih, tapi fotonya diam- diam ya?”

“Mwoo?” kaget Tiffany.

“Waeyo? Kamu nggak bisa foto diam- diam yah?”

“Bisa sih…”

“Beneran nggak apa- apa?”

“Ne, nggak apa- apa ^^”

Geudaeman bomyeon naneun eojjeol jul molla neomuna tiga nage utge dwae
Eotteokhaeyo na geudae eobsin mossara My lovely J

Tiba- tiba HP Yuri berbunyi.

“Mwo? Siapa yang telepon?” tanya Tiffany.

“Sica :D” ucap Yuri senang, “Aku angkat dulu yah?”

Tiffany hanya mengangguk.

“Annyeong Sica… Eh, wae? Ooh… Pasti kamu capek banget yah? Arraseyo, bobo aja yah… Borago? Tiffany ada disini… Wae? Ooh… Baiklah, akan kusampaikan. Kerjaan kami baik- baik aja… Oke. Annyeonghi gaseyo ^^” ucap Yuri senang, lalu menutup teleponnya.

“Sica bilang apa?” tanya Tiffany lagi.

“Oh, dia bilang dia kecapekan, mau tidur. Dia titip salam buat kamu, Tiffany :)”

“Ooh… :D”

“Tiffany, kau beruntung banget yah :)”

“Mwo? Wae?”

“Kau bisa dekat sama Jessica…” ucap Yuri tertahan. Tiffany pun merasa sangat bingung dengan kejadian ini.

“Gimana kalau Yuri pedekate sama Jessica aja? Nanti habis kerja bareng, Yuri ke rumah Sica :D” ucap Tiffany spontan. Dia bahkan tak tahu apa yang diucapkannya sekarang ini.

“Mwo? A… Aku tak bisaa… Aku maluu~ >.< Tiffany ikut nggak?” panik Yuri. Wajahnya memerah. Tiffany kembali bingung dengan dirinya sendiri. Tingkahnya seperti ingin merelakan Jessica, tapi bersikap jahat pada orang yang telah memberinya pekerjaan sampingan dengan sikap yang sangat baik membuatnya tidak tega.

“Aku nggak ikut, kau harus berani dong! Katanya kamu suka sama Jessica!” ucap Tiffany menyemangati Yuri. Yuri pun terlongo.

“Ah, fany… Aku pikir… Aku terlalu lancang kalau…”

“Kau ini! Tak ada yang namanya lancang! Kecuali kau menyakiti hatinya! Kau harus semangat, Yuri!”

“Gomapta Tiffany. Kau sangat baik, bahkan pada orang yang belum kau kenal sebelumnya, aku jadi terharu ^^”

“Ah, biasa saja. Besok aku akan mulai memotretnya, oke?”

“Ne, arraseyo.”

“Aku pulang duluan yah,” ucap Tiffany sambil beranjak. Tiba- tiba Yuri menarik tangannya.

“Rumahmu… Searah dengan Jessica?” tanya Yuri ragu- ragu.

“Ne, wae?”

“Mau jalan bareng nggak? Aku takut sesat.”

“Oke deh…”

Yuri dan Tiffany pun berjalan bersama. Mereka pun bicara dengan serunya hingga mereka telah berada di depan rumah Jessica.

“Nah, ini dia rumahnya. Berjuang yah, Yuri :D” ucap Tiffany sambil menunjuk ke arah rumah Jessica.

“Ne, gomapta Tiffany. Kau memang sangat baik. Doakan aku yah :D”

“Kau mau menembaknya, Yuri?”

“Ya nggak lah! Kan’ komiknya belum selesai :3 Doakan agar aku nggak salting di depan dia…”

“Oh, oke ^^ Aku duluan yah :D”

“Ne!” ucap Yuri sambil melambai ke arah Tiffany yang berlalu. Setelah Tiffany berjalan cukup jauh hingga tak terlihat oleh Yuri, Yuri pun memberanikan diri untuk masuk.

“Huft! Yuri fighting!” ucap Yuri pelan. Ia pun membuka pintu gerbang rumah Jessica yang besarnya bak istana, lalu menapakkan kakinya selangkah demi selangkah.

Tiffany’s house

“Aku pulang…” ucap Tiffany datar.

“Nona Fany, sudah selesai urusannya? Mau makan dulu? Mau dimasakin apa?” ucap seorang maid di rumahnya yang bernama Dara.

“Aniyo, Dara eonnie ^^ Aku bisa masak sendiri. Dara eonnie istirahat aja ^^” ucap Tiffany sambil menggunakan jurus eye smile nya. Biarpun Tiffany termasuk anak yang sangat kaya, tapi ia tak pernah ingin merepotkan para maid dan supirnya. Benar- benar anak yang sangat baik.

“Baiklah, eonnie siapkan mejanya saja yah?”

“Baiklah ^^ Tapi sebelumnya, Fany mau ganti pakaian dulu, ne?”

“Oke..”

Tiffany pun menaiki tangga menuju ke lantai 2 rumahnya. Ia pun masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur pink nya. Ia berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi padanya sambil menatap langit- langit yang sebetulnya kosong.

Tiffany POV

Kenapa aku bisa bersikap terbuka pada Yuri yah? Jelas- jelas aku menyukai Jessica. Tapi kenapa aku bisa bersikap layaknya cupid di depan Yuri? Apa karena aku takut padanya? Atau aku… ah, lupakan… Aku tak akan mungkin menyerahkan Jessica pada Yuri. Bagaimana ini…

Ah, ponselku! Kira- kira SMS dari siapa yah? Segera ku cek HP ku. Rupanya dari Yuri. Dia kenapa lagi?

Fany, aku takut! Gimana nih! Mukaku pucat banget, tau >.<

Segera saja kubalas pesan singkatnya.

Eomo… Santai saja kali, Yuri ==”

Baca baik- baik ya, Jessica TAK AKAN PERNAH MARAH DENGANMU KALAU KAU TAK MELAKUKAN APA- APA! Jadi santailah! :)

“Kirim!” ucapku sambil menekan tombol ‘send’ di HP touch screenku. Ah… Lagi- lagi aku tak bisa jadi diriku sendiri. Besok dan seterusnya, aku akan membagi hasil jepretanku dengan Yuri. Aigoo… ==”

Ah, aku lupa! Aku harus makan!

Tiffany POV End

Tiffany pun bergegas menuruni tangga dan mulai memasak makanannya.

Jessica’s House…

“Annyeong…” ucap Yuri pelan sambil mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Terlihat seorang namja jangkung yang tak lain adalah satpam di rumah Jessica.

“Anda teman Nona Krystal?” tanya namja itu.

“Ani, aku temannya Jessica. Apa dia ada di rumah?” tanya Yuri dengan gugup.

“Ya, dia ada. Silakan masuk,” ucap namja itu sambil membukakan pintu lebar- lebar untuk Yuri. Sekali lagi, Yuri kembali melongo.

“Waah… Besarnya…” gumam Yuri pelan. Tiba- tiba ia berpapasan dengan seorang maid.

“Annyeong, Nona mencari Nona Sica yah?” tanya maid yang kelihatannya bersahabat itu.

“Iya…”

“Mari saya tunjukkan kamar Nona Sica :D” ucap maid itu sambil berjalan. Yuri hanya mengikuti di belakang maid itu sambil sesekali memerhatikan interior rumah Jessica.

“Waah… Rumah Sica keren… Interiornya tertata dengan rapi. Bisa dijadikan referensi nih :)” ucap Yuri sambil membuat sedikit sketsa kasar di sketch booknya. Maid itu pun berhenti di depan pintu berwarna pink. Itu pasti kamar Jessica.

“Ini dia kamar Nona Sica. Nona Sicaa… Ada temannya datang berkunjung…” ucap maid itu sambil mengetuk pintu kamar Jessica. Tiba- tiba terdengar suara dari dalam kamar.

“Mwoo? Siapa?” ucap suara itu lemah. Nampak sekali seperti suara orang yang baru saja bangun dari tidur. Yuri pun tanpa sadar tersenyum- senyum sendiri. Tiba- tiba maid itu bertanya pada Yuri.

“Namamu siapa, nona?” tanya maid itu.

“Kwon Yuri imnida ^^” jawab Yuri dengan sopan.

“Temanmu yang namanya Kwon Yuri datang berkunjung…” teriak maid itu lagi.

“Mwwooo? Yuri?” ucap suara dari dalam kamar itu. Tiba- tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh dari dalam kamar itu, “BRAAAAAK~!”

“AAAH~! Bilang sama Yuri, suruh tunggu sebentar yah! Bentaaar aja~” ucap Jessica memelas. Yuri hanya tertawa kecil. Tiba- tiba maid itu melihat ke arah Yuri dengan tatapan bingung.

“Ah, mianhae…” ucap Yuri takut- takut.

“Tidak apa- apa… Nona Sica manis ya? Tingkahnya juga sangat manis :) Wajar saja kalau Nona Yuri tertawa,” ucap maid itu ramah. Tiba- tiba kamar itu terbuka, dan nampaklah seorang yeojya cantik yang masih mengenakan piyama Mickey Mousenya. Rambutnya sedikit berantakan dan diikat ke atas. Itu adalah Jessica. Dia sangat imut pagi itu, dan hampir saja membuat Yuri pingsan karena ‘Aegyo Attack’ yang dikeluarkan oleh Jessica.

“Nona Sica, ini temannya ^^ Saya permisi dulu,” ucap maid itu sambil beranjak.

“Oke, eonnie!” ucap Jessica sambil bergaya layaknya tentara yang memberi hormat, memberikan 1 lagi ‘Aegyo Attack’ untuk Yuri. Pandangan Jessica pun beralih pada Yuri.

“Umm… Yuri… Ada apa kau mengunjungiku… Jarang- jarang deh kau kesini,” ujar Jessica bingung.

“Ini… Aku mau mengunjungimu saja… Aku takut terjadi apa- apa denganmu.. eh!” ucapan Yuri tertahan.

‘Babo, aku kelepasan!’ gumamnnya dalam hati. Tiba- tiba Jessica tertawa.

“KYAHAHAHA~” tawa Jessica menggelegar. Yuri pun terkaget.

“Mwo? Kenapa?” tanya Yuri bingung.

“Apa- apaan ekspresimu itu, Yuri- aa… Lucu sekaliii… Kyahahahaa~ Kau memikirkan apa, eoh? Wajahmu itu loh… Hahahahahaaa~” tawa Jessica pun makin menjadi- jadi. Yuri sudah berpikir kalau ini adalah akhir dari segalanya. Bagaimana tidak, di kali pertama pdkt nya saja, dia sudah punya image aneh di depan Jessica. Dia pun hanya pasrah mendengar tawa Jessica yang semakin menjadi- jadi. Tapi tak lama kemudian Jessica melanjutkan perkataannya.

“Lucu deh, mirip Rilakkuma, muka rata gitu… Aku suka, hehehe :D” ucap Jessica sambil nyengir. Yuri pun terkesiap. Wajahnya seketika memerah.

Yuri POV

Mwoo? Apa katanya? Dia suka? Aigoo! Kukira ini adalah akhir dari segalanya… Ooh! Thanks God! >.<

“Yuri, kenapa wajahmu memerah? Kamu demam, eoh?” tanya Jessica sambil memerhatikan wajahku dengan bingung. Oh iya, kenapa aku terbengong lagi… ==”

Rupanya pdkt itu nggak segampang yang ada di komik- komik yah ==”

“Ah, ani… Aku nggak demam. Hanya kepanasan saja ._.” ucapku ragu. Bagaimana tak ragu, di luar kamar Jessica saja terasa dingin. Mungkin ini karena ada AC yang dipasang di seantero rumah Jessica yah ._.v

“Ah, jjinjja? Iya juga yah, disini memang panas. Ayo masuk ke kamarku ^^” ucap Jessica sambil menarik tanganku masuk ke kamarnya. Ya tuhan, tangannya dingin sekali! Tak terbayangkan betapa dinginnya suhu di kamarnya ini. Terlebih, dia bilang kalau diluar panas? Aigoo… Dia memang ‘Ice Princess,’ tentu saja dalam artian yang berbeda ._.

Yuri POV End

“Nah, ini kamarku :D Aku heran, kenapa banyak orang yang kedinginan dan nggak kuat lama- lama berada di kamarku, apalagi si Fany. Padahal dia kan dari Los Angeles. Disana pasti dingin juga ._.” ucap Jessica dengan wajah datar seraya menggembungkan pipinya, dan membuat Yuri semakin gila. Bukannya kedinginan, Yuri malah merasa sangat kepanasan. (ape ke? ==”)

“Wah… Kamarmu keren yah… Pink pink…” ucap Yuri sambil melihat sekelilingnya. Hampir semua atribut di kamar Jessica berwarna pink, bahkan sampah bungkus permen yang berserakan pun berwarna pink (?).

“Gomapta, Yuri…” ucap Jessica pelan. Sejenak ruanga hening. Lalu Jessica pun melanjutkan kata- katanya, “Eh, tadi gimana kerjaannya? Fany mana?” ucap Jessica cepat. Nampak jelas dari wajahnya kalau dia sedang kalap. Tapi Yuri benar- benar tak menyadarinya karena dia ingin mengantisipasi dirinya yang sewaktu- waktu bisa salting dan mengeluarkan reaksi yang amat sangat abnormal di depan Jessica.

“Eh… Eh… Sudah… Tadi Fany udah pulang, katanya ada urusan…” ucap Yuri gugup.

“Ooh… Dia memang sibuk yah…”

“Iya…”

Lalu keadaan kamar Sica pun jadi sepi. Mereka berdua hanya terdiam, menatap satu sama lain.

“Sica…” tukas Yuri cepat.

“Emm!? Ne?” tanya Jessica ragu- ragu.

“Aku…”

“Apa?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu…”

“Apa itu, Yul? Katakan saja…”

“Sudah lama… Aku menyukai…”

“Apa?”

Yuri pun menunjuk ke arah Jessica. Jessica tersenyum dan wajahnya memerah. Lalu ia mendekati Yuri.

“Yuri…”

“Hm?”

“Aku juga suka… MICKEY MOUSE MEMANG SANGAT LUCU! :D” tukas Jessica senang dengan ekspresi yang menggambarkan kalau dia benar- benar tak tahu apa maksud Yuri yang sebenarnya. Sepertinya ia serius, ia memang salah tangkap, bukan bergurau dengan Yuri. Yuri pun hanya mengiyakan dan tersenyum saat Jessica menunjukkan koleksi barang- barangnya yang berbau ‘Mickey Mouse.’ Setelah beberapa lama, Yuri pun berpamitan pada Jessica.

“Jessica, aku pulang dulu yah ^^” ucap Yuri.

“Ne, gomapta telah berkunjung hari ini,” ucap Jessica senang.

“Annyeonghi gaseyo, Jessica..” ucap Yuri sambil membuka pintu kamar Jessica.

“Ah, tunggu Yuri- aa!” teriak Jessica. Yuri pun terdiam. Jessica pun melanjutkan kata- katanya.

“Lain kali mampir lagi yah :D” ucap Jessica gugup. Wajah mereka berdua seketika memerah.

“Emm… Ne, Sica. Bye~”

Yuri pun bergegas pulang dengan senangnya.

Tiffany’s house…

“Kenyang :3” ucap Tiffany sambil menyudahi makannya. Dia pun kembali ke kamarnya dan berpikir.

‘Bagaimana kalau aku menembak Jessica duluan yah?’ gumamnya dalam hati. Ia pun masuk ke kamarnya dan mendapati 1 pesan baru di HP nya. Dari Jessica.

Fany- aa… Tadi Yuri berkunjung ke rumahku. Tumben… Tapi aku sangat senang! Tahu nggak? Aku udah naksir dia dari SD loh :D

“Mwo? Sica…” gumam Tiffany. Tanpa sadar air mata mengalir dari mata indahnya. Dia sudah tahu, pasti dia akan kalah dari Yuri.

Tiffany POV

Mwo? Sica… Lebih memilih Yuri daripada aku? Bagaimana bisa? Padahal… Aku…

Aku tak kuasa menahan air mata ini. Sudah berapa lama kupendam perasaan ini… Aku… Rasanya aku tak sanggup untuk menerima ini… Tapi… Aku harus tetap memikirkan kebahagiaan Sica. Jika aku menyukai Sica, tentu saja aku menginginkan kebahagiaan Sica, kan? Aku tak akan tega bila dia tak dapat berbahagia bersamaku… Sudahlah, Fany… Terimalah… Anggap saja Sica memang bukan bidadari yang dikirimkan Tuhan untukmu…

Tiffany POV End

Tiffany pun membersihkan air mata di pipinya. Lalu ia mulai mengetik balasan untuk Jessica.

Waah… Jjinjja? Senangnyaa :D

Kamu harus semangat ya, kan Yuri sudah menjengukmu ^^

Tiffany pun mengirim balasan SMS untuk Jessica. Ia pun merebahkan dirinya di kasur dan menutup matanya.

Several days later…

Akhirnya komik yang dibuat oleh Yuri telah selesai. Yuri pun akan menyatakan perasaannya pada Jessica. Saat ini, Yuri dan Tiffany sedang ada di taman belakang sekolah mereka, tepatnya dibalik sebuah semak belukar yang ada disana, tentu saja untuk menyusun strategi.

“Jadi, aku langsung berikan sketsa ini pada Jessica, lalu aku menyuruh Jessica untuk membacanya?” tanya Yuri gugup.

“Ya, tentu saja! Kau mau gimana lagi? Ayolah Kwon Yuri… Kan kamu udah lama pdkt sama dia, masa ragu- ragu lagi sih! Tuh, Jessicanya sudah ada. Sana sana!” ucap Tiffany sambil mendorong Yuri keluar semak. Yuri pun jatuh tersungkur dan Jessica yang ada disana terkaget melihat Yuri yang tiba- tiba saja muncul dari balik semak.

“KYAAAAA~ Yuri? A… Ada apa memanggilku kesini?” tanya Jessica gugup.

“Emmm… Ini… Aku ada bikin komik baru, silakan dibaca ^^” ucap Yuri malu- malu. Jessica pun mengambil sebuah amplop coklat yang berisi sketsa komik buatan Yuri. Jessica pun membacanya dengan penuh penghayatan. Tiba- tiba wajahnya memerah. Yuri pun angkat bicara.

“Jessica, sudah lama aku menyukaimu. Will you be my girlfriend?” tanya Yuri sambil tersenyum. Wajah Jessica makin memerah. Tak lama kemudian, Jessica mengangguk.

“Ne, i will. I love you too, Yuri,” ucap Jessica malu- malu. Tiba- tiba Yuri merengkuh Jessica lembut. Tiffany hanya melihat mereka berdua dari balik semak belukar. Tiffany hanya tersenyum. Tiba- tiba Yuri memanggil Tiffany.

“Tiffany! Kemari!” ucap Yuri sambil memanggil Tiffany. Tiffany yang bingung pun hanya menghampiri Yuri.

“Wae, Yuri?” tanya Tiffany bingung.

“Sica, Tiffany lah yang membuatku mantap untuk menyatakan perasaanku padamu :D” ucap Yuri senang.

“Jjinjja? Waaah… Gomapta Fany- aa… >.<” ucap Jessica senang.

“Cheonma, Sica ^^” ucap Tiffany.

“Nah, sekarang aku akan mempertemukanmu dengan seseorang, dia menawarimu pekerjaan untuk berkolaborasi loh :D” ucap Yuri senang.

“Mwo? Siapa?” tanya Tiffany bingung. Tiba- tiba ada seorang yeojya manis yang berdiri di belakang Tiffany.

“Annyeong, namamu Tiffany Hwang kan?” tanya yeojya itu.

“Ne…” ucap Tiffany.

“Namaku Kim Taeyeon, anak klub fotografi. Kamu yang namanya Tiffany Hwang kan?”

“Ne, Taeyeon. Aku juga anak klub fotografi. Apa Taeyeon mau berkolaborasi denganku?” tanya Tiffany.

“Ani, aku bukannya mau berkolaborasi denganmu. Tapi aku sedang mengikuti kontes fotografi. Kau cantik sekali. Kamu mau nggak jadi modelku?” tanya Taeyeon ramah. Tiffany pun tersenyum cerah.

“Ne, aku mau. Mohon kerjasamanya, Kim Taeyeon!” ucap Tiffany senang.

Taeyeon pun menjabat tangannya sambil tersenyum hangat pada Tiffany.

“Mohon kerjasamanya juga, Tiffany Hwang :)” ucap Taeyeon sambil tersenyum pada Tiffany.

Sepertinya, perjalanan cinta Tiffany bukannya berakhir, bahkan sepertinya baru dimulai sekarang :)

THE END

Gimana? Pasti geje u,u

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

 

FF JongKey: I’m Not Him!

Annyeong! Author balik lagi >3< *wave*

Kali ini, karena bosan sama random couple yang dipandang di lappy sehari- hari, author bakal coba buat FF JongKey Couple dengan taraf normal a.k.a nggak yadong ^^

Bagi yang nggak suka pairing yaoi/ JongKey, daripada nge- bash tolong jangan dibaca, ne?

Arraseyo, happy reading chingu :D

\(^.^)/

“Jonghyuuuun~! Jangan parkir mobilnya disini! Aku kan’ nggak bisa turun jadinya >.<” pekik Key saat Jonghyun memarkir mobilnya tepat di depan pagar rumah Key.

“Mianhae, Key TT^TT” ucap Jonghyun memelas seraya memajukan sedikit mobilnya.

“Duh, kau ini nggak bisa kira- kira banget deh. Nggak seperti Onew >.<” protes Key dengan bibir mengerucut. Jonghyun hanya terdiam. Kenapa… Selalu menyebut- nyebut nama namja itu… Padahal…

Flashback POV

Hari ini adalah hari yang benar- benar berkabung. Hari ini adalah hari kematian Lee Jinki, atau yang biasanya disapa sebagai Onew karena gagal jantung. Semua keluarga dan kerabatnya pun ikut serta dalam upacara pemakamannya, tak terkecuali pacarnya, Kim Kibum yang biasa disapa Key. Key hanya bisa meratap dan menangis tersedu- sedu di depan makam Onew. Adik Onew, Lee Taemin pun mencoba menenangkan ‘kakaknya’ itu.

“Hyung… Sabarlah… Ini memang sangat menyakitkan untuk kita, tapi Tuhan sudah menginginkan Onew hyung untuk kembali,” ucap Taemin pelan sambil mengelus punggung Key.

“Onew… Dia… Dia adalah yang terbaik yang pernah aku miliki… Dia begitu perhatian padaku… Padahal selama ini, banyak orang yang menganggap kalau aku ini cerewet… Tapi dengan senangnya, dia bilang kalau aku adalah orang yang sangat baik…” tangis Key.

“Hyung, Onew hyung memang baik. Makanya Tuhan ingin Onew hyung segera pulang untuk menemuinya… Hyung yang tabah, ne?”

“Eung… Gomapta, Minnie :)” ucap Key sambil tersenyum ke arah Taemin.

Sejak hari itu, Key sering berziarah ke makam Onew. Tapi saat berziarah, ia selalu bertemu dengan seorang namja yang selalu berziarah ke makam ummanya. Namja itu bernama Jonghyun. Mereka berdua berkenalan dan merasa cocok satu sama lain, lalu tak lama kemudian mereka pun menjalin hubungan.

Flashback POV End

“Kalau Onew, pasti langsung membukakan pintu untukku =3=” cibir Key.

“Mmm… Kalau begitu, nanti akan selalu kulakukan untukmu ^^” ucap Jonghyun dengan tampang bahagia. Key pun terhenyak melihat senyum manis Jonghyun.

“Aih, Jonghyun~ Kau manis sekalii~” ucap Key gemas sambil mencubit pipi Jonghyun yang hanya tersenyum, “Oh ya Jonghyun, katanya besok ada pusat perbelanjaan yang baru dibuka. Kita ke sana yuk?”

“Hah? Besok? Jam berapa?” tanya Jonghyun setelah mereka berdua masuk ke rumah Key dan duduk di ruang keluarga.

“Ne, besok, jam 13.00 setelah aku pulang dari kampus. Gimana? Mau yaa~” bujuk Key.

“Mianhae, Key… Besok aku ada latihan sepak bola jam segitu. Sore saja yah?”

“Huuh~ Jonghyun babo! Kalau Onew, pasti langsung mau =3=” cibir Key. Jonghyun pun menjadi sedikit kesal.

“Arraseyo, sesukamu lah! Besok jam 13.00 aku jemput! Kau siap- siap yah. Aku pulang dulu,” tukas Jonghyun sambil keluar dari rumah Key, lalu mengendarai mobilnya pulang.

“Ya! Tunggu! Kau bahkan belum pamitan padaku!” teriak Key seraya mengejar mobil Jonghyun, tapi tak terkejar.

‘Fuuh… Percuma saja aku mencari pacar pengganti sebaik Onew, memang cuma dia saja yang bisa sebegitu baiknya padaku,’ gumam Key dalam hati.

Jonghyun POV

Aigoo! Key itu! Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya sendiri? Kenapa dia selalu membandingkanku dengan Onew? Apa dia pacaran denganku hanya karena aku akan dianggap sebagai ‘The Second Onew’ baginya? Ah, muak rasanya memikirkan itu. Rasanya aku ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi… Aku terlalu mencintainya… Begitu mencintainya sampai aku tak mau melepaskannya…

Jonghyun POV End

The next day… Key’s House, 13. 15 pm

“Key~” panggil Jonghyun sambil mengetuk pintu rumah Key. Pintu rumah pun dibuka oleh Key dengan wajah galaknya.

“Terlambat 15 menit!” ucapnya singkat.

“Mi… Mianhae, Key… Tadi aku minta izin dulu dengan pelatih sepak bola, ia mempermasalahkan jumlah kehadiranku di tempat latihan yang tidak terlalu aktif. Dia bilang kalau sampai aku nggak latihan lagi minggu depan…”

“Alasan! Kau ini, bilang saja kau mengantarkanku malas- malasan. Kalau Onew yang menjemputku, pasti dia akan datang tepat waktu, bahkan lebih awal daripada jam yang telah kutentukan! Baiklah, karena kau sudah terlambat, ayo pergi saja,” cerocos Key enteng, lalu meninggalkan Jonghyun yang masih terpaku di pintu depan rumah Key, “Hoi! Sini, Jonghyun! Jangan membuang- buang waktu!”

Jonghyun pun kembali merasakan dirinya terkoyak. Tapi ia tak bisa berbuat apa- apa. Dia pun masuk ke mobil dan menyetirnya dengan wajah datar. Key pun berbicara padanya.

“Hei Jonghyun, apa aku terlihat kyeopta hari ini?” tanya Key malu- malu. Tapi Jonghyun tak menjawab.

“Jonghyun! Ya! Kalau Onew pasti langsung memuji penampilanku,” cibir Key. Tapi Jonghyun tetap diam.

“Jonghyun!” teriak Key.

“Key, tolong jangan ganggu aku saat menyetir,” ucap Jonghyun pelan.

“Huh! Kalau Onew, pasti ia akan terus bicara denganku dan menatap wajahku dengan penuh cinta!” teriak Key. Jonghyun pun menjadi amat sangat kesal dengan kelakuan bodoh Key.

“Arraseyo! Aku akan menyetir sambil bicara dan menatapmu!” teriak Jonghyun kesal sambil menatap wajah Key. Tiba- tiba sebuah mobil datang dari arah depan.

“Jonghyun! Ada mobil!” teriak Key. Jonghyun yang kaget pun langsung membanting stir. Mobil mereka pun terhindar dari kecelakaan dan mereka berhenti sebentar untuk mengatur nafas.

“Uhh… Hampir saja… Terimakasih, Tuhan…” ucap Jonghyun lega. Key pun masih sibuk mengatur nafasnya. Kemudian ia berujar dengan dongkol.

“Kau ini mau membahayakan nyawaku yah? Kalau Onew, pasti ia bisa menyetir dengan benar,” omel Key. Jonghyun hanya diam, tak bisa membalas.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka sudah sampai di department store. Tiba- tiba Jonghyun dan Key bertemu dengan KyuMin dan EunHae Couple.

“Annyeong Jonghyun, annyeong Key!” ucap 2 couple itu.

“Annyeong hyung!” ucap Key senang.

“Annyeong,” ucap Jonghyun sambil membungkukkan badannya.

“Kalian sedang nge- date?” tanya Eunhyuk pada Jonghyun dan Key.

“Ne ^^” ucap Jonghyun.

“Mmm… Jonghyun hanya menemaniku belanja…” ucap Key. Jonghyun pun tersentak kaget. Hanya menemaninya belanja, katanya? Ya Tuhan…

“Oh ya, disana ada butik baru loh! Nama butiknya ‘Gerlan Jeans.’ Modelnya keren- keren loh! Kita kesana yuk!” ajak Sungmin yang dari tadi memeluk lengan Kyuhyun.

“Ne, aku ikut! Jong, mau ikut?” tanya Key pada Jonghyun yang sejak tadi termenung.

“Mm… Ne…” ucap Jonghyun pelan. Mereka pun pergi menuju ke Butik Gerlan Jeans. Sesampainya disana, mereka pun memilih baju sesuai dengan selera masing- masing. Couple KyuMin membeli jaket couple kembar, sedangkan Couple EunHae masih sibuk memilih- milih baju. Begitu pula dengan Key dan Jonghyun.

“Jonghyun! Kamu mau jaket ini nggak?” ucap Key senang sambil menunjukkan sebuah jaket pink dengan aksesoris yang ramai pada Jonghyun.

“Mwo? Apa ini?” tanya Jonghyun kaget.

“Ini? Ini jaket. Gimana? Mau beli nggak? :D” tanya Key senang.

“Ani, Key. Yang lain saja deh…”

“Uuh, dasar Jonghyun babo, nggak tahu style! Kalau Onew, pasti ia akan menerima apapun yang aku beri =3=” keluh Key sambil ber- aegyo. Tapi Jonghyun sama sekali tak menggubris keluhan bodoh Key itu. ‘Mana ada yang mau ditindas olehmu selain Onew,’ gumamnya dalam hati.

“Hmm… Gimana kalau kemeja stripe ini? Hitam putih loh, mau nggak?” tanya Key senang.

“Boleh. Ini baru bagus ^^” ucap Jonghyun dengan wajah bahagia, atau yang lebih tepatnya dipaksakan bahagia. Tapi memang baju pilihan Key kali ini lumayan bagus. Tak aneh dan nyentrik seperti jaket pink tadi.

“Nah, sudah kubilang kan? Semua pilihanku pasti bagus :D” ucap Key senang, “Oh ya, gimana kalau yang ini? Aku mau beli untukku ^^” ucap Key sambil menyodorkan sebuah jaket ungu bergambar wajah kartun.

“Hmmm… Bagus kok. Kelihatannya cocok banget untukmu. Sana, coba di kamar pas :D” ucap Jonghyun ramah.

“Temani masuk ke kamar pas dong? :9” goda Key tiba- tiba. Jonghyun pun kaget dengan reaksi Key yang ‘tiba- tiba’ seperti ini.

“Emm… Ah, mian… Aku tak bisa…” ucap Jonghyun terbata- bata.

“Aih… Kalau Onew, pasti menemaniku ganti di kamar pas selama berjam- jam >3<” keluh Key. Akhirnya Jonghyun pun menuruti perintah Key, sekaligus mencoba kemeja stripe yang ditunjukkan oleh Key tadi. Tak lama kemudian mereka pun keluar dari kamar pas dan membayar baju masing- masing.

“Kita pulang yuk Jonghyun~” ucap Key, “Key udah capek nih…”

“Arraseyo. Hyung, kami pulang dulu yah. Annyeong higaseyo~” ucap Jonghyun sambil membungkuk pada Kyuhyun, Sungmin, Eunhyuk, dan Donghae. Kemudian Jonghyun dan Key pun berjalan ke parkiran. Tiba- tiba Key merasakan sesuatu.

“Jonghyun, aku mau pipis nih… Aku balik ke mall bentar yah…” ucap Key pada Jonghyun dengan tampang memelas.

“Mwo? Kau mau pipis?” tanya Jonghyun untuk memastikan kalau ia tak salah dengar.

“Ne, beneran… Tunggu disini bentar yah Jong…”

“Ne…”

Key pun kembali berlari masuk ke mall. Jonghyun hanya tersenyum dan menunggu Key. Tapi 3 jam kemudian ia belum datang. HP nya pun tak bisa dikontak. Jonghyun pun mulai gelisah. Hujan pun turun. Ingin rasanya ia pergi duluan ke parkiran dan masuk ke mobil, tapi dia sudah berjanji pada Key kalau ia harus menunggu di tempat itu. Bagaimana kalau Key sampai tersesat?

Sudah 4 jam lebih, pikir Jonghyun. Ia kembali mengontak HP Key, tapi sama sekali tak tersambung. Terlintas di pikiran Jonghyun untuk menyusul Key ke dalam mall. Tapi bagaimana kalau saat Jonghyun masuk ke mall mencari Key, Key malah sudah keluar dari mall dan mencari- cari Jonghyun kemana- mana. Kini pikiran buruk pun menghantui Jonghyun. Ia sudah tak peduli dengan bajunya yang basah semua. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Key. Key.

Tiba- tiba orang yang dinantikan Jonghyun muncul dari balik pintu mall. Ya, itu adalah Key. Tapi kenapa dia membawa banyak kantung belanja? Jonghyun pun menghampiri Key yang kelihatan tenang- tenang saja.

“Key, kenapa kau…” tanya Jonghyun, tapi terputus karena Key sudah keburu menjawabnya.

“Kenapa? Jelas saja aku belanja. Kenapa?” tanya Key tanpa rasa bersalah.

“Kau bertanya kenapa? Aku menunggumu disini selama 4 jam lebih, diguyur hujan dan kekhawatiran, kenapa kau malah belanja sendiri tanpa memberitahuku?” tanya Jonghyun kesal.

“Onew malah pernah menungguku seharian. Ini masih belum seberapa. Ayo ke parkiran. Tolong bawakan kantung belanjaku,” ucap Key sambil menyerahkan semua kantung belanjanya pada Jonghyun. Jonghyun hanya pasrah dan membawanya ke mobil. Mereka pun menaiki mobil dan tak lama kemudian mereka sampai di rumah Key. Jonghyun pun membukakan pintu untuk Key dan membawa semua barang belanjaannya ke dalam rumah kosong itu.

“Huft… Entah kenapa hari ini aku merasa nggak seru denganmu, Jonghyun… Bersama Onew masih jauh lebih seru…” ucap Key datar sambil berdecak sendiri. Jonghyun pun angkat bicara setelah banyak bungkam.

“Kenapa kau selalu berbicara tentang Onew?” tanya Jonghyun pelan.

“Mwo?”

“Kenapa kau selalu menyamakanku dengan Onew! Kenapa kau selalu menginginkan aku melakukan apa yang Onew lakukan padamu! Aku memang tak sesempurna Onew, tapi tolong jangan samakan aku dengan dia! Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak mau kalau begini caranya!” teriak Jonghyun kesal. Matanya mulai berkaca- kaca, tapi ia berusaha membendungnya. Key pun membuka mulutnya, tapi tak sanggup berbicara karena Jonghyun keburu meneruskan ocehannya.

“Aku tahu, di saat seperti ini, kau pasti akan berkata, ‘Kalau Onew pasti ia tak pernah membentak atau memarahiku kalau aku melakukan kesalahan.’ Tapi maaf saja, aku KIM JONGHYUN, bukan LEE JINKI! Dan aku tidak akan bisa jadi sebaik Onew. Maaf saja untuk semua ini. Kalau kau memang tak suka dengan semua ini, KITA PUTUS SAJA!” teriak Jonghyun lagi. Kini air matanya telah mengalir. Ia pun beranjak dari rumah Key. Key hanya tertegun.

Jonghyun POV

Key, maafkan aku… Sebenarnya aku memang sangat mencintaimu. Aku nggak mau kalau kamu sampai terluka. Tapi kalau begini caranya, semua orang juga akan berkata hal yang sama padamu, bahkan aku tak tahu kalau orang lain mungkin akan main kasar denganmu. Kumohon… Berubahlah, Key…

Jonghyun POV End

The Next Day…

Jonghyun terbangun di rumahnya denga rasa sesal. Kenapa kemarin ia sampai lepas kendali di hadapan Key? Sekarang Jonghyun merasa bodoh. Pasti pagi ini juga, hubungannya dengan Key tinggal sebuah kenangan saja.

‘Terima saja takdirmu yang menyedihkan ini, Kim Jonghyun… Kau memang bukan namja yang pantas untuk bersanding dengan seorang Diva Key…’ gumamnya dalam hati. Ia pun berjalan gontai menuju ke luar kamar. Tiba- tiba ia mencium bau harum. Seperti makanan. Jonghyun pun turun untuk memastikan. Dan benar saja, di atas meja banyak hidangan yang terlihat sangat enak. Tapi tak ada seorang pun disini. Selama ini kan, Jonghyun tinggal sendiri. Jadi siapa yang memasak ini semua?

‘Apa appa sudah pulang yah? Tapi appa kan nggak bisa masak?’ gumam Jonghyun bingung, ‘Jangan- jangan arwah umma…’ pikirnya.

Jonghyun pun menelusuri seluruh rumah, tapi hasilnya benar- benar nihil. Tiba- tiba ia mendengar suara- suara dari kamarnya. Jonghyun pun segera menuju ke kamarnya dan mendapati Key yang terbaring di lantai, ditimpa baju- baju dan selimut yang ada di dalam lemari pakaian Jonghyun yang memang isinya acak- acakan. Jonghyun pun segera menyingkirkan selimut- selimut dan pakaian- pakaiannya yang menimpa tubuh mungil Key.

“Key, gwenchanaeyo?” tanya Jonghyun khawatir.

“Ehehehe… Gwenchana ^^;;” ucap Key pelan.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Jonghyun bingung.

“Ani, aku hanya ingin minta maaf soal kemarin…” jawab Key sambil menundukkan kepalanya. Jonghyun pun terdiam melihat penampilan Key. Dia tidak stylish dan fashionable seperti biasanya. Dia hanya memakai kaos putih dan celana pendek warna hitam dibalik sehelai apron (celemek) pink dengan motif stripe putih. Jonghyun pun merangkul Key.

“Kita bicarakan di dapur saja, eoh?”

“Eung… Ah!” teriak Key tiba- tiba.

“Ah, waeyo, Key?” tanya Jonghyun yang lalu kaget saat melihat kaki Key yang penuh darah. Jonghyun pun segera menggendong Key dan mendudukkannya di kasur, kemudian mengambil kotak P3K untuk mengobati kaki Key.

“Kenapa kaki indahmu jadi seperti ini, Key? Ya Tuhan…” ucap Jonghyun khawatir.

“Tadi aku menerobos masuk rumahmu lewat ventilasi… Aku memanjat pohon, lalu jatuh dan kakiku berdarah karena nyangkut di semak bunga mawar TT^TT” cerita Key sambil sesekali mengaduh dan mendesah kesakitan.

“Aigoo… Dasar aneh… Kenapa kau tak mengetuk pintu saja. Repot kan, kalau sudah begini…”

“Habisnya, kalau ingat kejadian kemarin, pasti Jonghyun nggak akan mau bukakan pintu rumah buatku…” ucap Key nanar, “Aaaaaaaaaahhhhh~ Jonghyun, sakiiit~! Nggggh~” teriak Key sambil menjambak rambut Jonghyun.

“KYAAAAAAAA~! Jangan jambak rambutku, Key! Aku kan’ sedang mengobatimu…”

“Ahhhh… Perih… >.<”

“Tahan sebentar yah, aku perban dulu… Nah, selesai,” ucap Jonghyun. Sekarang kaki kiri Key telah diperban.

“Emm… Sudah yah? Gomapta, Jonghyun…”

“Ne, cheonma… Ayo kita ke ruang makan,” ucap Jonghyun sambil menggendong Key turun ke ruang makan. Mereka pun makan pagi berdua hari itu.

“Jonghyun…” ucap Key pelan.

“Hm?”

“Mianhae soal kemarin… Aku… Aku terlalu manja padamu… Aku selalu menuntut agar kau bisa melakukan semua hal seperti layaknya Onew. Maafkan aku… Maaf…” ucap Key sambil menangis. Jonghyun pun menatapnya dengan tatapan lembut.

“Aku juga ingin minta maaf, kemarin aku terlalu kasar padamu. Aku juga telah membentakmu begitu keras. Maafkan aku,” ucap Jonghyun pelan. Key masih terisak- isak.

“Aku… Aku takut… Jangan berpisah dariku…” ucap Key sambil menangis. Jonghyun pun merengkuhnya dengan lembut.

“Aku tak akan meninggalkanmu, Key… Karena aku mencintaimu… Aku tak akan pernah meninggalkanmu, aku pun akan berusaha untuk melakukan semuanya seperti Onew .. hmpp…” kata- kata Jonghyun pun terputus karena Key menciumnya dengan lembut, kemudian melepaskannya perlahan.

“Jangan jadi Lee Jinki…”

“Mwo? Wae?”

“Kemarin kau bilang sendiri kan? Kau bukan Lee Jinki, tapi Kim Jonghyun, namja chinguku ;)” ucap Key sambil mengedipkan sebelah matanya. Jonghyun terperangah. Kemudian ia memeluk Key erat- erat.

“Hmmph~ Jonghyun~”

“Saranghaeyo Key! Aku akan selalu menjagamu~” ucap Jonghyun senang.

“Kalau begitu, boleh dong suapi aku, dengan cara Kim Jonghyun, ne?” ucap Key senang.

“Tentu saja! Aku akan melakukannya dengan cara Kim Jonghyun! :D” ucap Jonghyun semangat.

“Tapi sebelumnya, aku minta cium dulu :P” ucap Key jahil. Mendadak wajah Jonghyun memerah. Tiba- tiba Key tertawa tebahak- bahak. Merasa dikerjai, Jonghyun pun protes.

“Ya! Dasar Key usil! DX” teriak Jonghyun kesal.

“Hahahaha~ Habisnya… mmmhh…” tiba- tiba kata- kata Key terputus karena Jonghyun telah menciumnya, lalu melepaskannya. Sekarang wajah Key yang merah padam seperti kepiting rebus.

“HAHAHA~! Key memerah! Seperti KEYpiting rebus~ KYAHAHAHAHA~” tawa Jonghyun pun menggelegar. Key hanya tersenyum simpul.

“Hei, Jonghyun…”

“Hehehe, apa?”

“Aku yakin, hubungan ini pasti bisa terus berlanjut selamanya :’)” ucap Key senang. Jonghyun pun tersenyum, lalu merangkul dan mengelus kepala Key.

“Tentu saja Key. Hubungan ini pasti akan terus dan selalu bertahan… Selamanya…”

THE END

Fuahh~ Akhirnya selesai…. *author nari samba – abaikan*

Gimana? Ceritanya jelek? Gaje? Kacau? =3=

Mohon kritik dan sarannya yah ^^

Kalau yang nggak suka, tolong jangan baca, apalagi nge- bash ^^/ *author cinta damai*

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

FF 2Min: A Scooter Called 2Min

Annyeong chingu, kali ini author balik dengan FF 2min. Yah, sebenarnya ini terinspirasi dari usulannya appa saya, tapi saya permak sedikit. HATE YAOI/ 2MIN, DONT READ, DONT BASH, ok?

Happy reading~!

\(^.^)/

Tangisan dari rumah itu… Kian menggema… Rumah besar yang semula anggun itu, kini menjadi suram. Dari dalam garasi di rumah itu, terdengar isakan tangis yang sangat memilukan. Ruangan itu cukup luas, bahkan terlalu luas untuk disebut sebagai sebuah garasi. Ruangan itu hanya diisi dengan sebuah skuter matic pink limited edition yang ditutupi oleh kain penutup berwarna hitam terparkir di tengah- tengah garasi. Di samping skuter matic itulah, seorang namja bercelana pendek yang memakai kemeja kebesaran itu menangis tersedu- sedu sambil meremas sebuah kertas yang kini sudah amat sangat lusuh…

Flashback POV

“Taeminnie, ini rumah baru kita!”

“Wah, Minho hyung… Apa benar kita hanya akan tinggal berdua saja disini?” tanya Taemin pada suaminya, Minho.

“Ne, tentu saja Taeminnie. Kita kan’ sudah menikah, boleh dong kita punya rumah sendiri. Onew hyung dan Key saja sudah punya, kenapa kita tidak? ;)” ucap Minho, suami Taemin sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ummm… Hyung… Rumah ini… Apa hyung beli dengan uang hyung sendiri?”

“Ani, hyung tak membelinya :)”

“Lalu?”

Minho pun menatap Taemin yang bingung dengan lembut, kemudian mengelus kepalanya pelan.

“Hyung mendesain rumah kebahagiaan kita ini hanya untukmu,” ucap Minho sambil mengecup kening Taemin.

“KYAAAAAAAH~ Hyung!” teriak Taemin sambil sedikit mendorong tubuh Minho.

“Hahaha… Dasar Taeminnie! Kita kan’ sudah menikah, jadi hyung bebas berbuat apa saja denganmu :D” kekeh Minho geli. Rupanya, setelah menikah pun, kebiasaan Taemin malu- malu dan sok jual mahal masih belum hilang juga.

“Hyung babo ih! Udah ah, kita berbenah rumah dulu!” omel Taemin kesal dengan wajah yang memerah.

“Eh, tunggu dulu! Hyung masih punya sesuatu untukmu :D” ucap Minho sambil menarik tangan Taemin ke garasi. Di garasi itu, terparkir sesuatu yang ditutupi dengan kain penutup berwarna hitam.

“Mwo? Apa itu hyung?” tanya Taemin polos.

“Hihihi… Ini juga hadiah pernikahan dari hyung spesial untukmu, Taemin,” ucap Minho sambil membuka kain penutup itu dan menyibakkannya dengan gaya matador, “TADAAAAAAA~!”

Rupanya sesuatu yang ditutupi itu adalah sebuah skuter matic limited edition keluaran terbaru. Dan tebak warnanya apa? Ya, warnanya adalah ‘Pastel Pink.’

“Eh, apa itu hyung? Motor, ne?” tanya Taemin lagi.

“Aigoo… Istriku sayang… Ini bukan motor… Cobalah lebih mendekat lagi…” ucap Minho sambil menggandeng Taemin, “Ini namanya skuter matic. Mirip motor mainan gitu, nggak perlu SIM dan plat nomor kendaraan. Kan’ lumayan buat jalan- jalan sore, atau belanja ke pasar. Gimana? Bagus nggak?” tanya Minho. Taemin pun mengangguk senang dan memeluk Minho.

“KYAAAAAAAA~ Gomapta, hyung! >.<” ucap Taemin senang. Minho hanya mengelus kepala Taemin lembut.

“Arraseyo, apa kau mau jalan- jalan nanti sore? Sekalian kita coba skuter ini ^^”

“Eung!” angguk Taemin semangat.

“Baiklah, kita tidur siang dulu, ne? Jam 4 sore nanti akan hyung bangunkan ;)”

“Ne ^^”

Mulai hari itu, setiap sore mereka selalu berjalan- jalan mengendarai skuter itu. Minho selalu menyetir dan Taemin dibonceng dibelakangnya. Tapi lambat laun, kesehatan Minho pun mulai melemah. Sudah berulang kali ia pingsan, dan berulang kali juga Taemin memaksanya untuk pergi ke dokter. Tetapi Minho selalu menolak untuk ke dokter, dengan alasan hanya terlalu capek bekerja di kantor. Mereka juga masih sering berjalan- jalan. Tapi kali ini Taemin yang membonceng Minho dengan mengendarai skuter itu. Pada suatu pagi, Minho bangun dengan wajah yang amat sangat pucat.

“Mwo? Hyung… Kenapa wajahmu sepucat itu… Hyung sakit, eoh? Istirahatlah dirumah…” ucap Taemin khawatir sambil memegang dahi Minho.

“Ah, ani… Kemarin hyung tak bisa tidur… Jadi nggak tidur semalaman deh, hehehe… Nih, saat hyung melihatmu saja, pusing- pusing hyung sudah sedikit hilang :D” gombal Minho sambil mengecup dahi Taemin. Wajah Taemin hanya memerah dan mengabaikan gombalan Minho.

“Ah, dasar hyung… Dari dulu kalau urusan menggoda, hyung memang paling jago u,u” cibir Taemin pada Minho yang hanya tersenyum simpul. Taemin pun meletakkan dua piring roti bakar di meja makan, kemudian duduk di sebuah kursi yang menghadap Minho. Ditatapinya wajah dan mata Minho yang menerawang entah kemana. Lalu tiba- tiba Minho angkat bicara.

“Taeminnie…” ucap Minho pelan.

“Ne, waeyo, hyung?”

“Kalau kau bisa memilih, kau ingin kehilangan aku atau dirimu sendiri?”

Taemin seketika terhenyak mendengar kata- kata Minho. Suasana pun mendadak canggung. Lalu Taemin pun bicara.

“Emm… Aku akan memilih kehilangan diriku sendiri, dearipada harus kehilangan hyung :)” ucap Taemin dengan senyum menawan yang membuat Minho terhenyak, “Kenapa tanya seperti itu?”

“Mmm… Ani, hanya ingin tahu saja…”

“Jangan- jangan… Hyung mau gombal lagi yah? Uuuh! Udah tau kaliii~ :P” ledek Taemin pada Minho yang lagi- lagi hanya tersenyum simpul, kemudian melahap roti bakar perlahan.

‘Sungguh berbeda sekali Minho hyung pagi ini,’ gumam Taemin dalam hati.

Tak lama kemudian, Minho pun bergegas ke kantor. Taemin pun mengantarkan Minho ke pintu depan.

“Hyung, selamat jalan. Hati- hati, ne? Ini bekal makanannya ^^” ucap Taemin sambil menyerahkan sekotak bekal pada Minho, kemudian Minho mencium pipi dan kening Taemin.

“Bye, Taeminnie :)” ucap Minho sambil melambaikan tangan. Tiba- tiba Taemin menarik tangan Minho.

“Hyung…”

“Hm? Wae?”

“Hyung… Pasti pulang kan?” tanya Taemin penuh khawatir.

“Hm… Mungkin…”

“Hyung ada lembur yah? Kalau begitu, pagi ini aku ingin lebih :P”

“Mwo? Maksudmu?” tanya Minho bingung. Taemin lalu menyentuh bibir Minho, lalu menyentuh bibirnya sendiri. Minho pun seketika tersenyum evil dan melakukan apa yang diminta oleh Taemin untuk beberapa saat.

“Sekarang kau mulai pervert, eoh?” cibir Minho pada Taemin yang hanya mengerucutkan bibirnya.

“Ani, hyung… memangnya salah kalau aku ingin? =3=”

“Ani. Kau boleh memintanya kapan saja ^^ Oh ya, tunggu sebentar yah!” ucap Minho sambil berlari ke dalam, sepertinya ke arah garasi. Tak lama kemudian, Minho kembali lagi.

“Ada apa hyung?” tanya Taemin.

“Ani, nggak ada apa- apa. Hyung pergi dulu yah. Annyeong higaseyo! ^^”

Taemin pun melambai. Entah apa yang membuatnya berpikir kalau ini adalah terakhir kalinya ia merasakan bibir tebal itu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tepat. Tapi Minho belum juga pulang. Taemin sangat gelisah. Ia terus- terusan berjalan mondar- mandir, lalu menelepon beberapa orang untuk mengusir kesepiannya. Bahkan Key sudah marah- marah karena waktunya dengan Onew harus diganggu deringan telepon tiap detiknya. Tiba- tiba telepon rumah Taemin berdering. Segeralah telepon itu diangkatnya. Tapi saat ini ia tak mengenal suara berat yang menjadi lawan bicaranya itu.

“Dengan Lee Taemin?” ucap suara di seberang telepon.

“Ne, ini siapa yah?”

“Kami dari kepolisian. Apa benar anda adalah istri dari Choi Minho?”

“Ne, ada apa?”

“Suami anda… Meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas…”

Taemin terperanjat. Dia pun segera mengeluarkan skuter dari garasinya. Ia segera meluncur ke Rumah Sakit Umum Shinwa. Begitu sampai, mayat suami tercintanya sedang menjalani autopsi. Taemin hanya bisa menangis, meratapi keadaannya yang sekarang akan dan memang harus siap untuk berpisah dengan Minho, padahal belum sebulan sejak menikahnya mereka… Dan saat mayat selesai di autopsi, ditemukan sebuah surat yang ditujukan untuk Taemin.

Flashback POV End

Taeminnnie, maaf, hyung sudah gagal menjagamu. Sebenarnya hyung sudah mempunyai firasat kalau hyung akan meninggalkanmu. Tapi kalau memang ini tak terjadi, pasti kamu tak akan menerima surat ini. Sekali lagi, maafkan hyung. Tapi, apapun yang terjadi, Taeminnie harus tetap kuat, harus tetap tabah, untuk menjadi namja yang kuat. Hyung yakin, Taeminnie pasti bisa. Mungkin raga hyung memang tidak ada di sampingmu sekarang ini. Tapi hyung akan selalu mengawasimu dan menjagamu, hyung akan selalu ada di hatimu :)

Kini tangisan Taemin mulai mereda. Ia mulai membaca kembali tulisan itu dengan seksama.

Taeminnie, aku tahu, saat membaca surat ini pun, kau pasti sedang menangis. Ya, kau tahu. Aku juga sedih meninggalkanmu. Tapi kau tak boleh terus- terusan begini. Di luar sana masih ada banyak peluang. Kau harus berjuang dengan semangat, tapi kau tak sendiri. Hyung akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Bangkit dan kendarailah skuter itu seperti sedia kala…

Taemin terbengong. Oh ya! Skuter! Taemin pun menyibak kain penutup itu dan melihat sebuah skuter kusam dibaliknya.

Skuter itu, adalah tanda cinta abadi hyung kepadamu. Kau boleh memberi nama apapun pada skuter itu. Jadi kau tak hanya bersama hyung, tapi juga skuter itu. Jagalah skuter itu baik- baik, jangan abaikan di garasi, atau bahkan di jual, ne? Banyak sekali kenangan manis disana. Dan coba tebak, apa isi keranjang dibalik jok nya? Kalau mau tahu, buka saja.

Taemin pun membuka jok itu dan dari dalamnya keluar sebuah balon gas bentuk hati yang bertuliskan hangul ‘saranghaeyo’ yang diikatkan ke keranjang yang sebenarnya adalah tempat menyimpan helm dibawah jok. Air mata Taemin pun kembali mengalir.

“Hyung… Dalam situasi begini pun hyung pandai menggombal…” tangis Taemin.

Arraseyo, hyung harap kau masih ingat jam jalan- jalan kita. Kalau tak ingat lagi, jam jalan- jalan kita itu adalah jam 4 sore. Arraseyo, semangat yah! Jeongmallo saranghaeyo :)

~Choi Minho~

“Aku ingat hyung… Gomapta :)” ucap Taemin sambil mengecup kertas itu. Kemudian ia membersihkan skuter itu dan pergi jalan- jalan ke taman pada jam 4 sore. Begitu sampai di taman, ia pun duduk di salah satu bangku yang dulu sering didudukinya bersama Minho. Tiba- tiba seorang namja ikut duduk di sebelahnya.

“Taemin ^^” ucapnya ramah. Rupanya itu adalah Jonghyun.

“Mwo? Annyeong Jonghyun hyung :)” jawab Taemin ramah.

“Sedang apa disini?”

“Duduk- duduk saja, kalau hyung?”

“Sama, sedang duduk- duduk saja. Oh ya, beberapa hari yang lalu Minho meninggal yah?”

“Ne… Wae hyung?”

“Begini… Aku merasa kalau tinggal sendirian adalah hal yang berat bagimu. Bagaimana kalau kau sementara tinggal di rumahku?” tawar Jonghyun. Tapi Taemin hanya menggeleng.

“Ani, gomapta, hyung. Aku bisa melakukannya. Karena aku tak sendiri, soalnya…” ucap Taemin sambil menyentuh dadanya lembut, “Minho hyung masih berada disini ^^” ucapnya senang. Jonghyun pun menghela nafas lega.

“Hmm… Kau sudah besar sekarang. Jangan paksakan diri, ne?”

“Eung! Aku pulang dulu hyung! Bye~” ucap Taemin sambil berlalu dengan skuternya.

‘Minho hyung, gomapta atas segalanya… Aku akan terus belajar dari pengalaman. Oh ya, aku sudah menemukan nama untuk skuter ini. Bagaimana kalau… 2Min?’

THE END

Nah, selesai deh~

Gimana? Jelek, aneh, atau geje? Pasti tiga- tiganya kan =,=

Tapi gomapta yah udah nyempatin baca~

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

FF SooSun Couple: Because I Always Care Everything About You [Part. 2]

Annyeong chingu! Nah, ini dia terusan FF nya~

Happy reading ^^d

\(^.^)/

Saat ini Sunny sedang terkulai lemas di halaman belakang. Dia tak peduli lagi dengan keributan yang dibuat Taemin yang kancing kemejanya dilepaskan satu- satu oleh Minho, tak peduli dengan Sulli yang memamerkan foto stikernya dengan Amber, tak peduli dengan Kyuhyun dan Sungmin yang tak pulang- pulang, bahkan dia tak peduli dengan suara perutnya. Dia juga tak peduli kalau appa dan ummanya akan menetap di Los Angeles selama 6 tahun terakhir ini. Satu- satunya yang ada di pikirannya saat ini adalah Sooyoung. Sementara itu, di halaman belakang…

“Hyung, jangan buka kemejaku :O” ucap Taemin polos sambil memegang tangan Minho pelan.

“Kau ini, minta dilepaskan dengan wajah datar begitu. Biarkan aku melepaskannya!” ucap Minho tanpa memedulikan ucapan Taemin, “Tuh kan, kamu nggak pakai pakaian dalammu lagi!”

“Ah~ Aku lupa, hyung :O”

Minho hanya menggeleng sambil tersenyum. Kemudian ia mengancingkan kembali kemeja Taemin.

“Kau ini, jangan lupa pakai dong! Kemejamu itu seperti transparan! Menggoda orang saja kau ini! Kalau Jjong lihat, habislah kau ==” gerutu Minho.

“Dia kan pacarku, hyung :O” ucap Taemin polos.

“Aigoo… Taemin!” bentak Minho. Tiba- tiba Sulli datang.

“Ah, Sulli, mianhae, aku tak bermaksud melakukan yang aneh aneh pada Taemin… Jangan bilang sama Sunny noona yah…” ucap Minho memelas.

“Aniyo, oppa. Aku bukan datang dengan tujuan itu. Nih, aku mau nunjukin foto stikerku dengan Amber eonnie. Gimana? Mesra kan?” ucap Sulli senang. Minho dan Taemin hany melihatnya dengan takjub.

“Waah… Rillakuma ini manis sekali… Noona foto dimana? Taemin juga mau foto dengan Jonghyun hyung!” ucap Taemin semangat.

“Di dekat Hyundai Department Store itu loh… Namanya ‘Doll Photo Box’. Di depannya ada badut Mr. Panda.”

“Waaaaaaaah~ Pasti keren yah XD” teriak Taemin senang.

“Hmmm… Bagus sih O.O” gumam Minho, “Eh, tapi Sunny noona mana yah? Biasanya kan kalau Tetem heboh, dia langsung datang…”

“Iya juga yah, oppa. Tadi sih Sulli lihat, Sunny eonnie lagi bengong sendiri :O” jawab Sulli.

“Apa Sunny noona sakit yah? Taemin jadi khawatir :O” sela Taemin dengan wajah polos.

“Mollayo, Taemin. Yuk kita lihat Sunny eonnie,” ucap Sulli seraya memegang tangan Taemin.

“Noona, Minho hyung gimana?” tanya Taemin.

“Gimana yah… Nggak usah ikut deh, tunggu disini aja :O”

“Hmm… Arraseyo, tunggu sebentar ya hyung! ;)” ucap Taemin sambil ber wink pada Minho yang wajahnya memerah, kemudian Taemin pun berlari masuk ke dalam bersama Sulli.

Sunny POV

Aigoo… Ada apa ini… Kenapa aku selalu kepikiran Sooyoung yah? Aduuh… Aku jadi bingung. Huft, ini semua gara- gara perkataannya tadi sih ==

Jujur saja, aku agak merasa gugup saat dia mengatakan hal seperti itu padaku. Tapi entah kenapa, aku merasa agak senang dan lega atas perkataannya itu. Ah, apa yang aku pikirkan! Jangan gila, Sunny! XO

Aku pun berpindah tempat duduk, dari halaman belakang, aku masuk ke dalam rumah dan menghempaskan diri di sofa di ruang TV. Kunyalakan TV untuk melihat acara yang membuatku dapat melupakan Sooyoung. Sesaat aku bisa membuat pikiran- pikiran tentang Sooyoung sirna. Tapi saat itu aku melihat sebuah acara kartun komedi kesukaan Sooyoung, Larva.

‘Hmm… Apa sekarang Sooyoung si Larva kuning sedang menonton acara ini juga yah… ‘

Aduuh! Lagi- lagi aku kepikiran Sooyoung! Iih! Eottokhe hajyeoo~ >.<

Mwo? Sulli dan Taemin datang? Ada apa ini? Apa mereka mau minta uang jajan lagi?

“Eonnie, waeyo? Kok dari tadi bengong saja?” tanya Sulli padaku.

“Ne, noona. Noona sakit yah? Kalau noona sakit, bilang yah… Taemin akan telepon Sungmin hyung dan appa agar mereka cepat pulang :(“ ucap Taemin dengan wajah polosnya.

Aigoo… Rupanya sikapku ini membuat seisi rumah khawatir, maaf saengi ku tersayang… Aku tak seperti Sunny yang biasanya yah…

“Ah, aniyo Sulli, Taemin… Aku nggak apa- apa kok… Hanya sedikit capek saja :D”

“Bener nih, eonnie?” tanya Sulli memastikan.

“Tenang saja noona, nanti noona istirahat saja, biar Taemin yang masak makan malam, ne?” ucap Taemin sambil tersenyum polos.

Aigoo… Betapa baiknya saeng ku ini :’)

“Arraseyo, gomawo, saengi..” ucapku sambil memeluk Sulli dan Taemin bergantian. Mereka hanya mengangguk senang.

“Wah, noona nonton Larva yah… Judulnya apa nih?” ucap Taemin sambil duduk di lantai.

“Judulnya… Apa yah… Oh, ya! Chicken!”

Kami pun menonton bersama, sedangkan Sulli harus ikut ekskul ballet. Tiba- tiba HP ku berdering. Begitu kulihat layarnya, rupanya SMS dari Hyoyeon.

Annyeong Sunny Bunny! Sedang apa? Kuharap kau tidak sedang berkelahi dengan Sooyoung XD

Agak kecewa. Yah, biasanya sih aku bahagia mendapat SMS dari Hyoyeon. Tapi kali ini… Kenapa… Aku menginginkan SMS ini adalah dari seorang Choi Sooyoung.

Annyeong Hyorengi. Aku tidak sedang berkelahi dengan Sooyoung kok ^^

Sekarang aku sedang nonton kartun dengan Taemin, saeng ku. Hyorengi sendiri sedang apa? :D

Tak lama kemudian datang lagi balasan SMS dari Hyoyeon.

Hehehe… Aku baru selesai latihan basket. Capek sekali, tapi menyenangkan :D Kau suka basket? :D

Oh ya, besok kamu mau datang ke pesta ulangtahunku nggak? Jam 17.00 sampai jam 21.00. Memang acara nya malam sih, tapi ini Girls Party. No boys, no problem, ne?

Pestanya dirumahku. Kalau kau bisa, aku menunggumu besok ^^

Ajak Sooyoung juga yah? Kalau bisa ajak saeng mu, Sulli dan yeojya chingunya, Amber.

Arraseyo?

Ultah Hyoyeon? Ah, iya! Kenapa aku bisa melupakan hari spesial Hyoyeon! Tentu saja aku akan datang! Ini kesempatan agar bisa mendekatkan diriku pada Hyoyeon. Tapi, aku merasa… Nggak baik mengajak Sooyoung kalau tujuanku kesana adalah untuk pedekate. Loh, kok aku jadi GR an sama Sooyoung yah? O.oa

Hmm… Aku nggak suka basket. Melelahkan banget. Lebih baik menjadi supporter saja deh… Aku kan’ lemah olahraga :’(

Ne, tentu saja aku mau. Aku akan datang besok, dengan Sooyoung. Sulli dan Amber juga akan kuajak ^^

“Noona, noona mau ke pesta ulangtahun Hyoyeon noona yah?” ucap Taemin yang sedari tadi melirik layar HP LG Cookie Pink milikku.

“Ne, besok Taemin jaga rumah, ne?” ucapku.

“Aniyo… Taemin ingin ikut noona. Boleh yaa?” rengek Taemin.

“Ani. Ini pesta untuk para yeojya!”

“Tapi Taemin ingin ikut~”

“ANI!”

“POKOKNYA TAEMIN MAU IKUT! LIHAT SAJA BESOK! HUH!” ucap Taemin sambil mematikan TV dan beranjak pergi.

“Ya! Taemin! Kenapa kau matikan TV nya? Ya! Dasar bandel!”

Taemin hanya berlari dan masuk ke kamarnya. Aku hanya bisa menggeleng. Sebenarnya dia itu anak baik dan polos. Tapi keras kepalanya, ampuuun~

Lalu aku menerima balasan dari Hyoyeon lagi.

Hahaha… Kamu ini, masih saja seperti dulu. Arraseyo, kau harus datang besok yah!

Pastikan kau tampil sangat cantik besok, ne? Aku mau les dulu yah~

Bye ^^

Wah… Aku jadi merindukan Hyoyeon nih… Tapi aku masih bingung tentang Sooyoung…

Sunny POV End

The next day…

16.25 PM

“Nah, tinggal dikasih blush on, sudah! Eonnie kelihatan cantik banget! XD” ucap Sulli senang. Sunny pun melihat wajahnya di kaca dan…

Neomu yeppeo

“Waah… Sunny eonnie… Neomu yeppeo >.<d” ucap Amber sambil mengacungkan jempolnya pada Sunny.

“Hehehe… Jjinjja? Gomawo, Amber ^^”

“Cheonma, eonnie ^^”

“Nah, kita berangkat sekarang, eonnie?” tanya Sulli pada Sunny yang kemudian hanya mengangguk. Saat mereka bertiga keluar dari kamar Sunny, tiba- tiba mereka terbelalak melihat seorang yeojya berambut blonde yang rupanya adalah TAEMIN.

“Aah… Neomu yeppeo… Ini temanmu, Sulli?” tanya Amber pada Sulli.

“Aniyo, Amber eonnie… Itu Taemin…” ucap Sulli sambil terbengong, “Dan dia memakai bajuku…”

“Ya, Taemin! Kenapa kau berdandan seperti yeojya? Dengan pakaian seksi seperti itu pula!” omel Sunny pada Taemin.

“Taemin kan’ udah bilang kalau Taemin mau ikut ke pesta juga!” rengek Taemin.

“Ani, pokoknya nggak boleh. Yuk, Sulli, Amber!” ucap Sunny sambil berlalu, diikuti Sulli dan Amber. Taemin hanya cemberut dan berlari ke Sungmin.

“Hyuuung~ Taemin mau ikut ke pesta dengan Sunny noona~” rengek Taemin pada Sungmin yang sedang sibuk menyusun acara ulangtahun untuk seorang murid di TK Shinwa, tempatnya bekerja.

“Mwo? Pesta? Kenapa Taemin berdandan seperti yeojya? Pakai wig segala…” tanya Sungmin sambil mengelus kepala saengnya.

“Ini kan’ pesta kostum di rumah Hyoyeon noona… Ayolah, hyung… Antarkan aku~” rengek Taemin lagi sambil bergelayut di lengan Sungmin, membuat Sungmin kesulitan untuk menulis. Ia pun menghentikan pekerjaannya sebentar, lalu berbicara pada Taemin.

“Hyoyeon? Kim Hyoyeon teman Sunny, eoh?” tanya Sungmin pada Taemin yang kemudian hanya mengangguk.

“Hmm… Arraseyo, hyung ganti pakaian dulu yah ^^” ucap Sungmin sambil berlalu dan menuju ke kamar untuk berganti pakaian.

‘Yes!’ gumam Taemin dalam hati.

Di mobil…

“Sunny eonnie sudah bisa menyetir mobil?” tanya Amber pada Sunny yang sedang menyalakan mesin mobil.

“Ne, tentu saja. Eonnie sudah punya SIM kok, tenang saja ^^d” ucap Sunny sambil mengeluarkan selembar kartu SIM dari dalam dompet pink nya.

“Waah… Hebat dong ^^”

“Gomawo Amber ^^”

“Sunny eonnie, Sulli boleh dengarkan lagu?” tanya Sulli pada Sunny yang hanya mengangguk. Sulli pun memasukkan sebuah DVD Hot Summer ke dalam DVD Player di mobil. Lagu Hot Summer pun terlantun dalam mobil selama perjalanan mereka ke rumah Hyoyeon.

Sooyoung POV

“Hmmm… Baju yang mana yah, yang harus aku pakai… Yang putih, atau yang biru… Ah, yang pink juga bagus~”

Aduuh… Kenapa aku jadi bego begini? Sebenarnya yang diundang Hyoyeon kan’ Sunny, kenapa aku yang jadi bego mikirin apa yang harus aku pakai untuk hari ini yah… Apa aku mau tampil cantik di depan Sunny? Ah, percuma saja. Dia nggak akan mempedulikanku kok =3=

Tok… Tok… Tok…

Ah, ada yang mengetuk pintu kamarku… Kubukakan saja dulu ah, siapa tahu itu…

“Sooyoungie, sudah siap?” ucap seorang namja bernama Choi Siwon, oppaku satu- satunya.

“Aniyo, oppa. Umma dan appa masih belum pulang?”

“Ne, kayaknya hari ini mereka berdua lembur lagi.”

“Ooh… Oppa mau pergi juga yah?”

“Ne ^^”

“Oppa rapi banget. Jangan- jangan oppa mau nge date yah? :D”

“Ne, benar sekali ^^d”

“Waah… Hebat! Sama siapa?”

“Rahasia :P”

“Huuu… Oppa nggak seru nih :P” cibirku. Oppaku ini, kalau ada apa- apa pasti nggak mau sharing ke aku. Wonder what he thinks about me =3=

“Hehehe… Kamu juga mau nge date?” tanya Siwon oppa kemudian.

“Aniyo, aku hanya mau ke pesta ulangtahun teman :O”

“Kamu dijemput?”

“Ne :D”

“Udah minta jemput belum?”

“AH! LUPA!”

Aduuuh… Gimana nih… Aku lupa minta jemput sama Sunny. Aich! Sooyoung babo! Mana yah, HP ku? Aduuh~

Ah, ini dia! Dasar! Aduuh…

Segera kutekan tombol dan kutelepon Sunny.

“Annyeong?” terdengar suara manis dari seberang telepon. Ne, itulah Sunny, kyeopta yeojya yang aku sukai.

“Annyeong, Sunny. Bisa tolong jemput aku nggak?”

“Mwo? Kau ini, kok nggak bilang- bilang sih, babo! Arraseyo, aku putar balik. Kau tunggu di depan rumah yah! Jangan sampai telat!”

“Ne, gomawoyo ^^”

TUT!

Telepon pun ditutup. Lagi- lagi, aku dimarahi Sunny gara- gara kecerobohanku. Sebenarnya aku begitu sedih atas hal ini. Aku tahu aku memang tak pantas untuknya. Aku sudah kalah telak dengan Hyoyeon dalam urusan kegesitan, kepintaran, postur tubuh, bahkan wajah pun aku sudah kalah jauh dengan Hyoyeon. Aku tahu, Hyoyeon adalah saingan beratku dalam mendapatkan Sunny. Terlebih, Sunny lebih menyukai Hyoyeon. Ah… Rasanya aku ingin berteriak saja. Ah, apa ini… Pipiku basah…

Mwo? Aku menangis yah? Aduh… Kenapa aku harus menangis di saat seperti ini! Tegarlah Sooyoung! Kau memang tak pantas berharap, tapi kau lebih tak pantas menangis dalam keterpurukan seperti ini!

Oh ya, aku harus menunggu di pagar depan rumah. Nanti Sunny repot lagi mencariku. Segera ku bersihkan wajahku dari air mata, kembali tersenyum dan mengambil gaun pink pastelku untuk dikenakan malam ini. Aku pun segera berlari menuruni tangga dan berpamitan pada oppaku. Kemudian aku berjalan menyusuri halaman depan rumah untuk menunggu di depan pagar rumahku yang besar dan tinggi.

Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil merah ruby yang berkilauan. Dari balik pintu kemudi, muncullah seorang yeojya manis dan cantik yang mengenakan gaun pink pastel yang sama denganku, dan memakai bando pita yang sangat lucu.

Itu Sunny.

Dia benar- benar sangat cantik hari ini.

“Annyeong Sooyoung! Sudah lama menunggu?” teriaknya dari kejauhan. Aku pun membalas teriakannya.

“Aniyo, aku baru saja siap! ^^” teriakku sambil setengah berlari.

“Sooyoung, jangan lari! Nanti kau kepeleset lagi!” teriaknya dengan muka sebal yang dipadukan dengan aegyonya. Sungguh sangat memesona.

Sooyoung POV End

Sunny POV

Sooyoung dengan gaun pink pastel dan high heels? Tentu saja terlihat sangat manis. Tapi… Mungkin aksesoris rambutnya kurang. Oh ya, aku punya tiara pink di dalam tas tanganku.

“Ya! Jangan lari- lari!” teriakku pada Sooyoung yang saat ini sedang berlari dengan terburu- buru, “Santai saja!”

“Ne, Sunny! ^^” ucapnya. Haduh… Biarpun ceroboh, aku masih saja tak bisa memungkiri bahwa tingkahnya itu sangat manis. Ia pun datang dan berdiri di hadapanku.

“Wah, Sunny… Hari ini kau cantik sekali…” ucapnya malu- malu.

“Gomawo, kau juga cantik…” balasku. Kulihat dia tersipu malu dan wajahnya memerah. Neomu kyeopta XD

Sunny POV End

Author POV

“Hm… Sooyoung, sepertinya aksesoris rambutmu kurang. Tunggu sebentar yah,” ucap Sunny sambil mengeluarkan sebuah tiara pink dari dalam tasnya, kemudian ia menyematkannya di rambut Sooyoung, “Nah, kau tampak sangat cantik sekarang :D”

“Ah… Gomawo ^^” ucap Soooyoung malu- malu.

“Arraseyo, ayo masuk. Hari ini jangan jatuh lagi yah?”

“Ne, aku sudah pakai contact lens ^^d”

Sunny dan Sooyoung pun masuk ke dalam mobil. Sunny duduk di bangku kemudi, sementara Sooyoung duduk di bangku sebelah kemudi.

“Annyeong, Sooyoung eonnie ^^” ucap Sulli dan Amber bersamaan.

“Annyeong, Sulli, Amber. Kalian ikut juga?” tanya Sooyoung pada mereka.

“Ne, eonnie. Wah, hari ini Sooyoung eonnie tampak sangat cantik :D” puji Amber.

“Hehehe… Gomawo (^^)7”

At party…

“Wah, disini ramai sekali yah…” ucap Sooyoung.

“Ne, ayo kita cari Hyorengi,” ucap Sunny sambil menarik tangan Sooyoung. Sulli dan Amber hanya bergandengan tangan dibelakang mereka. Tak lama kemudian mereka menemukan Hyoyeon dengan mini dress hijaunya.

“Hyorengi! Saengil chukkahamnida!” ucap Sunny sambil memeluk Hyoyeon. Sooyoung hanya terdiam.

“Gomawo, Sunny bunny ^^”

“Saengil chukkahamnida, Hyoyeon :)” ucap Sooyoung sambil menjabat tangan Hyoyeon.

“Gomawo, Sooyoung ^^”

“Saengil chukkahamnida, eonnie :D” ucap Sulli dan Amber bersamaan, lalu menjabat tangan Hyoyeon bergantian.

“Gomawo, Sulli. Gomawo, Amber :3”

“Cheonmaneyo :D”

“Hyoyeon, ini hadiah untukmu,” ucap Sunny senang sambil menyerahkan sebuah kotak berbungkus kado warna hijau.

“Waah… Gomawo, Sunny bunny,” ucap Hyoyeon sambil merangkul Sunny.

“Ini juga untukmu,” ucap Sooyoung datar sambil menyerahkan sebuah kotak yang berbungkus warna hijau juga.

“Waah… Gomawo… Kalian berdua kompakan yah, bungkus kadonya sama- sama hijau :D” ledek Hyoyeon. Sunny dan Sooyoung hanya diam. Tiba- tiba seorang yeojya bergaun hitam datang dan memeluk Hyoyeon dari belakang.

“Hyoyeon~ Saengil chukkahamnida, jagi,” ucap yeojya itu sambil mencium pipi Hyoyeon. Sunny tersentak kaget.

‘Mwo? Apa- apaan yeojya itu? Aku saja tak berani mencium pipi Hyorengi!’ gumamnya dalam hati.

“Hyo… Hyorengi… Itu siapa?” ucap Sunny dengan suara kecil.

“Oh iya yah, aku belum cerita padamu yah… Ini yeojya chingu ku, Nicole.”

Sunny POV

Mwo? Itu… Yeojya chingu Hyorengi… Nicole?

“Nicole imnida,” ucapnya ramah sambil membungkukkan badan.

“Sunny imnida…”

Air mata ini rasanya tak bisa ditahan lagi.

“Hyorengi, aku ke WC dulu yah…” ucapku.

“Hm? Ne Sunny ^^”

Aku pun berlari, tapi air mata ini telah menetes. Semua orang tak melihatnya. Tapi sialnya, Sooyoung mengejarku.

“Sunny, tunggu aku! Kyaaaaa~” teriak Sooyoung yang mengejarku, lalu tiba- tiba ia terjatuh.

Cih, dasar babo! Kenapa kau ikuti aku? Lebih baik kau pulang saja!

BRUK!

Aich! Siapa yeojya ini, kenapa ia menabrakku…

“Mianhae noona, eh, eonnie…” ucap yeojya itu pelan. Mwo? Apa katanya tadi? Noona? Segera kulihat wajah yeojya itu dan, dugaanku benar. Taemin. Yak, bagus. Kenapa dia harus ada di sini saat aku menangis? Pasti ini semua ulah Sungmin oppa. Tapi aku tak peduli. Kutabrak saja Taemin dan aku segera masuk ke WC yeoyja.

Sunny POV End

Sooyoung POV

Mwo? Apa tadi aku salah melihat? Ani, itu memang benar. Sunny menangis. Aku tahu, hatinya pasti hancur saat mendengar kalau Hyoyeon dan Nicole sudah jadian. Awalnya aku sempat lega, tapi aku merasa sangat berdosa karena melihat Sunny menangis. Sekarang yang harus kulakukan adalah mengejarnya dan menghiburnya. Tapi ia gesit sekali. Aku sampai terjatuh diantara kerumunan orang.

“Kyaaaaaaa~ Permisiiii~” teriakku pada segerombol orang yang menghalangi jalan. Lalu aku segera menghambur ke WC yeojya, dan benar saja. Sekarang Sunny sedang berada di depan wastafel, membasuh make up wajahnya yang sudah belepotan dengan air.

“Sun… Sunny…”

“Apa? Kau mau mengatai aku Gloomy lagi? Katakanlah sepuasmu!” bentak Sunny padaku.

“Aniyo, Sunny… Aku hanya…”

“Hanya apa?!” bentaknya lagi, “Kau hanya menyukai semua ini kan? Kamu menyukai jika aku selalu bersedih gara- gara Hyoyeon, lalu kau akan meruntuhkanku pelan- pelan dan merebut Hyoyeon dariku! Itu kan maumu! Katakanlah!” kali ini suranya pecah. Air mata mulai mengalir lagi. Aku merasa tak berguna sebagai seseorang yang amat mencintainya. Gara- gara tingkahku yang aneh, dia malah salah paham.

“Sunny, maksudku bukan seperti itu…”

“Ooh, bukan yah! Atau ini maksudmu, kau akan memisahkanku dan Hyoyeon agar kau bisa menyita perhatian Hyoyeon padaku, kan?” kali ini suaranya terdengar mengecam.

“Ani, Sunny…”

“Ya sudah, pergi sana. Aku tak ingin melihatmu lagi!” ucap Sunny sambil mendekat padaku, kemudian berlalu. Tapi aku tak bisa menahan rasa ini lagi…

Sooyoung POV End

Author POV

Saat Sunny melalui Sooyoung, tiba- tiba Sooyoung menarik Sunny dan merengkuhnya lembut.

“Sunny- ah… Mianhamnida… Aku telah menyusahkanmu. Mungkin aku memang jelek dan aneh, dan aku memang tak sesempurna Hyoyeon. Tapi aku tak akan sejahat itu padamu. Aku tak akan menghancurkan hatimu hingga berpuing- puing. Aku tak pernah menginginkan air mata pilu keluar dari mata indahmu. Aku hanya mencintaimu, itu saja…” air mata Sooyoung menetes, ia mulai terisak- isak. Sunny hanya diam tak bergeming.

“Aku… Aku… Hanya menginginkan1 hal… Aku tahu kalau aku memang tak pantas jadi yeojya chingu dari yeojya semanis kamu, tapi tolonglah… Anggaplah aku sebagai seseorang… Seorang teman yang selalu ada di saat kau susah, dan seorang teman yang selalu ada di saat kau butuh pertolongan, dan kalau kautak menginginkannya, kau tidak perlu menyeret diriku untuk menikmati kebahagiaanmu… Hiks… Hiks…” lanjut Sooyoung sambil tetap memeluk Sunny.

“Jadi… Begitu yah…” ucap Sunny. Tiba- tiba Sunny mengangkat tangannya ke atas. Sooyoung tahu, mungkin perbuatan lancangnya ini akan diganjar tamparan atau ditinggalkan seumur hidup oleh Sunny. Tapi dugaannya salah. Sunny malah meletakkan tangannya di bahu Sooyoung. Lalu Sunny mulai berbicara.

“Mianhae, Sooyoung- ah… Huwaaaaaaa….” tangis Sunny, “Mianhae karena aku selalu jahat padamu… Maafkan aku Sooyoung- ah… Maafkan aku…”

Sooyoung merasa sangat kaget. Dia mengira Sunny akan marah padanya, tapi malah kebalikannya, Sunny tidak marah. Bahkan ia membalas pelukan Sooyoung. Sooyoung pun mengelus kepala Sunny dengan lembut. Sooyoung pun mulai melepas pelukannya sedikit demi sedikit.

“Sooyoung- ah…”

“Hm? Wae, Sunny?”

“Aku… Aku sudah memikirkan hal ini sejak kemarin. Sekarang aku sadar… Bahwa… Aku suka padamu… Maukah kamu jadi… Yeojya chinguku?”

Sooyoung tersentak kaget. Ia tak mempercayai apa yang dikatakan Sunny barusan.

“Sunny, apa aku tak salah dengar? Kau bilang apa tadi?” tanya Sooyoung.

“Sooyoung, maukah kau jadi yeojya chinguku?” ucap Sunny sambil tersenyum. Tiba- tiba Sooyoung memeluk tubuh kecil Sunny erat- erat.

“Ah… Sooyoung… O///O”

“Ne! Tentu saja! Tentu saja aku mau menjadi pacar Sunny! Aku berjanji akan selalu menjaga Sunny selamanya!” ucap Sooyoung senang. Sooyoung pun melepas pelukannya. Lalu Sooyoung mencium dahi Sunny dan membersihkan wajah Sunny dengan tissue.

“Sooyoung~!” teriak Sunny sambil memukul Sooyoung pelan.

“Aww… Kenapa kau memukulku?” tanya Sooyoung bingung.

“Aku kan’ malu >///<”

“Hehehe… Mianhae (^^)7”

“Janji yah, kita akan bersama selamanya. Arraseyo?” ucap Sunny sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Sooyoung pun tersenyum dan melingkarkan jari telunjuknya di jari telunjuk Sunny.

“Janji! Eh, tapi… Kenapa kau selalu marah padaku saat aku melakukan kesalahan sedikiit saja O.O” ucap Sooyoung bingung. Sunny hanya tertawa kecil.

“Itu karena… Aku selalu memperhatikan apapun yang kau lakukan, Soo! ^^” ucap Sunny sambil tertawa riang.

THE END

First SooSun FF COMPLETED! *author nari2 gaje- abaikan*

Mianhae kalau banyak kesalahan, baik itu miss typo, ending nggak jelas, atau apalah…

Mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa dalam karya saya yang berikutnya :D

FF SooSun Couple: Because I Always Care Everything About You [Part. 1]

Annyeong chingudeul! Kali ini adalah FF SooSun Couple ber genre yuri, dan tentu saja ceritanya masih normal2 aja… Nggak yadong :D

Mohon kritik dan sarannya yah. Kalo bisa jangan jadi silent reader, soalnya menurut saya, silent reader itu kurang menghargai karya author tersebut. Tapi kalau masih aja ada yang jadi silent reader, tolong JANGAN NGEBASH. Jadi, kalau nggak suka FF yuri atau FF SooSun atau nggak suka sama authornya, tolong jangan dibaca, oke? ^^d

Arraseyo, Happy Reading, chingu~ (^.^)/ *wave

\(^.^)/

“Sunny! Tunggu akuuuuuu~” teriak seorang yeojya sambil berlari.

“Soo! Ayo dong, jangan lama- lama. Aah, kenapa tadi aku mengajak dia yah =3=”

Lee Sunkyu adalah seorang siswi Baehwa Girls High School. Sedangkan gadis tinggi semampai yang sedang berlari mengikutinya itu adalah Choi Sooyoung, murid pindahan dari Jeongshin Girls High School, yang sekarang menjadi teman sebangku Sunny. Hari ini sebenarnya Sunny dan sahabatnya yang bersekolah di sekolah Sooyoung dulu, Hyoyeon yang sangat disayanginya akan mengajaknya pergi jalan- jalan ke Lotte Department Store, tapi Hyoyeon tak bisa datang karena urusan keluarga. Jadilah ia mengajak Sooyoung, teman barunya yang cerobohnya bukan kepalang.

BRUAK!

Sunny sudah malas melihat ke belakang. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang dijatuhkan atau ditabrak oleh Sooyoung. Dan benar saja, saat ia berpaling, ia sudah menemukan Sooyoung sedang membereskan manekin yang bertaburan sambil dimarahi oleh pemilik butik. Sunny yang tak bisa tinggal diam pun menghampiri Sooyoung.

“Hei, kau ini, jalan lihat- lihat dong… Sudahlah badanmu tinggi, nggak lihat- lihat. Baru pertama kali jalan ke sini yah! Dasar!” omel ahjumma itu.

“Mianhamnida…” ucap Sooyoung pelan dengan wajah yang memelas. Tapi ahjumma itu malah semakin marah karena posisi Sooyoung yang sedang meminta maaf itu malah membelakanginya.

“Hei! Minta maaf yang benar dong!” teriak ahjumma itu sambil menggaruk- garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Wah, kukira yang marah manekin ini… Mianhamnida, ahjumma,” ucap Sooyoung tanpa rasa bersalah.  Sunny yang datang tergopoh- gopoh langsung menarik tangan Sooyoung sambil meminta maaf.

“Ah, ahjumma… Mianhamnida ^^” ucap Sunny seraya pergi sambil menarik lengan Sooyoung.

Mereka pun berjalan- jalan kembali, tapi Sunny sama sekali tak bersuara.

“Sunny, kenapa kau murung?” ucap Sooyoung dengan nada santai.

“Kenapa? Ini semua gara- gara kamu, babooooo~” ucap Sunny sambil menjitak dahi Sooyoung.

“Aaaaaw! Neomu aphayo, Sunny!” teriak Sooyoung.

“Aich!” ucap Sunny sambil ngeloyor ke sebuah restoran donat dan es krim. Ia duduk di meja paling pojok, yang tidak terlihat oleh siapa- siapa dari luar. Sooyoung yang mengikutinya hanya bisa tercengang.

“Waaah… Tempat ini tersembunyi yah… Indah sekali…” ucap Sooyoung tekagum- kagum.

“Kau ini, dasar kampungan. Ayo cepat duduk sini! Aku akan panggilkan pelayan!” ucap Sunny ketus.

Setelah pelayan datang, mereka memesan makanan dan suasana menjadi hening kembali. Tiba- tiba HP Sunny berbunyi. SMS dari Hyoyeon.

Sunny bunny, gimana acara jalan- jalannya dengan Sooyoung? Apa berjalan lancar? :)

 Sunny hanya menghela nafas sambil mengetikkan balasan untuk Hyoyeon.

Sangat memuakkan, Hyorengi! Dia terlihat sangat kampungan. Wish you were here :’(

 Tak lama kemudian balasan dari Hyoyeon sampai ke HP Sunny.

Hahaha… Dia orangnya memang seperti itu. Mianhae hari ini aku tak bisa menemanimu, Sunny bunny. Tapi jangan marah padaku yah, akan kubelikan sesuatu untukmu. Saranghae :D

 Wajah Sunny memerah. Dia senang sekali akan kata- kata manis teman masa kecilnya, Kim Hyoyeon yang amat sangat disukainya sejak TK. Hyoyeon lah yang membuatnya menjadi anak kuat seperti sekarang, bukan anak cengeng seperti waktu TK dulu. Sekolah yang berbeda dan jarak yang cukup jauh antara ia dan Hyoyeon pun rasanya tak ada pengaruhnya pada rasa cinta Sunny yang kian hari kian bertambah. Ia pun mengetik balasan untuk Hyoyeon sambil tertawa- tawa.

Hihihi… Aku tak akan marah, asalkan minggu depan kau berjanji untuk menemaniku, oke? Saranghae too, Hyorengi :D

Tiba- tiba waiter yang datang membuyarkan semua imajinasi Sunny tentang Hyoyeon.

“Ini, eonnie… Silakan…” ucap waitress berbadan kecil itu sambil menunduk dengan gugup.

“Kamsahamnida :D”

“Cheonmaneyo,” ucap waitress yang kemudian meninggalkan Sunny dan Sooyoung.

“Sepertinya aku kenal waiter itu… Tapi dimana yah…’ gumam Sunny dalam hati.

“Sunny, kau suka dengan Hyoyeon yah?” tanya Sooyoung yang akhirnya membuyarkan pikiran Sunny.

“Memangnya kenapa kalau suka? Tak boleh?” ucap Sunny ketus.

“Mwo? Aniyo… Aku hanya…”

“Hanya apa?”

“Hanya bertanya saja…” ucap Sooyoung pelan. Sunny menghela nafas. Ia bingung, apa dia harus menceritakan ini pada Sooyoung? Sooyoung saja, tak apa kan? Curhat dengan abangnya sendiri, Sungmin, bukannya tak cukup. Tapi dia kan’ namja, mana ngerti. Kalaupun mengerti, palingan di pikirannya hanya ada Kyuhyun, namja kesayangan Sungmin. Adik bungsunya, Taemin malahan sudah punya namja chingu yang bernama Jonghyun. Sedangkan kembaran Taemin, Sulli… Ngerti banget. Tapi dia mesra banget sama yeojya nya, Amber. Tiap hari aja sampai nggak ada waktu buat curhat- curhatan. Duuuh… Kalau begini, Sunny bisa stress melihat semua saudaranya mesra sama pacar mereka. Hanya dia yang nggak jelas jalan ceritanya. Kyaaaa~

Akhirnya Sunny pun memberanikan dirinya untuk bercerita pada Sooyoung.

“Soo, sebenarnya, aku suka sama Hyoyeon…” ucap Sunny sedang malu- malu.

“Mwo? Kau suka Hyo?”

“Ne, karena dia cantik, manis, baik, pintar dan kuat. Aku sukaaa sekali >.<” ucap Sunny. Wajahnya pun memerah tak karuan. Sooyoung terus saja menyimak cerita Sunny yang telah menjalar kemana- mana sambil melahap donat dengan rakus.

“Sunny…”

“Hm?”

“Aku tambah donatnya yah?”

“Ne,” ucap Sunny sambil melengos. Dia kira, Sooyoung mau memberikan pendapat tentang ceritanya itu. Rupanya hanya mau tambah donat. Sooyoung pun segera memanggil waiter bertubuh kecil yang tadi mengantarkan pesanan pada mereka.

“Hei! Waitress! Pesan donatnya 1 lagi untuk meja nomor 9 yah!” teriak Sooyoung.

“Oke,” ucap waitress itu dengan suara pelan.

‘Mwo? Suara ini? Kayaknya aku memang kenal…’ gumam Sunny dalam hati.

“Sunny, oi! Sunny~” ucap Sooyoung sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Sunny, “Kau memikirkan Hyoyeon yah?” tanya Sooyoung lagi dengan wajah manis.

“Gyaaa! Kenapa wajahmu sedekat itu!” teriak Sunny histeris. Wajahnya memerah.

“Hahaha… Sunny… Sunny,” ucap Sooyoung sambil tertawa kecil. Tiba- tiba waitress bertopi dan bertubuh kecil itu datang. Sunny dengan frontal menarik topi waitress itu dan dia kaget begitu tahu kalau itu adalah SULLI, adiknya!

“KYAAAAA! SULLI! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI HAH!” teriak Sunny.

“Mi… Mianhae, eonnie…” ucap yeojya yang ternyata adalah Sulli, adik Sunny.

“Kamu nggak boleh kerja seperti ini! Fokuslah dengan sekolahmu! Kau kan masih SMP! Berhenti kerja sekarang juga!”

“Aniyo!”

“Wae? Kalau uang kan’ tinggal minta dengan Sungmin oppa!”

“Aku mau membelikan sesuatu untuk hadiah ultah Amber eonnie!” teriak Sulli dengan mata berkaca- kaca, “Memangnya eonnie mengerti?” ucapnya lagi seraya mengelap air matanya dengan nafas yang tersendat- sendat.

Sunny seperti tertusuk oleh kata- kata saengnya sendiri.

‘Memangnya eonnie mengerti?’

Kata- kata itu terus menghantuinya. Ia tahu, mungkin diantara 4 bersaudara, hanya Sunny yang tak bisa mengutarakan perasaan secara jujur. Merasa bersalah, ia pun berdiri dan menepuk pundak Sulli yang sedang menangis.

“Sulli, sudahlah… Tak apa- apa… Eonnie tak akan bilang pada appa dan umma. Tapi kau harus tetap bisa menyeimbangkan antara kerja dan sekolah yah?” ucap Sunny seraya membujuk Sulli yang terus- terusan menangis. Tiba- tiba Amber datang ke arah mereka.

“Ada apa ini? Mwo? Kok Sulli bekerja disini? Kok dia nangis? Sulli… Waeyo?” ucap Amber sambil membelai kepala Sulli pelan.

“Eonnie… Salahkah aku bekerja disini?” ucap Sulli dengan tatapan aegyo nya.

“Memangnya kenapa kau bekerja disini, jagi?” Amber balik bertanya sambil memainkan rambut harum dan lembut milik Sulli.

“Aniyo… Aku hanya ingin dapat uang untuk membelikan eonnie sebuah hoodie yang kita lihat di Lotte kemarin…”

“Mwo? Jjinjja? Ah, Sulli ini, jangan repot- repot (^^)7”

Mereka pun berbincang berdua, membuat Sunny iri melihatnya. Sooyoung hanya terdiam melihatnya. Tak lama kemudian, mereka pun beranjak dari cafe itu dan berjalan pulang ke rumah Sunny. Di perjalanan, Sunny dan Sooyoung hanya diam. Sooyoung sempat melihat ekspresi wajah Sunny yang murung.

“Sunny, jangan murung dong! Nanti namamu berubah jadi Gloomy :D” ucap Sooyoung sambil tertawa.

“Candaanmu itu nggak ada lucunya sama sekali, babo!” bentak Sunny tanpa melihat ke arah Sooyoung yang kini telah jatuh terpeleset kulit pisang.

“Kalau itu, lucu nggak?” ucap Sooyoung dengan tampang polos.

“Kau ini, kok sering banget jatuh sih ==” ucap Sunny sambil mengulurkan tangannya ke arah Sooyoung yang masih terduduk di aspal.

“Hehehe… Aku juga tak tahu :D”

“Apa apaan jawaban itu? ==”

“Beneran, aku nggak tahu ^^d Tapi, sebanyak apapun kita jatuh, kita harus tetap bangkit kan?”

“Mwo? Kau mau menasihatiku yah?”

“Eh, aniyo… Aku kan’ hanya bilang saja O.O”

Sunny hanya menggeleng- gelengkan kepalanya sendiri dan meninggalkan Sooyoung dibelakang.

The next day, at school…

“Pagi Sunny!” ucap Seohyun dengan wajah bahagia

“Pagi, Seo…” ucap Sunny lemas.

“Mwo? Kau kenapa? Kok pagi- pagi udah kusut?”

“Jelaslah aku kusut! Kemarin aku nggak jalan- jalan ke Lotte sama Hyorengi :P”

“Jadi sama siapa dong?”

“Tuh, sama si Ratu Kepleset ==” ucap Sunny dingin sambil menunjuk Sooyoung yang sedang ketiduran di bangkunya. Seohyun hanya menatap dengan tatapan iba. Sunny pun balas menatap Seohyun dengan tatapan suram. Tiba- tiba Sunny mengalihkan pandangannya pada bando keroro yang dikenakan Seohyun.

“Wah… Bandomu lucu :D”

“Ne, YoonA yang membelikannya :D”

“Mwo? YoonA?”

“Ne, kemarin kita jadian loh XD”

Sunny pun jadi semakin iri dan semakin merasa terjatuh, jatuh yang terasa lebih sakit dari jatuhnya si Sooyoung kemarin. Setelah mengucapkan selamat pada Seohyun, ia lalu duduk di bangkunya, di sebelah Sooyoung dengan wajah muram.

“Hai, Sunny. Apa kabar?” ucap Sooyoung sambil tersenyum senang.

“Hm? Kabar buruk… Kau liuran tuh ==”

“Mwo? Jjinjja? Hehehe…”

“Liuran kok malah ketawa sih… Babo,” ucap Sunny seraya mengambil selembar tisu dari dalam saku seragamnya, kemudian menggunakannya untuk menyeka liur Sooyoung. Wajah Sooyoung pun memerah. Sunny yang menyadari keadaan pun langsung menghetikan perbuatannya.

“Ya! Kenapa wajahmu memerah?” ucap Sunny pada Sooyoung dengan setengah membentak.

“Hm… Kenapa? Karena kamu manis, Sunny ^^d” ucap Sooyoung dengan lugu.

“M… Mwo?! Apa maksudmu, babo?” ucap Sunny, wajahnya memerah.

“Hahaha… Wajah Sunny yang memerah memang nggak ada tandingannya :D”

“GYAAAA~ Shut up, babo!” ucap Sunny sambil memukul bahu Sooyoung yang hanya bisa meringis, kemudian dia terjatuh dari kursinya, membuat gempar 1 kelas.

“GYAAAAA~ Sooyoung! Gwenchanaeyo?” ucap Sunny sambil menepuk- nepuk pipi Sooyoung.

“Ne, gwenchana… Wah, Sunny manis sekali :D”

PLAK! Mendarat kembali 1 pukulan telak di pipi Sooyoung.

“Aiihhh~ Sakit, Sunny TT^TT”

“Makanya jangan bicara macam- macam. Siapa suruh kau mengomentari penampilanku! :P” ucap Sunny ketus. Tapi sebenarnya dia senang juga saat Sooyoung mengatakan bahwa dia manis.

‘Aigoo… Lee Sunkyu! Apa yang kau pikirkan! Siapa yang kamu sukai! Hyoyeon kan!’ gumam Sunny dalam hati. Tapi tentu saja hati kecilnya tak bisa berbohong, kalau ia memang senang.

Tiba- tiba seorang guru masuk. Nampaknya ia adalah seorang guru baru, karena dia belum pernah dilihat di seantero Baehwa Girls High Shcool, dan tentu saja yeppeo. Semua yang ada di kelas menatap dengan terpesona.

“Annyeong haseyo, saya guru baru disini. Hwang Mi Young imnida, mengajar bahasa inggis. Kalian bisa memanggilku Ibu Tifanny atau Ibu Fanny. Salam kenal ^^” ucap guru yang ternyata bernama Hwang Mi Young a.k.a Tifanny.

“Sunny, kenapa kau bengong?” tanya Sooyoung pada Sunny.

“Aigoo… Ibu Fany… Neomu yeppeo…” ucap Sunny dengan aegyonya.

“Cakepan Bu Fany atau Hyoyeon?” tanya Sooyoung lagi.

“Hmm… Bu Fany sama Hyo… Cakepan Hyo lah!” jawab Sunny, “Lagipula Hyo masih jauh lebih keren :P Kalau menurutmu?”

“Menurutku?” ucap Sooyoung bingung. Sunny hanya mengangguk.

“Hmm… Gimana yah… Nggak tahu, tapi pastinya sih cakepan Sunny dong! ;D” ucap Sooyoung sambil ber- wink. Tiba- tiba Sunny menjitak dahi Sooyoung yang hanya mengaduh kesakitan.

“Neo malyaa~! Jangan suka bicara aneh- aneh!” bentak Sunny.

“Aigoo… Aku serius, Sunny! Memang cakepan kamu!” bantah Sooyoung tak mau kalah.

“Arraseyo, terserah kamu lah!”

“Sunny, kau tahu kartun Larva?”

“Ya, tahu. Yang baru tayang di KBS yah?”

“Ne, aku suka banget. Film nya lucuuu banget. Aku biasanya jadi senang banget kalau nonton itu :D”

“Sampai ketawa terbahak- bahak?”

“Kadang- kadang malah sampai jatuh dari kursi ^^v”

“Babo :P”

“Nih, aku bawa laptop, ada film larva nya. Nonton yuk!”

“Terserah kamu lah.”

“Kamu suka nonton itu?”

“Ani, yang suka nonton itu sih, si Taemin, saengku yang paling kecil.”

“Ooh… Kelas berapa?”

“3 SMP.”

“Oh…”

Sooyoung pun mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasnya, kemudian menyalakannya.

“Ih, kok tombol B nya hilang sih?” ucap Sunny sambil menunjuk keyboard Sooyoung yang tuts nya sudah tak lengkap lagi.

“Hehehe, dulu aku lari- lari sambil bawa laptop, eh, laptopnya jatuh :D”

“Babo :P Itu wallpaper kamu gambar apa? Kok ada cacing?”

“Itu karakter kartun larva. Aku yang kuning, kamu yang merah :D”

“Ih, kok gitu sih! Yang merah jelek tahu!”

“Kamu mau jadi yang kuning?”

“Aniyo! Lebih jelek!”

“Kalau gitu kamu yang merah!”

“Terserahlah.”

“Arraseyo, kita nonton yang ini yah…”

“Ne.”

Mereka pun menonton film itu. Lalu mereka tertawa terbahak- bahak.

“Hahahahaha~” tawa Sunny.

“GYAHAHAHAHAAAAAHAAHAAAAAAAH~” tawa Sooyoung pun membahana, mengagetkan seisi kelas dan Bu Tiffany. Sooyoung tertawa terbahak- bahak lalu… BRUAAAAK!

Dia jatuh dari kursi.

“Ah! Sooyoung! Gwenchanaeyo?” ucap Sunny, “Sudah 2 kali kau jatuh dari kursi, tahu!”

“Hehehe… Gwenchana… ^^”

Tiba- tiba mereka mendengar seseorang berdehem. Tebak siapa yang melakukannya? Ya, Bu Tiffany.

“Kalian berdua, apa yang kalian lakukan saat Ibu menerangkan?” teriak Bu Tiffany sambil menunjuk ke arah Sunny dan Sooyoung.

“Aniyo…” ucap Sunny pelan.

“Kami nonton film Larva loh, Bu Fany. Lucu banget, sore ini ada di KBS kok! Ibu nonton yah!” ucap Sooyoung sambil mengacungkan jempolnya. Bu Tiffany hanya memasang tampang marah.

“Karena sudah mengacau di kelas, kalian harus menyapu koridor sekolah SEKARANG!”

Dan, JRENG… Tak lama kemudian mereka sudah ada di koridor, menyapu lantai. Sooyoung yang kelihatannya tak punya beban hanya cuek, menyapu kelas dengan tenang. Bahkan ia sempat menyanyikan lagu Gee SNSD sambil menari Kebalikan dari Sooyoung, Sunny malah cemberut.

“Loh, Sunny? Kok kamu cemberut melulu? Kamu sudah ganti nama jadi Gloomy yah? Haa? :D” ucap Sooyoung sambil tersenyum polos.

“Dasar! Ini semua gara- gara kamu, tau! Bu Fany juga, jadi guru kok garang banget sih!” gerutu Sunny sambil menyapu asal- asalan.

“Aigoo… Jadi ini semua gara- gara aku yah?”

“Ya iyalah, babo! Masa’ kamu baru nyadar juga!”

“Ooh… Mianhamnida, Sunny ^^” ucap Sooyoung sambil membungkuk ke arah Sunny.

“Aah… Sooyoung… Jangan terlalu formal juga dong ==”

“Hehehe… Habisnya aku nyusahin Sunny terus sih (^^)7”

“Ya! Siapa bilang!” bentak Sunny dengan wajah yang sedikit memerah.

“Habisnya, waktu jalan sama Sunny, aku suka dimarahin terus O.O”

Sunny terbengong. Iya juga, yah. Setiap Sooyoung melakukan satu kesalahan saja, Sunny pasti marah besar. Beda dengan saat Hyoyeon tak bisa melakukan satu hal dengannya, Sunny dengan mudah memaafkannya.

“Ya sudah deh, mianhae =,=” ucap Sunny lemas.

“Ne gwenchanaeyo. Lagipula, biasanya kalau seseorang sangat marah karena kita melakukan kesalahan meskipun hanya setitik, biasanya orang itu sayang pada kita. Jadi, kau menyayangiku yah Sunny? :D”

“Ya! Siapa bilang aku sayang padamu, babo!” ucap Sunny sambil mencoba memukul bahu Sooyoung. Tapi Sooyoung berlari dan Sunny tak bisa memukulnya. Sebenarnya percuma saja Sooyoung lari, karena saat berlari, ia menabrak dinding dan jatuh terbaring di lantai yang masih kotor. Sunny pun berlari ke arah Sooyoung.

“KYAAAAAAA~ Sooyoung! Gwenchanaeyo?” tanya Sunny dengan panik.

“Hehehe… Gwenchanaaaa~” ucap Sooyoung setengah meracau.

“KYAAAAAAA~ Dahimu berdarah! Aku antar ke UKS yah :O”

“Arraseyo… O.Ov”

Sunny POV

Aigoo… Ada apa ini… Jantungku tak bisa berhenti melompat- lompat. Ssh… Diamlah jantung babo! Aku tak bisa berkonsentrasi dengan jalan jadinya!nKenapa lagi si jangkung aneh ini? Kok dia suka menabrak- nabrak sih! Kayak tronton aja ==”Tapi, biarpun dia mirip tronton, kadang aku merasakan perasaan yang berbeda. Tak pernah kurasakan. Perasaan ini malah lebih hebat dari perasaanku saat berdekatan dengan Hyoyeon. Ah, lupakan, Sunny! Memangnya siapa yang kau bicarakan ini! Bukan seseorang yang spesial kan? Arraseyo, fokus!

Sunny POV End

Author POV

Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun sampai di UKS. Disana Jessica eonnie, pengawas UKS sedang duduk- duduk santai sendirian.

“Annyeong haseyo, Sica eonnie ^^” ucap Sunny dan Sooyoung bersamaan.

“Annyeong haseyo… Eh! Ya, Sooyoung! Dahimu kenapa?” tanya Jessica panik.

“Hahahaha… Hanya terbentur dinding kok, eonnie (^^)7” ucap Sooyoung santai.

“Aigoo… Ini harus cepat diobati… Ayo sini duduk. Eonnie akan membersihkan lukanya dulu,” ucap Jessica sambil merendam beberapa gumpalan kapas di air es.

“Eonnie, Yul eonnie mana?” tanya Sunny.

“Ah, Yul eonnie sedang mempersiapkan diri untuk praktek di luar sekolah ^^” jawab Jessica.

“Yul eonnie itu dokter gigi yah? :D” tanya Sooyoung polos.

“Bukan, babo! Yul eonnie itu dokter spesialis kesehatan kandungan!” ucap Sunny ketus.

“Ooh… Begitu yah… Jadi nanti kalau Sica eonnie hamil, tak perlu ke dokter kandungan, soalnya udah ada Yul eonnie kan? :D”

“Ssssssst! Ya! Kau ini nggak sopan banget sih!” ucap Sunny sambil memukul bahu Sooyoung yang hanya mengaduh. Jessica hanya tertawa.

“Oh ya, Sica eonnie kapan menikah dengan Yul eonnie?” tanya Sunny.

“Ah, soal itu… Masih harus dibicarakan dengan kedua belah pihak keluarga ^//^” jawab Jessica malu- malu.

“Ooh… Begitu yah… Ribet banget yah…” sela Sooyoung. Jessica hanya mengiyakan.

“Kalau begitu, Sunny akan doakan supaya nanti pernikahan YulSic eonnie berjalan lancar ^^” ucap Sunny senang.

“Aku juga!” ucap Sooyoung tak mau ketinggalan.

“Waah… Gomawo semuanya ^^” ucap Jessica senang. Sunny dan Sooyoung hanya mengangguk.

“Arraseyo, sudah selesai. Lain kali jalannya hati- hati yah, Sooyoung ^^”

“Ne, Sica eonnie. Kamsahamnida :D”

“Cheonmaneyo :)”

Sunny dan Sooyoung pun keluar dari ruang UKS.

“Eh, Sunny! Yul eonnie beruntung banget yah!” ucap Sooyoung sambil mencolek bahu Sunny.

“Hm? Wae?”

“Iya dong, bisa punya yeojya chingu secantik Sica eonnie :D”

“Wae? Kau suka Sica eonnie? Kamu nggak akan ngedapetin yeojya yang udah mau menikah, Sooyoung~”

“Nggak kok, aku nggak suka Sica eonnie. Aku hanya bilang kalau dia cantik. Nanti aku juga mau punya istri yang cantik :D”

“Jjinjja?”

“Ne. Kalau karakter yeojya chingu favorit Sunny apa?” tanya Sooyoung pada Sunny yang kemudian wajahnya memerah.

“Mwo? Kenapa kau tanya- tanya hal seperti itu?” bentak Sunny.

“Ani, hanya mau tau saja…”

“Arraseyo, pokoknya harus baik dan bisa melindungiku. Kalau kamu?”

“Kalau aku… Hmmm… Manis, pendek, imut. Itu saja :D” ucap Sooyoung sambil berlari, “Ayo cepat, nanti ketahuan Bu Fany!”

“Oh, ne…” ucap Sunny, “Mwo? Manis, pendek, imut? Bukannya itu…”

AKU?

TBC

Fuahh… Akhirnya… FF SooSun yang pertama ^^

Ini FF TBC saya yang pertama, jadi mohon kritik dan sarannya yah, usahakan DON’T BE A SILENT READER, chingu ^^

Dan 1 lagi, disini NO BASHING, ok? Jadi kalau nggak suka, yah nggak usah baca ^^

 

Gomapta~ ^^

Sampai jumpa di FF SooSun chapter berikutnya :D